POTENSI apa saja yang dimiliki Demak? Pasti gambaran tentang Masjid Agung Demak akan langsung muncul.

Wisata religi dengan jumlah kunjungan wisatawan terbesar kedua setelah Borobudur ini memang menjadi salah satu andalan Kota Wali. Kemudian kata kunci kedua untuk mencari seberapa penting Demak dalam sejarah peradaban Islam Jawa, tentu saja tidak jauh-jauh dari sosok Sunan Kalijaga.

Pemkab benar-benar memanfaatkan kedua potensi tersebut. Bahkan membangun Museum Masjid Agung Demak dan tempat peristirahatan di kompleks Masjid Agung Demak. Termasuk menata makam Sunan Kalijaga di Kadilangu sehingga peziarah bisa nyaman menikmati perjalanan menuju makam.

Namun apakah hanya keduanya yang menjadi potensi andalan Demak? Tentu banyak hal yang bisa dikembangkan. Potensi wisata kini bertambah dengan adanya wisata pantai Morosari. Walaupun menghadapi banyak kendala jika dikembangkan mampu menyedot wisatawan. Terlebih terdapat potensi hutan bakau, pulau konservasi burung dan makam Syekh Abdullah Mudzakir yang berada di tengah laut. Belum lagi wisata kuliner lele asap yang mulai dikembangkan di Desa Wonosari.

Potensi UKM juga menjanjikan, bahkan jumlahnya tiga besar di provinsi ini. Maka tidak heran ada gedung pamer UKM di Mranggen. Meskipun belum terlalu dimaksimalkan, keberadaan gedung ini cukup menjadi representasi berkembangnya sektor usaha kecil dan menengah. Kemudian lihatlah industri, dari ujung Sayung sampai Karanganyar berderet pabrik yang menyerap ribuan tenaga kerja.

Belum lagi pabrik di kawasan Mranggen sampai Karangawen. Sekarang Demak mengembangkan produksi garam iodium merek ‘’Lumba-Lumba’’ dan meresmikan sentra ikan asap di Kecamatan Bonang (SM, 27/02/12) yang menjadikan industri kecil dan menengah di kabupaten itu makin maju.

Kualitas SDM

Lalu seberapa hebat SDM-nya? Pembaca harian ini tentu tidak asing dengan Ridwan Sanjaya, finalis dosen berprestasi tingkat nasional yang baru saja meraih gelar doktornya ini merupakan pengasuh konsultasi IT di harian ini dan menghasilkan beberapa buku yang berkaitan dengan dunia cyber.

Ada pula Dian Nafi, penulis dari Demak ini diam-diam menghasilkan beberapa karya yang diterbitkan oleh penerbit nasional. Karya terakhirnya terangkum dalam buku Berjalan Menembus Batas yang ditulis bersama Ahmad Fuadi (Negeri 5 Menara) dan penulis nasional lainnya. Demak, juga memiliki kepala sekolah teladan nasional yang disandang Kepala SMA Negeri 1 Demak. Kemudian ada PKBM Karang Mlati dengan Batik Demaknya yang menjadi juara II lomba desain bordir nasional

Dengan segala potensinya, apakah masyarakat Demak bangga akan kotanya? Kalau mau menyurvei hal ini, tanyalah kepada mahasiswa asal Demak yang kuliah nun jauh dari daerahnya. Atau tanyalah warga perbatasan Demak, semisal Mranggen, Sayung, Karanganyar, atau Mijen. Tentu mereka lebih banyak menyebut Semarang, Kudus, ataupun Jepara sebagai daerah asal mereka. Ada keraguan ketika menyebut bahwa mereka warga Demak.

Dalam usianya yang ke-509, tepatnya pada 28 Maret 2012, Demak menunggu partisipasi aktif dan positif dari warganya. Berbuat kreatif bukan hanya akan memberi keuntungan pada dirinya melainkan juga memberi dampak nyata bagi lingkungan. Sikap optimistis dan bangga kepada negeri para wali ini harusnya bisa terpateri dalam benak tiap warga sehingga kejayaan Demak seperti tempo dulu bukan hanya angan semata melainkan benar-benar terjadi.

Layaknya saka tatal Masjid Agung Demak yang dibuat dari serpihan kayu yang disatukan maka warga Demak harus berpadu untuk menjadi penyokong dan penyangga pembangunan. Siapa lagi yang mau bermimpi dan berusaha menjadikan kota ini secemerlang dulu, selain warganya sendiri?

Iklan