0
Banyak Perguruan Tinggi Swasta yang mengeluh tentang betapa kuatnya persaingan dengan perguruan tinggi BHMN. Karena perguruan tinggi ini yang paling terasa terkena imbasnya. Banyak perguruan tinggi swasta yang terpuruk, karena tidak mampu bersaing. Persaingan dengan sesama Perguruan Tinggi, ditambah lagi Perguruan Tinggi BHMN yang membuka jalur mandiri.

Perguruan tinggi swasta semakin gencar berpromosi, berlomba-lomba menarik minat para calon mahasiswa. Setiap iklan yang ditayangkan baik itu di media cetak maupun media elektronik dikemas semenarik mungkin. Dari mulai discount pendaftaran, bebas uang bangunan, program-program yang ditawarkan menjanjikan kemudahan lulusannya untuk mencari kerja. Sehingga yang terjadi saling perang harga, fasilitas, dan pelayanan yang ditawarkan layaknya perusahaan komersil yang menarik konsumen.

Banyak program yang ditawarkan memberikan kemudahan untuk para calon mahasiswa. Slogan-slogan terpampang “Hanya 3 tahun bisa menjadi sarjana”, “Cepat Jadi Sarjana tanpa skripsi tanpa kehadiran” dan masih banyak lagi. Ironi memang, ketika mengkondisikan mahasiswa adalah konsumen yang mempunyai uang, semakin uang yang dikeluarkan banyak semakin dipermudah untuk memakai gelar yang diiinginkan.

Visi misi perguruan tinggi yang notabene ingin menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas dan mencerdaskan kehidupan bangsa menjadi bias. Tujuan perguruan tinggi berubah menjadi perusahaan bisnis yang ingin mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Dunia pendidikan dianggap sebagai bisnis yang cukup menjanjikan. Apalagi dengan kemudahan mendirikan perguruan tinggi semakin banyaklah para pembisnis yang melihat peluang ini. sehingga pendidikan dijadikan sebagai ajang bisnis yang bisa memberikan keuntungan yang besar.