Jakarta – Dengan wajah yang cukup tegar Surya Paloh bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke kursi dimana Aburizal Bakrie (Ical) duduk. Surya mengucapkan selamat kepada Ical yang sedang sumringah setelah dipastikan menjadi Ketua Umum baru DPP Partai Golkar.

Ical pun berdiri sambil menyambut jabatan tangan Surya Paloh. Peserta Munas Golkar pun bertepuk tangan menyaksikan dua politisi yang juga sama-sama pemilik stasiun televisi. Ical dengan TV One dan Anteve, Surya Paloh dengan Metro TV dan harian Media Indonesia.

Jabatan tangan Surya dan Ical itu terjadi di hari terakhir Munas Golkar Oktober 2009 lalu di Pekanbaru, Riau. Publik bisa mengetahui peristiwa itu karena stasiun tv milik Surya dan Ical masing-masing menyiarkannya secara langsung.

Tidak heran jika banyak yang percaya, jabatan tangan Surya dan Ical setengah tahun lalu itu sebagai hal yang positif. Sebab bahasa tubuh dari kedua politisi sekaligus pengusaha tersebut, sangat jelas terbaca. Surya Paloh dan Aburizal Bakrie berdamai di ujung acara Munas Golkar.

Pascamunas, diperhitungkan Golkar akan semakin solid dan bakal menjadi partai politik terkuat kembali seperti di masa pemerintahan Orde Baru. Perhitungannya demikian sebab Ical sang pemenang dalam pidato pertamanya menjanjikan akan merangkul semua kekuatan. Maknanya, Surya Paloh akan bergabung dalam kepengurusan Golkar. Sinergi Ical dan Paloh akan menjadi sebuah kekuatan yang dahsyat karena media milik mereka akan menjadi mesin pembentuk opini publik.

Banyak yang meyakini, latar belakang budaya Surya dan Ical yang sama-sama berasal dari Sumatera, menjadi salah satu faktor yang memungkinkan mereka cepat berdamai. Mereka bisa bersaing dan berdamai secara terbuka. Tidak ada dusta dan dendam di antara mereka.

Ternyata perhitungan itu meleset. Jabatan tangan di 2009 itu bahkan menjadi semacam awal dimulainya sebuah perseteruan antar dua elit.
………
Akhir-akhir ini perseteruan Aburizal Bakrie dan Surya Paloh mulai tampak. Bahkan sadar atau tidak ikut menyeret masing-masing media miliknya.

Beberapa kalangan yang dekat dengan Aburizal Bakrie (Ical) bertutur bahwa sejak awal 2010, Ical memantau pemberitaan dua media milik Surya Paloh. Hasilnya, setiap hari berita tentang Ical atau yang terkait dengan usahanya tersiar atau tercetak di kedua media tersebut. Jumlahnya antara lima sampai sepuluh berita per hari.

Nah, yang membuat Ical kesal, berita-berita tersebut cenderung merugikan nama baik dirinya. Terlepas siapa yang memulai dan siapa yang mengakhiri, kejadian ini, merupakan persoalan serius..

Di era 1970-an, peristiwa yang mirip terjadi antara dua pemilik media. BM Diah penerbit Harian Merdeka dan Rosihan Anwar, pemilik suratkabar Pedoman. Diah dan Rosihan yang sama-sama berasal dari Sumatera, saling serang melalui media masing-masing.

Yang membedakan perseteruan Surya dan Ical serta Diah dan Rosihan, dua tokoh pers terakhir ini, tidak menjadi fungsionaris salah satu partai politik. Tapi perseteruan Diah dan Rosihan mirip perseteruan Ical dan Paloh yang dipicu persaingan memperebutkan posisi nomor satu di salah satu organisasi. Diah dan Rosihan berebut posisi Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat!

Dalam peta politik 2009-2010, Ical merupakan bagian dari kekuasaan. Tiga anak buah Ical di Golkar menjadi anggota Kabinet Indonesia Bersatu jilid II. Ical juga menjadi Ketua Harian Sekretariat Gabungan Partai Koalisi, dimana posisi ketua dijabat Presiden SBY. Sebaliknya, Paloh berada di luar kekuasaan. Paloh tersisih dari persaingan antarelit.

