Saat Paskah tiba, masyarakat Flores punya cara unik merayakannya. Paskah tak hanya diperingati secara keagamaan dengan misa. Masyarakat Flores juga menjalani ritual peninggalan budaya nenek moyang. Budaya tradisi masih bertahan hingga kini dan menjadi daya tarik bagi turis lokal dan mancanegara. Ke Larantuka, masyarakat dari berbagai gugusan pulau di Nusa Tenggara Timur datang. Larantuka menjadi destinasi wisata religi sepanjang minggu ini.

Ritual Paskah di Larantuka berlangsung padat mulai Rabu (20/4/2011) hingga Minggu (24/4/2011). Siapa saja boleh ikut serta. Tak hanya umat Katolik yang merayakan Paskah karena, di Larantuka, perayaan Paskah merupakan paduan tradisi budaya suku dan ritual keagamaan umat Katolik.

Ribuan orang akan berkumpul mengikuti tradisi Paskah di Larantuka. Larantuka mulai dipenuhi pengunjung sejak Minggu Palem lalu hingga puncak acara Jumat Agung. Saat ini, warga dari berbagai pulau di Nusa Tenggara Timur berbondong-bondong meninggalkan desa menuju Larantuka. Meski begitu tidak semua warga merayakan di Larantuka. Masyarakat di Lamalera, misalnya, mereka memiliki tradisi perayaan Paskah tersendiri.

Saat singgah di Lembata pada Minggu Palem lalu (17/4/2011), Kompas.com menemui masyarakat di Lewoleba, ibu kota Kabupaten Lembata, NTT. Sejumlah warga mengaku akan berangkat menuju Larantuka pada Rabu untuk mengikuti prosesi Jumat Agung. Namun, tak sedikit juga warga yang meninggalkan Lembata menuju Larantuka seusai Minggu Palem lalu. Diana Dasilva (30), karyawan LSM Internasional yang bekerja di Lembata, mengaku akan pulang ke kampung halamannya di Larantuka pada Rabu (20/4/2011).

Prosesi diawali dengan Rabu Trewa

“Tradisi paskah di Larantuka dimulai dengan ritual keagamaan Misa Rabu Trewa di masing-masing paroki. Ritual ini hanya ada di Larantuka. Trewa artinya bunyi-bunyian terakhir setelah misa pukul 20.00 Wita. Warga boleh memasang musik atau bunyi-bunyian lain. Gereja masih boleh membunyikan lonceng hingga pukul 20.00. Namun setelah misa Rabu malam, bunyi-bunyian tak dibolehkan,” ucapDiana kepada Kompas.com di sela-sela pelatihan menulis dan fotografi untuk Forum Anak Lembata yang diadakan Plan Indonesia di Lewoleba, Lembata, NTT, 16-17 April 2011.

Kamis Putih

Esoknya, menurut Diana, pada perayaan perjamuan terakhir, Kamis Putih pukul 10.00 Wita, tak ada lagi bunyi-bunyian. Suasana Larantuka terasa sepi seperti halnya Nyepi pada masyarakat Hindu di Bali. Diana melanjutkan persiapan mengeluarkan Tuan Ma (patung Bunda Maria) dimulai pada Kamis Putih. Patung Bunda Maria di Kapel Maria Pante Kebis ini akan dimandikan oleh lima suku besar di Larantuka.

“Kegiatan ini tertutup untuk umum. Namun, setelah pemandian, warga biasanya mengambil air mandi di bak lalu dipindahkan ke botol untuk dibawa pulang,” ucapnya seraya menambahkan bahwa air ini diyakini memiliki khasiat. Tuan Ma hanya dikeluarkan setahun sekali saat perayaan Paskah. Untuk pertama kalinya, hanya keluarga kerajaan yang boleh mencium Tuan Ma.

Kamis, mulai pukul 22.00 Wita, umat mulai melakukan lamentasi hingga pagi di Gereja Katedral Larantuka. Mereka juga diizinkan untuk mencium Tuan Ma di Kapel Pante Kebis dan Tuan Ana di Kapel Lohayong. Ritual mencium Tuan Ma dan Tuan Ana ini berlangsung hingga Jumat pukul 13.00 Wita.

