Kata orang, nasib itu berputar seperti roda. Kadang ada di atas, kadang di bawah. Siapa mengira Angelina Sondakh, perempuan dengan karier moncer–dari gadis biasa lalu dinobatkan sebagai Puteri Indonesia, kemudian menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat–itu kini harus mendekam di »rumah baru”-nya: rumah tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi.

Bagaimana malam pertama bagi Angie? Ia resmi ditahan Jumat 27 April 2012 lalu, setelah diperiksa selama sekitar tujuh jam karena sangkaan menerima suap dalam proyek Wisma Atlet dan proyek di Kementerian Pendidikan Nasional pada anggaran 2010 dan 2011.

Di »rumah baru”-nya itu tak banyak keceriaan yang tersisa bagi Angie. Dia menempati sel berukuran 3,1 x 3,5 meter. Hanya ada satu set tempat tidur kecil, satu tempat tidur berukuran sedang, lemari, jam dinding, dan penyedot udara. Ruang tahanan ini terletak di basement gedung KPK, satu lantai dengan tempat parkir pimpinan komisi antikorupsi itu. Ruangan dengan luas 80 meter persegi itu punya lima sel. Di tahanan ini tersedia tiga toilet dan dilengkapi tiga CCTV. Di sanalah Angie menghabiskan malamnya.

Saat petang menjelang, Jumat 27 April 2012 lalu, ada sedikit hiburan. Dua putri tirinya, Aaliyah dan Zahwa, serta putranya dari hasil pernikahannya dengan Adjie Massaid (almarhum), Keanu, menjenguknya. Raut muka Aaliyah dan Zahwa tampak pucat setelah menjenguk sang ibu di tahanan. Sesekali Zahwa tampak menyeka air mata dengan jaketnya. Keanu juga terlihat menangis dalam gendongan sang paman, Muji Massaid. Beberapa kali anak berusia 2 tahun itu memanggil-manggil sang ibu, “Mami, mami, mami….”

Sabtu 28 April 2012 kemarin giliran pengacaranya, Arman Jauhari dan Muhamad Faisal, yang menjenguk mantan Puteri Indonesia itu. “Hanya melihat kondisi Ibu Angie,” kata Arman. Menurut Arman, secara psikologis Angie sudah bisa menerima penahanannya ini. “Sudah tenang, tidak shocked lagi,” kata dia. Angie juga seperti telah mempersiapkan diri untuk menjalani masa-masa di ruang tahanan KPK. “Ia sudah bawa mukena dan tasbih, buat zikir dan salat.”

Arman menyebut ruang tahanan untuk Angie sudah layak dan manusiawi. Kepada Arman, Angie mengaku sudah bisa tidur nyenyak dan makan seperti biasa. “Makan nasi kotak (dari KPK),” ujarnya.

Sejumlah sanak Angie di Manado memilih tak berbicara ihwal kasus yang membelit saudaranya itu. Ketua DPD II Partai Golkar Kota Manado Danny Sondakh, sepupu Angie, mengaku enggan mengomentarinya karena kasus ini masalah pribadi Angie, bukan soal keluarga yang bisa ia tanggapi. “Kita hormati saja hukum yang berlaku,”
Tim kuasa hukum Angelina Sondakh memastikan kondisi kliennya baik-baik saja. “Sehat, makannya enak, tidurnya nyenyak,” kata salah satu tim kuasa hukum Angie–sapaan Angelina, Arman Jauhari, saat menyambangi gedung KPK, Sabtu, 28 April 2012.

Dalam kunjungannya sekitar 20 menit, Arman mengaku Angie tidak terlalu banyak bercerita. Arman juga tidak membawa buah tangan apa-apa untuk Angie.

KPK menahan Angie selama 20 hari terhitung sejak Jumat, 27 April 2012. Ia ditahan setelah menjalani pemeriksaan selama tujuh jam. Politikus Partai Demokrat ini diinapkan di Rumah Tahanan Salemba cabang KPK di Kuningan, Jakarta.