Sulit meramalkan bagaimana akhir perseteruan Ical dan Surya Paloh. Keduanya dikenal punya kekuatan uang. Berbeda dengan Diah dan Rosihan yang tidak berlanjut karena mesin tempur mereka tidak cukup kuat sebab sama-sama tidak punya peluru (uang).

Namun yang menjadi kekhawatiran adalah kalau-kalau perseteruan mereka menjadi komoditi publik. Rekayasa pemberitaan media dalam tahun-tahun terakhir ini, bukan lagi hal yang dianggap bertentangan dengan etika profesi.

Bagaimanapun Surya dan Ical merupakan manusia biasa. Mereka bisa tergoda. Sebagai pemilik mereka punya kewenangan mengubah konten media miliknya sesuai kepentingan dan kemauannya.

Sehingga bisa terjadi di permukaan terlihat masih sangat pro kepentingan umum, tetapi berita yang dikemas sejatinya sudah partisan atau demi kepentingan pribadi. Gejala ke arah itu sudah mulai terlihat.

Dalam kasus Century misalnya, Metro TV dan TV One oleh masyarakat agresif. Hampir semua sudut terkait Century, diungkap setransparan mungkin. Tetapi pengamat media yang kritis, melihat dengan jelas bahwa dibalik agresifitas itu ada kepentingan lain.

Pernyataan dan komentar yang menyudutkan pemerintahan SBY lebih laku di Metro TV. Sementara yang menyudutkan Sri Mulyani (mantan Menkeu) laku keras di TV One.

Oleh karena itu selama perseteruan Ical dan Surya belum terselesaikan, ke depan masyarakat perlu lebih kritis menyimak konten-konten media yang mereka miliki. Semoga saja kekhawatiran ini tidak menjadi kenyataan dan persahabatan kedua tokoh itu kembali terwujud. Karena harus diakui, Metro TV dan TV One merupakan dua media penyiaran yang sangat berjasa mengubah paradigma pemberitaan dan disiminasi informasi

jakarta – dengan wajah yang cukup tegar surya paloh bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke kursi dimana aburizal bakrie (ical) duduk. Surya mengucapkan selamat kepada ical yang sedang sumringah setelah dipastikan menjadi ketua umum baru dpp partai golkar.

Ical pun berdiri sambil menyambut jabatan tangan surya paloh. Peserta munas golkar pun bertepuk tangan menyaksikan dua politisi yang juga sama-sama pemilik stasiun televisi. Ical dengan tv one dan anteve, surya paloh dengan metro tv dan harian media indonesia.

Jabatan tangan surya dan ical itu terjadi di hari terakhir munas golkar oktober 2009 lalu di pekanbaru, riau. Publik bisa mengetahui peristiwa itu karena stasiun tv milik surya dan ical masing-masing menyiarkannya secara langsung.

Tidak heran jika banyak yang percaya, jabatan tangan surya dan ical setengah tahun lalu itu sebagai hal yang positif. Sebab bahasa tubuh dari kedua politisi sekaligus pengusaha tersebut, sangat jelas terbaca. Surya paloh dan aburizal bakrie berdamai di ujung acara munas golkar.

Pascamunas, diperhitungkan golkar akan semakin solid dan bakal menjadi partai politik terkuat kembali seperti di masa pemerintahan orde baru. Perhitungannya demikian sebab ical sang pemenang dalam pidato pertamanya menjanjikan akan merangkul semua kekuatan. Maknanya, surya paloh akan bergabung dalam kepengurusan golkar. Sinergi ical dan paloh akan menjadi sebuah kekuatan yang dahsyat karena media milik mereka akan menjadi mesin pembentuk opini publik.

banyak yang meyakini, latar belakang budaya surya dan ical yang sama-sama berasal dari sumatera, menjadi salah satu faktor yang memungkinkan mereka cepat berdamai. Mereka bisa bersaing dan berdamai secara terbuka. Tidak ada dusta dan dendam di antara mereka.

