Datang Paraf Rupiah….
Tampaknya aktifitas apa saja yang mendatangkan kesenangan bagi anggota DPR, dengan serta merta akan dilakukan oleh mereka. Apakah aktifitas tsb mendatangkan manfaat bagi rakyat yang diwakilinya atau apakah aktifitas tsb dikecam banyak orang, mereka tampaknya tak peduli. Yang penting aktifits tsb bisa memuaskan nafsu mereka untuk bersenang-senang.

Dua hal yang sering dikritik banyak orang karena sering dilakukan anggota DPR di antaranya adalah membolos dan studi banding. DPR tidak memiliki jurus debat yang canggih untuk menangkis kritik tentang banyaknya dan seringnya anggota DPR yang membolos.

Lain halnya dengan studi banding ke luar negeri oleh anggota DPR yang dikritik banyak orang sebagai kegiatan jalan-jalan yang hanya menghambur-hamburkan uang rakyat. Untuk kritik terhadap masalah yang satu ini, DPR memiliki jurus debat yang canggih tapi menyebalkan.

LAGI-LAGI STUDI BANDING

Kemarin ada berita baru tentang masalah lama yang terkait dengan DPR. Dikabarkan bahwa Komisi IV DPR menggelar kunjungan ke empat negara menjelang liburan akhir tahun. Kunjungan tsb dilakukan ke Negara-negaraAmerika Serikat, Jepang, India, dan Cina. DPR memberikan alasan yang hebat dengan mengatakan kunjungan tsb dirasa sangat penting dan tak bisa dibatalkan. Hebat sekali, sangat penting dan tak bisa dibatalkkan seperti gawat darurat saja.

Ketua Komisi IV M Romahurmuziy dari Fraksi PPP memimpin rombongan kunjungan ke Amerika Serikat. Herman Khaeron dari Fraksi Partai Demokrat membawa rombongan ke India, Firman Soebagyo dari Fraksi Partai Golkar ke Cina, dan Ana Muawanah dari Fraksi PKB ke Jepang.

Wakil Ketua Komisi IV DPR, Herman Khaeron, mengatakan: “Ada dua substansi kunjungan kerja luar negeri, RUU Pangan dan RUU Perlindungan dan Pemberdayaan Petani. Studi banding ini sangat penting karena berkaitan dengan: sistem tarif, proteksi, lembaga keuangan petani, subsidi,

promosi, asuransi pertanian, lembaga pangan, serta peran dan keterlibatan pemerintah, swasta, dan masyarakat. Tentunya lain negara lain cara, dan kita ingin mencari konsep yang ideal.” (detik.com:6-12-2011)

Tampaknya Herman merasa kalau alasan kepergiannya lebih baik daripada anggota DPR lainnya. Dia mengatakan memilih memimpin rombongan ke India. Baginya perjalanan ke India tidak sia-sia, karena India berpenduduk 1,21 miliar mampu memenuhi kebutuhan pangannya. Menurut Herman hal itu efektif dan memberikan informasi yang dibutuhkan, termasuk pembagian tugas antara kementrian pangan dengan kementrian pertanian.

Rombongan Komisi IV DPR sudah di luar negeri. Mereka terbagi dalam empat rombongan. Tidak ada klarifikasi dan penjelasan ke masyarakat saat keberangkatan. Mengapa tidak ada klarifikasi ? Jawabannya mudah saja, mereka takut dikritik olah banyak pihak seperti yang sudah-sudah.

STUDI BANDING ATAU TAMASYA BANDING ?

Seperti biasanya setiap kali anggota DPR pergi ke luar negeri, berbagai pihak selalu memberikan kritik yang nadanya kurang lebih sama. Pihak yang mengeritik tsb melihat kalau studi banding tsb hanyalah akal-akalan anggota DPR untuk jalan-jalan dengan menghambur-hamburkan uang rakyat.

Kordinator Formappi, Sebastian Salang, mengatakan: “Ini terlihat sekali kalau kunjungan ke luar negeri ini hanya Ingin habis kan anggaran, karena sebentar lagi habis masa anggaran. Karena kalau tidak dipakai tahun depan tidak dapat lagi.” (detik.com:6-12-2011).

Kritik yang dilontarkan oleh Sebastian terhadap studi banding DPR tampaknya cukup penting diketahui oleh masyaakat, agar mereka bisa memahami benar atu tidak alasan DPR melakukan studi banding. Kritik yang cukup penting diketahui oleh masyarakat tsb adalah sebagai berikut:

PERTAMA, bila memang tujuan ke luar negeri anggota untuk studi banding, hal itu masih bisa dilakukan dengan cara lain.

KE DUA, selama ini tidak ada mekanisme laporan jelas terkait kunker (kunjungan kerja) ke luar negeri sehingga membuat hal itu tidak efektif dan DPR memang tidak perduli soal efektifitas, karena mereka hanya ingin jalan-jalan saja.

KE TIGA, sejahmana kepentingan melakukan kunker atau studi banding patut dipertanyakan. Hal ini dikarenakan anggaran kungker atau studi banding ke luar negeri di tahun 2011 ini telah diputuskan tahun 2010 lalu.

Setelah mencermati kritik yang dilontarkan Sebastian, setidaknya masyarakat menjadi lebih tahu tentang alasan sebenarnya dari kunker atau studi banding oleh DPR ke luar negeri.

Masyarakat bisa menilai sendiri, sebenarnya DPR mau studi banding atau tamasya banding ke luar negeri ? Kalau mau tamasya ke luar negeri, jangan pake uang rakyat dong. Kalau gak mempan juga dikritik, mungkin perlu juga dikeluarkan fatwa haram dari MUI ?