KPK menemukan beberapa aliran dana yang diterima Angie berkaitan dengan pembahasan anggaran beberapa proyek. »Dengan bukti yang ada di KPK, kami menetapkan AS sebagai tersangka,” kata juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi, Johan Budi S.P. Johan tak menjelaskan detail dua kasus yang menjerat Angie. “Yang jelas, berkaitan dengan pembahasan anggaran proyek.”

Angie pasrah atas penetapan ini. “Untuk semua keterangan dan juga komentar mengenai hal ini, saya serahkan ke lawyer saya. Saya lillahi ta’ala,” kata Angie setelah menjalani pemeriksaan.
Sel yang dihuni Angelina Sondakh, politikus Partai Demokrat yang jadi tersangka kasus suap dan korupsi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), bukan luar biasa. Ia menjadi penghuni satu dari lima kamar seukuran kios pedagang cemilan. Kamar sempit itu zonder penyejuk udara, toilet pria dan wanita pun sama.

Terletak di sebelah utara ruang parkir bawah tanah pimpinan KPK, ruangan yang dulunya gudang penyimpanan alat tulis kantor itu tampak sumpek. Berbelok ke kanan dari ruang parkir, pintu terali besi rumah tahanan langsung menyambut. Di balik pintu itu tampak meja petugas keamanan yang dibuat dari kayu berwarna kuning gading terpasang rapih.

“Di sini akan ada dua penjaga yang bergantian selama 24 jam,” kata Johan Budi SP, menunjuk dua kursi yang terletak di sebelah meja. Johan menunjukkan kamar-kamar sel itu, Februari 2012 lalu.

Di atas langit-langit ruangan, terpasang tiga kamera pengintai atau CCTV. Tiga kamera itu mengawasi seluruh aktivitas di koridor tahanan.

Berjalan sekitar dua meter, sederet kamar berpintu bahan seng dengan terali serupa jendela di bagian atasnya langsung menyambut. Dari balik pintu terlihat sebuah ranjang pegas seukuran ranjang kos anak kuliahan. Tak lupa satu bantal dengan satu guling tertata rapi di atas seprai berwarna cokelat muda. “Kamar ini untuk kapasitas dua orang,” kata Johan.

Tak ada cermin, tempat si penghuni kamar nantinya tersolek. Hanya ada satu lemari dua rak berbentuk kotak di samping ranjang tersebut.

Tak ada pula mesin penyejuk atau AC, tapi calon penghuni tak akan kepanasan. Kamar dipasangi exhauset fan atau sirkulasi udara listrik yang menyerupai kipas angin di dinding kamar.

Satu meter sebelah kanan, Johan lantas menunjukkan dua toilet tahanan. Dalam toilet itu hanya ada satu shower dan wastafel. Meskipun keran shower berjumlah dua, jangan harap salah satunya bisa membuka aliran air hangat.

Johan yang ditanyai di mana toilet untuk tahanan wanita langsung terdiam. “Yang penting nggak barengan saja,” Johan berseloroh. Toilet itu bersifat bebas.

Johan menolak menyebutkan berada dana yang dihabiskan KPK untuk membangun rumah tahanan itu. Ia hanya menyatakan bahwa rumah tahanan itu sudah ada sejak gedung KPK dibangun sekitar 2006.

Sejak awal diperuntukkan tahanan, tetapi terkendala oleh izin dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. “Saat ini sudah kami sesuaikan dengan persyaratan Kementerian,” ujar dia.

Johan menambahkan bangunan ini adalah cabang dari Rumah Tahanan Cipinang, sehingga penjagaannya juga digabung dengan petugas dari tempat tersebut. “Semua prosedur sama dengan rumah tahanan lainnya,” kata dia menunjukkan kamar tamu tahanan di luar ruangan tersebut.