“SBY malah kurus”
Oleh : Socheh Satria Bangsa,
SBY akhir-akhir ini benar-benar kurus dan pusing tujuh keliling, karena semakin banyak persoalan yang di hadapinya. Sejak merebaknya kasus Nazaruddin dan kasus-kasus yang di hadapi Kader Partai Demokrat, fokus SBY terhadap tugas negara yang di embannya menjadi terpecah, bahkan banyak pihak yang berharap agar SBY Fokus saja pada urusan bangsa. Sebagai Presiden dan Kepala Negara seharusnya SBY tidak perlu terlalu sibuk dengan urusan internal Partai Demokrat, karena tugas tersebut bisa di wakilkan pada Wakil Dewan Pembina Partai Demokrat. Selain itu, kan masih ada Ketua Umum Partai yang bertanggung jawab pada urusan partai.

Begitu pentingkah SBY mengurusi urusan internal partai ? Sehingga seakan lebih penting dari mengurus Bangsa dan Negara. Membawa urusan internal partai ke ranah publik bukanlah tindakan yang bijak bagi seorang setingkat kepala negara, karena urusan tersebut terlalu “Cemen” untuk di urusi oleh seorang Presiden, sekalipun dalam kafasitasnya sebagai Ketua Dewan Pembina Partai.

Semakin terlihat jelas kelemahan menejerial SBY, dalam memenej dan memilah tugas dan tanggung jawab yang di emban seharusnya, kapan harus terlibat dalam urusan internal partai dan kapan harus mengurus tugas dan tanggung jawab negara, sehingga hal ini mengundang berbagai opini di dalam masyarakat, seperti yang di lansir oleh Kompas.com hari ini (13/7), seperti yang dikatakan Guru Besar Hukum Tata Negara dari Universitas Andalas, Padang, Saldi Isra,

“Tidak bisa dibantah, energinya (Presiden Yudhoyono) sekarang terkuras oleh urusan partai. Apalagi saat ini ia lebih dominan, bahkan lebih dominan dari Ketua Umum (Partai Demokrat, Anas Urbaningrum). Seharusnya persoalan itu diurus Ketua Umum,” kata Saldi.(Kompas.com)

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana dan seperti kinerja penasehat Presiden untuk bidang politik, sepertinya kurang memberikan masukan kepada Presiden SBY, sehingga banyak hal yang di lakukan SBY dalam bidang politik salah kaprah, membicarakan urusan internal partai di hadapan media, memang dalam kafasitas sebagai Kawanbin, tapi masalahnya jabatan SBY sebagai presiden itu sangatlah sentral, sehingga menjadi sorotan publik.

Pusingnya SBY menghadapi urusan internal Partai, dan membawa urusan partai ke ranah publik, membuat publik juga menjadi pusing melihat prilaku SBY, Publik (Masyarakat) yang sudah di himpit oleh berbagai persoalan hidup, tambah pusing jadinya mendengar curhat Presiden SBY terus menerus, kadang persoalan sepele saja di kemukakan ke publik, seperti urusan SMS dan BBM Nazaruddin yang di ragukan kebenarannya, tapi secara serius di tanggapi dan disampaikan kehadapan publik.

Alangkah baiknya jika sisa akhir masa jabatannya, SBY memberikan hal-hal yang terbaik bagi bangsa dan negara, agar kelak di kenang sebagai amal dan kebaikan selama dia menjadi pemimpin. Alangkah tidak baiknya jika seorang pemimpin, sepanjang kepemimpinannya hanya menuai berbagai hujatan, karena hal tersebut berdampak yang tidak baik bagi SBY juga penghujatnya.***
SBY Pusing 7 Keliling, Bu Ani Sibuk Foto-Foto! Suasana Rakornas kali ini rupanya amat menarik perhatian Ibu Ani. Tentu bukan karena suhu panas yang tengah melanda partai tersebut. Pasti itu karena ruangan SICC yang berubah menjadi biru oleh sekitar 5.000 lebih kader Demokrat yang memadati ruangan.

Sayang sekali kalau momen itu dilepaskan begitu saja. Itulah mungkin yang muncul di benak Ibu Ani ketika itu. Maka, ia pun mengeluarkan kamera kesayangannya. Dan, seketika ia beraksi, tak mau kalah oleh ratusan pewarta foto yang mengabadikan Rakornas itu.

Tangannya kokoh menggenggam kamera SLR profesional dan jemarinya lincah memainkan tombol shutter. Kini, Ibu Negara itu pun menjadi fotografer. Tanpa beranjak dari tempat duduknya di barisan depan, ia memutar badannya ke kanan, ke kiri mencari obyek menarik. Ia juga tak segan membalikkan tubuhnya secepat kilat begitu matanya menangkap obyek menarik.

Kontan saja, adegan itu menarik perhatian ribuan kader yang hadir. Ribuan pasang mata pun memandang ke arahnya. Begitupun wartawan yang melihatnya sebagai hal menarik untuk diabadikan. Maka, puluhan lensa langsung mengarah kepadanya sehingga kamera Bu Ani dan wartawan saling beradu pandang.

hohohoho