Demonstrasi anarkis di depan Istana Negara, Jakarta, Senin (24/1/2011) berbuntut panjang. Para mahasiswa bertekad membalas dengan melakukan aksi serentak di seluruh Indonesia. Dalam demo kemarin polisi secara membabi buta memukuli para mahasiswa. Diantaranya yang terkena injak-injak aparat kepolisian adalah Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PBHMI) Nur Fajriansyah.

Koordinator Lapangan Hendriono mengutuk tindakan anarkis aparat yang telah bertindak kasar dan memperlakukan mahasiswa secara tidak bermoral.

“Saya kira, baru kali ini dalam sejarah HMI, ketua umumnya dinjak-injak aparat kepolisian karena sejak Akbar Tandjung dan Anas Urbaningrum, belum ada demo HMI diinjak-injak aparat secara sadis dan brutal,” kata Hendriono.

Menurut Hendriono, karena Ketua Umum PB HMI sudah diinjak-injak, pihaknya akan melakukan aksi pembalasan untuk menggalang massa yang lebih besar lagi di seluruh Indonesia.

“Beberapa aktivis HMI akan menggalang solidaritas melakukan aksi balasan di seluruh Indonesia, apalagi tindakan anarkis dan represif kepolisian itu sudah terlihat di televisi. Karena itu, perilaku aparat kepolisian secara brutal ini sudah melanggar HAM dan kalau perlu kami laporkan ke Mahkamah Internasional,” katanya.

Sementara itu, Ketua Umum PB HMI Nur Fajriansyah menyatakan, dirinya mengutuk keras tindakan represif aparat keamanan yang telah meginjak-injak dirinya, apalagi jabatan Ketua Umum PB HMI adalah simbol kebesaran organsasi yang sudah dihina oleh polisi.

“Saya tidak terima perlakuan anarkis yang dilakukan kepolisian dan akan menuntutnya,” katanya.

Kericuhan bermula pada saat pengunjuk rasa, yang berjumlah sekitar 500 mahasiswa, menerobos ring satu Istana Negara. Aksi saling dorong tak terelakkan, meski beberapa mahasiswa berhasil menerobos. Pada saat itulah, beberapa mahasiswa dari PB HMI, termasuk ketua umumnya Nur Fajriansyah diinjak-injak aparat keamanan, sedangkan pengunjuk rasa lainnya dipukuli, meski dengan tangan kosong.

Gabungan pergerakan pemuda mahasiswa dan pelajar kembali turun ke jalan mengepung Istana Negara siang ini (Senin, 24/1). Sekitar 100 mahasiswa yang berasal dari berbagai organisasi ini bentrok berdarah dengan polisi, bahkan Ketua Umum PB HMI Nur Fajri luka-luka dan memar wajahnya dipukuli aparat. Ini sinyal rezim SBY-Boed kian represif dan menggunakan kekerasan brutal terhadap mahasiswa..

Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam, Nur Fajriansyah, mengutuk keras aparat Kepolisian yang telah bertindak represif terhadap pengunjuk rasa di Istana Negara, Jakarta, termasuk kepadanya sendiri, yang diinjak-injak aparat.

Akibat diinjak-injak, kepala Nur Fajriansyah terlihat memar.

“Saya mengutuk keras tindakan represif aparat keamanan dan tidak mungkin ini dibiarkan. Karena jabatan Ketua Umum HMI adalah simbol kebesaran organsasi yang sudah dihina oleh polisi,” tegasnya di Istana Negara, Jakarta (Senin, 24/1).

Di tempat yang sama, Koordinator Lapangan, Hendriono juga mengutuk tindakan aparat tersebut. Dia menegaskan, baru kali ini dalam sejarah HMI, Ketua Umum diinjak aparat Kepolisian. “Kita lihat (Akbar Tanjung dan Anas Urbaningrum), dari zaman mereka, belum ada yang diinjak-injak Polri,” tukasnya.

Karena Ketum PB HMI sudah diinjak-injak, dia menegaskan, akan ada aksi pembalasan dari HMI di seluruh Indonesia. Dan saat ini, akunya, dia baru mendapat kabar dari HMI Makassar, siap melakukan aksi pembalasan. Mereka sebelumnya melihat tindakan represif aparat dari layar kaca televisi.

“Teman-teman HMI di seluruh Indonesia juga sudah mendapat kabar dan siap melakukan aksi pembalasan,” ungkapnya sambil mengaku saat ini tiga bus mahasiswa sedang menuju Istana, karena terpicu tindakan represif aparat.

