DEMAK berada di tengah-tengah jalur Pantura. Ini jalur besar yang menghubungkan kota-kota di sepanjang Pantura. Jalur utama Jakarta-Surabaya pun welewati jurusan ini (Semarang-Demak-Jepara-Kudus-Pati-Rembang). Oleh karena itu aktivitas sehari-hari masyarakat Demak dapat diteropong ketika orang-orang melintas.
Salah satu yang sering menjadi perhatian sekilas bagi orang-orang luar kota yang sedang melewati kabupaten Demak adalah sungai. Ya, sungai adalah latar strategis untuk memotret kebudayaan masyarakat Demak.
Dari sungai, orang-orang melihat sebagian warga Demak tengah mandi. “Kesegaran” khas inilah yang di-”tawar”-kan pada para pengendara atau pelintas ketika melewati kawasan Sayung dari arah Semarang. Atau dari arah Demak menuju Jepara atau Kudus. Atau ketika melintasi jurusan Demak-Purwodadi.

Di sungai-sungai yang sejajar dengan jalan raya itulah mudah dijumpai perempuan mandi sekadar berpinjung jarik dan yang lelaki telanjang dada.
Ini lebih mengarah pada etika dan estetika kebudayaan sebagai kota yang menjadi jantung perlintasan di daerah-daerah Pantura.
Kota Demak memiliki “Sungai Mekong” terpanjang di dunia. Sungai Mekong adalah kiasan bagi sungai yang dipergunakan untuk aktivitas MCK (mandi, cuci dan kakus).
Banyak orang bertanya-tanya mengapa (sebagian) warga Demak betah mandi atau mencuci di sungai, sementara airnya kotor. Lihat saja air sungai Tuntang dan Sungai Buyaran yang berada di sisi jalan Semarang-Demak itu berwarna hijau. Sungai itu tampak tidak berarus. Mirip seperti genangan air belaka. Fakta itu tak beda dengan sungai di sepanjang jalan Demak menuju Kudus atau Jepara yang juga kotor.
Adapun yang masih terbilang jernih adalah Sungai Jajar: sungai yang menghubungkan Demak dengan Purwodadi. Sungai ini terletak sebaris dengan jalan Demak-Purwodadi. Sungai Jajar terhubung sampai daerah-daerah Kecamatan Bonang dan bermuara di laut Jawa.
Aktivitas MCK yang dilakukan warga di sungai merupakan pemandangan yang sedikit mengganggu bagi pelintas jalan.

Seperti dimafhumi masyarakat umum yang telah melampaui masa post-tradisional, bahkan bisa dikatakan modern, mandi di tempat terbuka adalah tidak mengindahkan etika. Ini berkaitan dengan wacana tubuh yang secara pribadi harus di-”tutupi” dari ruang sosial demi suatu tujuan etis maupun estetis.


Kesuburan Sungai adalah sebuah keyakinan kuno tentang kesuburan. Secara mitologis, sungai merupakan sebuah siklus kelahiran dan proses regenerasi. Dahulu kala, leluhur Jawa menjadikan sungai sebagai tempat menyucikan diri yang merupakan lambang dari upaya manusia menghalau kekuatan jahat yang mengancam (Robby Hidajat dalam Jurnal Kebudayaan Jawa, 2006).
Mitos macam ini dikuatkan dengan fakta bahwa seorang susuhunan lahir di tanah Demak dengan jalan menyucikan diri di tepi sungai. Sunan Kalijaga (salah satu dari Walisongo yang menyebarkan Islam di tanah Jawa) kemudian mengantarkan Demak mendapat sebutan Kota Wali sampai kini. Secara geografis, sungai adalah kekayaan alam yang sangat berharga bagi manusia. Sungai adalah representasi kesuburan suatu daerah.
Demak mempunyai sejarah penting dalam perekonomian di tanah Jawa, yakni ketika Kerajaan Demak masih berdiri kokoh pada kurun abad XVI.
Sebagai Kerajaan Islam pertama di Jawa, Demak pernah menjadi daerah maju ketika perekonomiannya ditopang oleh perairan seperti sungai untuk pertanian. Bahkan sungai menjadi jalur transportasi kapal-kapal menghubungkan titik-titik perniagaan dengan bandar laut yang menjadi pusat arus barang niaga di pantai utara Laut Jawa.
Aktivitas MCK secara langsung mengotori sungai. Ini disebabkan oleh zat-zat kandungan sabun mandi atau sabun cuci yang kemudian larut dalam air sungai. Sementara, sungai yang kotor merepresentasikan area slum atau daerah kumuh.

Beda dari zaman purba, orang-orang mandi belum menggunakan sabun sehingga tidak mengakibatkan air sungai terkena polusi.
Mengingat sungai-sungai besar di Demak masih menjadi saluran irigasi vital bagi pertanian, maka pengotoran sungai amat merugikan.
Orang-orang tidak sadar dan tidak berpikir jauh tentang persoalan ini, padahal lambat laun dapat mengurangi produktivitas pertanian karena kualitas air yang berangsur-angsur makin memburuk.
Oleh karena itu, aktivitas MCK yang memanfaatkan sungai perlu dicarikan alternatif lain dengan tidak memutus hubungan masyarakat dengan sungai itu sendiri. Hal ini demi menghapus stigma buruk agar olok-olok “Sungai Mekong Terpanjang” tidak menjadi kutukan berkepanjangan bagi generasi berikutnya.

Alangkah lebih baik jika pengguna sungai membuat tempat-tempat mandi di rumah masing-masing. Sementara airnya tetap diambil dari sungai dengan bantuan mesin pompa air. Pola seperti ini tidak akan mengotori air sungai maupun mengganggu pemandangan mata.
Citra Kota Wali Jargon Demak Beramal (bersih, elok, rapi, anggun, maju, aman, serta lestari) selaiknya ditunjukkan dengan tata kehidupan yang selaras antara etika dan estetika. Salah satunya dengan mendayagunakan sungai sebagaimana mestinya.
Perlu kesadaran kolektif warga sekitar sungai yang berada di tengah-tengah ruang publik untuk menjadikan sungai bersih dan nyaman dipandang mata.
Apalagi Demak masyhur sebagai kota yang tingkat religiusitas masyarakatnya cukup tinggi. Ini tak lepas dari sejarah Demak sebagai pusat persebaran Islam di Jawa (simbolnya adalah kerajaan Demak dan Walisongo).
Citra yang demikian seharusnya mendorong untuk bersikap hidup bersih dan tertata sebagai perwujudan cermin hidup yang agamis. Bahwa, al-nadhafatu min al-iman, ’’kebersihan bagian dari iman’’.
Semua titik-titik produktif yang menopang kemajuan Demak itu akan semakin mempunyai daya tarik jika didukung dengan kota yang bersih, tertata, dan bere(ste)tik