Dua bangunan di proyek pusat olahraga senilai Rp1,2 triliun di Hambalang, Sentul, Jawa Barat, dikabarkan ambruk. Tanah yang ada di lokasi itu juga dikabarkan amblas. Hingga kini belum ada pihak yang bisa dikonfirmasi.

Kabar itu membuat sejumlah wartawan mendatangi proyek pembangunan Pusat Pendidikan, Pelatihan, dan Sekolah Olahraga Nasional Kemenpora di Hambalang, Sentul, Minggu 27 Mei 2012.

Proyek itu terletak beberapa kilometer dari Sentul ke arah Babakan Madang. Atau tepatnya di Desa Hambalang, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pagar dari seng terlihat dipasang mengelilingi lahan proyek seluas 30 hektare itu.

Saat sejumlah wartawan berada di depan gerbang utama, langsung dihadang petugas keamanan. Saat dikonfirmasi, petugas keamanan yang menolak disebut namanya itu membantah ada bangunan yang ambruk.

“Tidak ada yang amblas. Hanya retak-retak doang,” kata si petugas. Penjaga keamanan ini melarang sejumlah wartawan masuk ke dalam areal proyek yang juga digarap PT Adhi Karya ini.

Menurut petugas tadi, besok Senin 28 Mei 2012 akan ada penjelasan dari juru bicara Adhi Karya. “Untuk informasi yang lebih jelas, Senin nanti ada penjelasan dari Humas,” kata dia.

Hingga kini, Sekretaris Perusahaan PT Adhi Karya, Kurnadi Gularso belum bisa dikonfirmasi. Pesan singkat dan telepon dari VIVAnews belum juga direspons. Staf Sekretaris Perusahaan menyebut konfirmasi itu hanya bisa dijawab oleh Kurnadi. “Kalau soal itu hanya Bapak Kurnadi yang bisa jawab,” kata dia.

Proyek Hambalang menjadi perhatian publik. Karena proyek raksasa itu kerap disebut mantan Bendahara Umum Demokrat M Nazaruddin. Bahkan Kamis 24 Mei lalu, Menpora Andi Mallarangeng diperiksa 10 jam oleh Komisi Pemberantasan Korupsi terkait proyek Hambalang.
Peneliti Indonesia Corruption Watch, Febridiansyah, menilai Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng bisa dimintai pertanggungjawaban atas kerugian negara akibat ambruknya dua gedung di area proyek Hambalang, Bogor, Jawa Barat. Bangunan power house (tempat pembangkit listrik) dan lapangan indoor itu runtuh sebagian karena tanahnya ambles belum lama ini.

“Jika kejadian itu ada unsur kesengajaan, akan memperkuat dugaan adanya korupsi,” kata Febri saat dihubungi, Minggu 27 Mei 2012. Ia menyarankan agar Komisi Pemberantasan Korupsi menelusuri alasan Menteri Andi berkeras membangun pusat olahraga di kawasan rawan longsor itu. “Ada alasan KPK untuk memeriksa Menteri Andi,” ujarnya.

sby juga pusing melihat ulah kader demokrat yang senantiasa menghancurkan nama baiknya termasuk semua kerabat keluarga besarnya…?

Menurut Febri, dugaan Menteri Andi lalai karena, sebelum proyek dimulai, sudah ada rekomendasi dari hasil penelitian yang menyatakan di tempat itu tidak layak didirikan bangunan. Namun, kenyataannya, kompleks pusat pelatihan dan pendidikan olahraga itu tetap dibangun.

Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault menyatakan sudah selayaknya Menteri Andi bertanggung jawab atas ambruknya bangunan di proyek Hambalang. Sebab, kata dia, para ahli geologi telah mengingatkan struktur tanah di kawasan proyek labil. Potensi gempa juga besar karena dikelilingi beberapa gunung berapi.

Rekomendasi itu, menurut Adhyaksa, sudah pula ia sampaikan ke Komite Olahraga Nasional Indonesia dan Kementerian Olahraga. “Tapi mungkin Pak Andi telah mendapatkan masukan lain dari stafnya,” katanya.

Ketika dimintai konfirmasi, Menteri Andi mengatakan bahwa dia hanya melanjutkan kebijakan pendahulunya. “Pak Adhyaksa tidak pernah mengatakan kepada saya agar proyek itu dihentikan,” katanya melalui pesan pendek. Saat diangkat menjadi menteri, Andi mengaku, di Hambalang sudah ada bangunan asrama, masjid, jalan beraspal, lapangan sepak bola, dan pagar keliling.

Peneliti Indonesia Corruption Watch, Febridiansyah, menilai Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng bisa dimintai pertanggungjawaban atas kerugian negara akibat ambruknya dua gedung di area proyek Hambalang, Bogor, Jawa Barat. Bangunan power house (tempat pembangkit listrik) dan lapangan indoor itu runtuh sebagian karena tanahnya ambles belum lama ini.

“Jika kejadian itu ada unsur kesengajaan, akan memperkuat dugaan adanya korupsi,” kata Febri saat dihubungi, Minggu 27 Mei 2012. Ia menyarankan agar Komisi Pemberantasan Korupsi menelusuri alasan Menteri Andi berkeras membangun pusat olahraga di kawasan rawan longsor itu. “Ada alasan KPK untuk memeriksa Menteri Andi,” ujarnya.



Menurut Febri, dugaan Menteri Andi lalai karena, sebelum proyek dimulai, sudah ada rekomendasi dari hasil penelitian yang menyatakan di tempat itu tidak layak didirikan bangunan. Namun, kenyataannya, kompleks pusat pelatihan dan pendidikan olahraga itu tetap dibangun. 

Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault menyatakan sudah selayaknya Menteri Andi bertanggung jawab atas ambruknya bangunan di proyek Hambalang. Sebab, kata dia, para ahli geologi telah mengingatkan struktur tanah di kawasan proyek labil. Potensi gempa juga besar karena dikelilingi beberapa gunung berapi. 

Rekomendasi itu, menurut Adhyaksa, sudah pula ia sampaikan ke Komite Olahraga Nasional Indonesia dan Kementerian Olahraga. “Tapi mungkin Pak Andi telah mendapatkan masukan lain dari stafnya,” katanya.

Ketika dimintai konfirmasi, Menteri Andi mengatakan bahwa dia hanya melanjutkan kebijakan pendahulunya. “Pak Adhyaksa tidak pernah mengatakan kepada saya agar proyek itu dihentikan,” katanya melalui pesan pendek. Saat diangkat menjadi menteri, Andi mengaku, di Hambalang sudah ada bangunan asrama, masjid, jalan beraspal, lapangan sepak bola, dan pagar keliling. 

Iklan