HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) Terpecah Menjadi Dua

Pasal 1 NAMA Organisasi ini bernama Himpunan Mahasiswa Islam disingkat HMI. Inilah nama yang ada dalam konstitusi HMI.

Kejayaan HMI berada pada era 1947-1986 Masehi. HMI bisa jaya karena komitmen para kadernya yang sangat menjunjung tinggi nilai Islam dan berpihak kepada rakyat. Pada tahun 1965, HMI merupakan organisasi Islam yang sangat besar sehingga keberadaannya sangat mempengaruhi politik pada saat itu. Semua ini adalah kerja keras dari sosok yang sangat bijaksana dan berwibawa, yaitu Prof. Drs. H. Lafran Pane. Dan pada masa O. Komaruddin (1962-1966) terjadi konsolidasi organisasi mahasiswa yang kemudian bersatu dengan nama Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAmi) yang sudah geram dengan keberadaan politik Soekarno yang tidak membubarkan PKI. Pelopor terbentuknya KAMI adalah HMI dan GMNI yang saat itu merupakan organisasi mahasiswa yang besar. Dan pada tanggal 30 September 1965 (G 30 S PKI)terjadilah pembantaian, pemerkosaan dan pengejaran terhadap semua jajaran PKI yang dipimpin oleh Soeharto. Pada peristiwa pendudukan gedung DPR/MPR tanggal 18-23 Mei 1998, HMI-MPO adalah ormas satu-satunya yang menduduki gedung tersebut di hari pertama bersama FKSMJ dan FORKOT yang kemudian diikuti oleh ratusan ribu mahasiswa dari berbagai universitas dan kota hingga Soeharto jatuh pada 21 mei 1998. Pasca jatuhnya Soeharto, HMI MPO masih terus demonstrasi mengusung gagasan perlu dibentuknya Dewan Presidium Nasional bersama FKSMJ. Dua peristiwa diatas merupakan suatu prestasi besar HMI. Tetapi, itu semua hanyalah sebuah cerita dongeng untuk saat ini karena HMI sudah dibunuh oleh rezim Soeharto yang menerapkan azas tunggal Pancasila sejak forum kongres di Padang pada tanggal 24-31 Maret 1986. Ketua Umum PB HMI terakhir adalah Harry Azhar Aziz, sosok ini adalah sosok terakhir yang menjalankan HMI yang sebenarnya dan bukan HMI boneka.

Di tengah masa Harry Azhar Aziz HMI terpecah menjadi dua, yaitu HMI yang menerima penerapan asas tunggal (HMI-DIPO) dan HMI yang menolak asas tunggal (HMI-MPO), dan tetap menjadikan Islam sebagai asas organisasi. Selanjutnya kedua HMI ini berjalan sendiri-sendiri. HMI DIPO eksis dengan segala fasilitas negaranya, dan HMI MPO tumbuh menjadi gerakan bawah tanah yang kritis terhadap kebijakan-kebijakan negara. Pada periode 90-an awal HMI MPO adalah organisasi yang rajin mengkritik kebijakan Rezim Orba dan menentang kekuasaannya dengan menggunakan sayap-sayap aksinya yang ada di sejumlah provinsi. Sayap aksinya yang terkenal antara lain adalah FKMIJ (Forum Komunikasi Mahasiswa Islam Jakarta) dan LMMY (Liga Mahasiswa Muslim Yogyakarta) di Jogyakarta tempat berkumpulnya para aktivis demokrasi LMMY merupakan sebuah organisasi masa yang disegani selain PRD dan SMID.