Saat ini, mahasisa sedang bernegosiasi dengan aparat untuk meminta kawan mereka yang diamankan sebelumnya.

Sebelumnya, mereka menggelar unjuk rasa di depan Istana Negara Jakarta (Senin, 24/1). Tuntutannya, meminta rezim Susilo Bambang Yudhoyono untuk berhenti melakukan pembohongan.

“Tuntutan kita hentikan pembohongan. Kita kan menjadi bagian dari badan bekerja tokoh agama. Ini aksi pertama kita setelah tokoh agama menyampaikan sikap,” kata Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Ton Abdillah Haz.

Dalam aksi tadi, Ton menyesalkan tindakan represif dari aparat keamanan. Pasalnya, dua pengunjuk rasa, Hengky F Mattan, akvitis Liga Mahasiswa Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi dan Tigor Hutapea dari Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia ditangkap

Sedangkan beberapa pengunjuk rasa mengalami tindakan represif dari aparat. Mereka adalah Ahmad Latupono, aktivis HMI MPO, Ogi aktivis Liga Mahasiswa Liga Mahasiswa Nasional Untuk Demokrasi, Aldo, Nur Fajri (Ketua umum PB HMI), dan Kiki dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Trisakti.

Tak hanya itu, Ahmad Nurhidayat, Zaidi Basiturrazak, Baits Diponegoro, Supriadi Djae, Iswan dan Karim dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Gusti Persatuan Mahasiswa Kristren Republik Indonesia dan sopir mobil sound juga mengalami hal yang sama.

Dia menduga, Kepolisian berani melakukan hal tersebut, karena jumlah pengunjuk rasa tidak banyak. “Kita memang tidak mengerahkan massa dalam jumlah besar. Yang demo ini hanya pengurus pusat dari masing-masing organisasi mahasiswa. Makanya tadi Ketua Umum PB HMI (Nur Fajriansyah) termasuk yang diinjak-injak,” terangnya.

Meski Hengky F Mattan dan Tigor Hutapea yang ditangkap sebelumnya telah dilepaskan, mahasiswa kata Ton, tetap akan menggelar unjuk rasa, meski waktunya belum ditentukan.
Aksi ini merupakan tindaklanjut dari Mimbar Akbar Pemuda, Mahasiswa dan Pelajar pada pekan lalu. Rencananya, aksi dimulai pukul 11.00 WIB berangkat dari markas Pelajar Islam Indonesia, Menteng Raya, dilanjutkan longmarch menuju Istana Negara. Menurut Ketua Umum PII, M Ridho, aksi hari ini bersifat damai dan diharapkan menjadi pemantik bagi aksi-aksi lainnya di daerah.

“Setelah aksi ini, setiap elemen yang bergabung dalam koalisi ini akan menginstruksikan kepada strukturnya di daerah-daerah untuk melakukan aksi dengan mengusung isu yang sama yaitu gerakan ‘perubahan sudah tidak bisa ditunda lagi’,” tegas Ridho dalam pernyataan kepada pers dan Rakyat Merdeka Online, sesaat lalu.

Namun, lagi-lagi demonstrasi mahasiswa hari ini dipastikan tidak akan mendapat atensi dari pihak Istana, apalagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono beserta rombongan bertolak ke India pagi ini, sementara Wapres Boediono berada di Hotel Bidakara membuka Munas PP Polri.

Pada rapat koordinasi yang persiapan aksi lalu (Sabtu, 22/1) tercatat beberapa elemen pemuda, mahasiswa dan pelajar menyatakan bergabung dalam aksi tersebut. Elemen-elemen gerakan tersebut diantaranya adalah PII (Pelajar Islam Indonesia), HMI-MPO (Himpunan Mahasiswa Islam – Majelis Penyelamat Organisasi), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katholik Indonesia), LMND (Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi), HMI-Dipo (Himpunan Mahasiswa Islam – Dipo), GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia), Hikmahbudhi (Himpunan Mahasiswa Budha), Senat Mahasiswa UI, KMHDI (Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia), KAMTRI (Keluarga Mahasiswa Trisakti), BEM UMB (BEM Universitas Mercu Buana), BEM Nusantara, PMII Jakarta Timur.

Sebelumnya elemen-elemen tersebut telah melakukan rangkaian pertemuan secara intensif dan mereka sepakat merumuskan “7 Cita-cita Kaum muda, mahasiswa dan pelajar Indonesia. Mereka juga akan mengusung satu slogan bersama, yaitu “Perubahan Sudah Tidak Dapat Ditunda”. Mereka mendesak SBY-Boed turun