Saya sungguh mengantuk sekali saat menulis ini. Tapi entah kenapa deep down “that thing” tells me kalau saya harus menulis. “That thing” belum tentu akan muncul seminggu kemudian. Jadi, saya harus menulis. Memaksa diri saya menulis. Hehe…

Jadi apa yang akan saya bahas?

Ada satu hal yang ingin benar-benar saya tulis sekarang. Akhir-akhir ini saya sungguh sering keluar. MEANS HANG-OUT. Di satu sisi, saya cukup kagum dengan diri saya yang bertansformasi dengan sungguh bagus dari makhluk kamar menjadi makhluk sosial intensitas tinggi. Di sisi lain, maksudnya apa sih kok saya lagi begitu gencar-gencarnya bergaul, berinteraksi, atau apalah?

Mengisi kekosongankah? Mencoba melupakan seseorang? Atau sederhana saja, ingin bahagia?

Mungkin bisa dikatakan semua pertanyaan tadi bisa dijawab dengan “Ya”. Bukan 100% “Ya”, tapi “Ya” yang datar dan dengan “..aaaaaaaaaaaaaaaa…” yang panjang. Bingung? :p

Saya ingat sekali, zaman neolitikum dulu saya jarang sekali yang namanya hang-out. Menghindari malah. Kenapa? Saya terlalu menikmati kesendirian. Bisa dibilang hidup di wonderland bersama karya imajinasi diri sendiri. Pulang sekolah. Balik ke rumah. Pulang kuliah. Balik ke kontrakan. Pulang kerja. Balik ke kamar kos. Dan apa yang saya lakukan? Menenggelamkan diri dalam kesendirian. Menutup diri dari dunia. Membaca. Menulis. Menonton. Melamun. Things that people do on their own.

Nah, semenjak saya bertemu dengan seseorang… segalanya berubah jadi 180 derajat… Setiap weekend kita harus makan ke mana, pergi ke mana, melakukan apa. Sesuatu yang berbeda. Tapi……karena orang yang dimaksud pergi meninggalkan *hiks* *but let’s not go there* *udah terlalu ngantuk mikir yang berat-berat* jadi otomatis lah ya saya kaget. Mau dengan siapa ke luar nantinya? Melakukan apa? Mau kembali ke masa lalu di era “In Wonderland”? Hehe…

Karena ada “kebutuhan” untuk selalu beraktivitas luar yang tumbuh, terimakasih karena dia-yang-sudah-nggak-ada, maka dari itulah saya mulai murka hang-out. (gila banyak kosakata aneh malam ini). #haishhhhh

Grup ini, hangout yuk. Grup satunya lagi, yesssss. Dengan orang ini, mari. Dengan orang itu, ayo ayo aja. Tempel stiker “Murahan” di kening saya. Haha.

Tapi, eh, tapi. Saya sekarang jadi ” sedikit tersadar” (makanya harus nulis ini), dari saking murkanya melakukan dua hal tadi saya jadi lebih menghargai dua sisi “kesendirian” dan “kebersamaan” yang dua-duanya pernah saya geluti secara ekstrim. Saya tidak perlu sendiri karena saya ingin “sendiri” dan saya tidak perlu bersama karena saya ingin “agar-tidak-kesepian”.

Entah kenapa saat-saat ini, tidak seperti dulu, waktu “sendiri” saya tidak merasa kesepian, hidup masih terasa berisi, dan not-so-In-Wonderland (karena teman bisa berkomunikasi secara tidak langsung kapan pun). Intinya sekarang saya pada saat sendiri ya beristirahat, merenung, time to reflect, mencoba memaksa diri untuk menulis, berolahraga. Garis besarnya: quality time for myself.

Sementara itu, saat saya hangout, saya berusaha mencoba untuk just be happy at the moment. Ada kalanya misi saya untuk “nih, saya juga bisa keluar tanpamu, kampret!” ke dia atau membalas dendam atas waktu yang saya bunuh akibat terlalu menikmati kesendirian di masa lalu. But that’s not right, isn’t it? Karena pada akhirnya saya sedang bersama-sama dengan banyak orang dan saya yakin semuanya ingin my whole present 100% for them (terlalu GR) bukan melayang-layang ke tempat dan tujuan lain.

So, in conclusion, saya (ingin) menikmati kesendirian saya untuk membenahi dan men-treat secara penuh diri sendiri. Sementara saat saya sedang dalam kebersamaan, saya juga tidak (ingin) melayang-layang. Be there for them! Semakin banyak kepala akan semakin banyak ide yang bisa diambil, tawa yang bisa dibagi, cerita yang bisa didengarkan. The more, the merrier. 🙂