Himbauan untuk umat islam dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Melalui Ketua Majeles Ulama Indonesia (MUI) Bidang Seni dan Budaya, Khalil Ridwan menyatakan, haram hukumnya menonton konser Lady Gaga. Namun, imbauan ini sepertinya tak membuat tiket nonton penyanyi dari Amerika Serikat ini tak laku. 40 ribu tiket dipastikan sudah laku terjual alias ludes.

Dikutip dari eramuslim.com, Khalil Ridwan menegaskan, Indonesia sebagai negara yang memeluk agama Islam terbesar seakan menjadi sasaran empuk invasi budaya Barat. Dengan populasi umat muslim terbanyak, Indonesia dikhawatirkan menjadi satu bentuk negara Islam yang tak diinginkan pihak barat.

Tak heran, kata Khalil, untuk memuluskan program tersebut, maka musuh-musuh Allah mulai menyuplai artis-artis mancanegara yang biasa menampilkan unsur-unsur haram seperti Lady Gaga, penyanyi kelahiran Amerika Serikat, 28 Maret 1986. Khalil juga tegas menyatakan, Lady Gaga, gaunnya kerap mengumbar aurat dan bisa merangsang lawan jenis.

“Hal itu agar umat Islam bisa menerima suatu budaya yang diharamkan. Bahkan menjadi sesuatu yang menyenangkan. Konser (Lady Gaga) ini bisa menghancurkan moral Bangsa Indonesia ,” tegasnya seraya mengingatkan, jika dibiarkan, akan sangat berbahaya bagi umat Islam.

Michael Rusli President Director Big Daddy Live Concerts, saat dikonfirmasi wartawan, Senin (19/3/2012) kemarin memastikan kembali, tiket konser sudah sold out. Sedianya, Lady Gaga akan menggelar aksinya di Stadion Gelora Bung Karno pada 3 Juni mendatang dengan konser bertajuk The Born This Way Ball.

Bahkan, pada Sabtu (10/3/2012) lalu, dalam tiga jam saja tiket Lady Gaga langsung ludes yang dijual di FX Plaza. Paling mahal, tiket nonton Ladyu Gaga mencapai Rp 2.250.000 dan yang palinh murah Rp 1.250.000.

Larangan Majelis Ulama Indonesia atas rencana konser Lady Gaga di Indonesia menuai beragam komentar dari anggota DPR.

“Alasannya kenapa? Menurutku itu berlebihan,” kata Sekretaris Fraksi PKB DPR Hanif  Dhakiri kepada Antara di Jakarta.
Hanif mengemukakan penyelenggaraan sebuah konser tentu memakan biaya yang mahal dan perlu persiapan yang matang.

“Menyelenggarakan konser itu tidak mudah dan biayanya juga besar. Kalau tiba-tiba dipotong begitu dengan fatwa tolak menolak, ya kasihan penyelenggaranya. Kalau main potong begini, banyak pihak dirugikan. Lagi pula, Indonesia bukan negara Islam, jadi ukuran kepantasan umumnya pasti berbeda dengan negara Islam,” kata Hanif.

Dikatakan, bila memang ada larangan, maka seharusnya ‘event organizer’ yang ada dikumpulkan dan diberi pengertian yang lebih komprehensif.

“Kenapa ‘nggak’ dari awal konser di republik ini dikumpulin dan diberi pemahaman mengenai batas-batas etika dalam ‘performance’ konser. Mereka pasti akan mengerti asal pertimbangannya komprehensif,” kata Hanif lagi.

Sebelumnya, berbagai media memberitakan pernyataan Ketua Bidang Seni dan Budaya MUI KH Kholil Ridwan yang mengatakan konser Lady Gaga haram untuk disaksikan.

Sementara itu Partai Persatuan Pembangunan akan membahas hal tersebut terlebih dahulu sebelum bersikap.

“Kami belum memutuskan tapi akan dibahas di partai,” kata Ketua DPP PPP bidang Dakwah dan Agama Zainul Tauhid Saadi.
“Kami mengimbau agar masyarakat Indonesia tidak terbawa arus budaya Barat. Yang dibawa Lady Gaga lebih nuansa budaya Barat yang penuh tarian erotik. Ini sebuah peringatan moral, jangan larut dengan budaya asing,” kata anggota Komisi IV DPR RI tersebut.

Di lain pihak, Wakil Ketua DPR RI Pramono Anung tidak risau dengan konser Lady Gaga. Dia mengaku anak perempuannya penggemar berat Lady Gaga.

“Pasti dia nonton dengan rasional, karena mau ‘happy-happy’ saja. Anak saya sejak kecil sekolah di Al Azhar, dia tahu soal urusan agama,” kata Pramono di gedung DPR RI kemarin.

Ditambahkannya, penggemar  penyanyi yang pertunjukannya sering disebut “menghibur dan inovatif” itu berhak menyaksikan penampilan bintang pujaan mereka.

“Negara juga tidak membatasi dan tidak melarang itu,” kata Pramono.

Sementara, Ketua Komisi VIII DPR yang membidangi agama, Ida Fauziah mengatakan artis luar negeri yang ingin tampil di Indonesia sebaiknya memahami kultur dan budaya Indonesia.

“Harus disesuaikan dengan masyarakat Indonesia,”

Iklan