Rangkaian prosesi Jumat Agung

Prosesi Jumat Agung dimulai dengan perarakan Tuan Ma dan Tuan Ana ke Katedral Reinha Rosari Larantuka. Mulai pukul 14.00 Wita, Tuan Ma menjemput Tuan Ana, lalu masuk ke gereja dengan iringan ribuan warga Larantuka, juga turis lokal dan mancanegara.

Tradisi Paskah di Larantuka pada Jumat Agung dilakukan di laut. Prosesi laut mulai pukul 12.00 WIB dari pantai Kota menuju pesisir, ke desa Pohon Sirih. Sebelum menuju kapel Tuan Ma dan Tuan Ana, warga lebih dahulu menyambut Tuan Meninu di pinggir pantai Desa Pohon Sirih.

Prosesi pengantaran Tuan Meninu (laskar laut) diawali oleh satu orang terpilih dari suku khusus yang menjunjung patung Tuan Meninu dari atas kapel menuju sampan khusus. Pada sampan ini, Tuan Meninu diletakkan di bagian depan dan satu orang pembawanya di belakang. Prosesi pengantaran Tuan diiringi warga menuju ke armida (tempat penataan patung) di dalam Kota Larantuka.

Untuk membuka jalan, anak-anak suku khusus berada di barisan depan iringan prosesi laut dari seberang Larantuka ini. Satu sampan berisi dua anak suku yang disebut laskar kecil. Sebanyak 7-8 sampan laskar kecil ini mengawal Tuan Meninu. Di belakangnya, warga mengikuti prosesi laut menuju ke pesisir. Perjalanan laut menuju Pohon Sirih berlangsung satu jam. Di pesisir pantai, warga dari dalam Kota Larantuka sudah menunggu. Setibanya di Pohon Sirih, Tuan Meninu diantar menuju armida Pohon Sirih. Selanjutnya, warga berjalan menuju kapel Tuan Ma, lalu menjemput Tuan Ana, dan bersama warga menuju Gereja Katedral.

Prosesi keliling delapan “armida”

Ritual keagamaan dilakukan dengan mencium salib (bagian dari penghormatan salib) di Gereja Katedral Larantuka mulai pukul 15.00 Wita. Lalu pukul 18.00, umat kembali menjalani prosesi yang dibuka dengan ovos atau peratapan. “Ovos atau nyanyian ratapan dilakukan di gereja selama 15 menit. Lalu umat keluar dari gereja dan mengelilingi delapan armida di Larantuka. Tuan Ma dan Tuan Ana beserta iring-iringan menjenguk delapan armida ini hingga pukul 03.00 Wita, hingga kembali lagi ke gereja” urai Diana.

Ritual Paskah di Larantuka belum berakhir. Pada Sabtu pukul 07.00 Wita, Tuan Ma dan Tuan Ana diantar pulang ke kapel masing-masing. Berbagai suku, umat, masyarakat Flores hingga tamu asing berbaur dalam rangkaian prosesi lebih dari 24 jam ini. “Saat ritual Paskah, semua rumah di Larantuka terbuka untuk siapa saja. Tamu asing boleh menumpang mandi atau merebah di setiap rumah,” ucap Diana seraya menambahkan bahwa biasanya gereja juga menyiapkan pemandu wisata bagi tamu asing yang ingin mengikuti prosesi.

Suku mengambil alih prosesi

Sabtu (23/4/2011) pagi, saat Tuan Ma dan Tuan Ana kembali ke kapel masing-masing, suku mengambil alih prosesi. Suku khusus mengemas kembali Tuan Ma dan Tuan Ana, lalu kapel pun ditutup untuk umum.

Sabtu sore, warga Larantuka melakukan Misa Sabtu Santo (Misa Malam Paskah), mulai pukul 18.00 Wita. “Pada waktu inilah lonceng gereja boleh dibunyikan kembali,” ujar Diana. Selanjutnya, ritual Paskah lebih pada upacara keagamaan. Misa Minggu dilakukan tiga kali, pukul 06.00, 08.00, dan 16.00 Wita.

Ritual Paskah di Larantuka berakhir dengan Misa. Warga kembali ke rumah dan melepas lelah. “Hebatnya, selama mengikuti ritual suku dan agama sepanjang rangkaian prosesi Paskah, semua umat bersemangat dan kuat secara fisik. Memang setelahnya tubuh terasa lelah dan kebanyakan warga menikmati waktu istirahat seusai Misa Minggu,” tutup Diana.

Iklan