Ternyata perhitungan itu meleset. Jabatan tangan di 2009 itu bahkan menjadi semacam awal dimulainya sebuah perseteruan antar dua elit.
………
Akhir-akhir ini perseteruan aburizal bakrie dan surya paloh mulai tampak. Bahkan sadar atau tidak ikut menyeret masing-masing media miliknya.

Beberapa kalangan yang dekat dengan aburizal bakrie (ical) bertutur bahwa sejak awal 2010, ical memantau pemberitaan dua media milik surya paloh. Hasilnya, setiap hari berita tentang ical atau yang terkait dengan usahanya tersiar atau tercetak di kedua media tersebut. Jumlahnya antara lima sampai sepuluh berita per hari.

Nah, yang membuat ical kesal, berita-berita tersebut cenderung merugikan nama baik dirinya. Terlepas siapa yang memulai dan siapa yang mengakhiri, kejadian ini, merupakan persoalan serius..

di era 1970-an, peristiwa yang mirip terjadi antara dua pemilik media. Bm diah penerbit harian merdeka dan rosihan anwar, pemilik suratkabar pedoman. Diah dan rosihan yang sama-sama berasal dari sumatera, saling serang melalui media masing-masing.

Yang membedakan perseteruan surya dan ical serta diah dan rosihan, dua tokoh pers terakhir ini, tidak menjadi fungsionaris salah satu partai politik. Tapi perseteruan diah dan rosihan mirip perseteruan ical dan paloh yang dipicu persaingan memperebutkan posisi nomor satu di salah satu organisasi. Diah dan rosihan berebut posisi ketua umum persatuan wartawan indonesia (pwi) pusat!

Dalam peta politik 2009-2010, ical merupakan bagian dari kekuasaan. Tiga anak buah ical di golkar menjadi anggota kabinet indonesia bersatu jilid ii. Ical juga menjadi ketua harian sekretariat gabungan partai koalisi, dimana posisi ketua dijabat presiden sby. Sebaliknya, paloh berada di luar kekuasaan. Paloh tersisih dari persaingan antarelit.

sulit meramalkan bagaimana akhir perseteruan ical dan surya paloh. Keduanya dikenal punya kekuatan uang. Berbeda dengan diah dan rosihan yang tidak berlanjut karena mesin tempur mereka tidak cukup kuat sebab sama-sama tidak punya peluru (uang).

namun yang menjadi kekhawatiran adalah kalau-kalau perseteruan mereka menjadi komoditi publik. Rekayasa pemberitaan media dalam tahun-tahun terakhir ini, bukan lagi hal yang dianggap bertentangan dengan etika profesi.

Bagaimanapun surya dan ical merupakan manusia biasa. Mereka bisa tergoda. Sebagai pemilik mereka punya kewenangan mengubah konten media miliknya sesuai kepentingan dan kemauannya.

Sehingga bisa terjadi di permukaan terlihat masih sangat pro kepentingan umum, tetapi berita yang dikemas sejatinya sudah partisan atau demi kepentingan pribadi. Gejala ke arah itu sudah mulai terlihat.

dalam kasus century misalnya, metro tv dan tv one oleh masyarakat agresif. Hampir semua sudut terkait century, diungkap setransparan mungkin. Tetapi pengamat media yang kritis, melihat dengan jelas bahwa dibalik agresifitas itu ada kepentingan lain.

pernyataan dan komentar yang menyudutkan pemerintahan sby lebih laku di metro tv. Sementara yang menyudutkan sri mulyani (mantan menkeu) laku keras di tv one.

oleh karena itu selama perseteruan ical dan surya belum terselesaikan, ke depan masyarakat perlu lebih kritis menyimak konten-konten media yang mereka miliki. Semoga saja kekhawatiran ini tidak menjadi kenyataan dan persahabatan kedua tokoh itu kembali terwujud. Karena harus diakui, metro tv dan tv one merupakan dua media penyiaran yang sangat berjasa mengubah paradigma pemberitaan dan disiminasi informasi. [mdr]

Iklan