Pejabat penting militer AS memulai serangkaian pertemuan tingkat tinggi dengan para pemimpin Israel, Jumat (20/1/2012), di tengah kekhawatiran internasional yang meningkat bahwa Israel bisa bertindak sendiri untuk menggagalkan program nuklir Iran.

Dalam lawatan pertamanya ke Israel sejak ditunjuk sebagai Ketua Kepala Staf Gabungan, Jenderal Martin Dempsey, tampil untuk meredakan perbedaan kebijakan antara kedua negara itu dan mengukuhkan kerja sama AS – Israel. Dalam pertemuan dengan mitranya dari Israel, Letnan Jenderal Benny Gantz, Dempsey mengatakan, kunjungannya mencerminkan “komitmen yang kami miliki terhadap satu sama lain, dan saya di sini untuk meyakinkan Anda bahwa itulah yang terjadi.”

Gantz menyuarakan kembali pentingnya kerja sama antara kedua negara, tapi juga menyinggung adanya perbedaan dalam pendekatan kebijakan. “Saya tahu bahwa kedua negara kami punya minat yang sama, nilai yang sama, dan saya yakin, bagaimanapun juga, kami dapat mengerjakan itu secara bersama-sama,” kata Gantz kepada Dempsey.

Dalam sebuah pertemuan setelah itu, Dempsey diberitahu Presiden Israel Shimon Peres bahwa Israel percaya pada militer Amerika Serikat dan “bahwa bahkan saat ini dalam situasi yang sangat rumit kita bisa menemukan kesamaan.”

Kunjungan Dempsey, yang para pejabat dari kedua belah pihak hanya menggambarkan sebagai sebuah kesempatan untuk membahas masalah keamanan regional, terjadi saat ketegangan terkait program nuklir Iran terus meningkat. Pemerintahan Obama telah mendorong para sekutu untuk menandatangani sejumlah sanksi yang menyasar industri minyak dan bank sentral Republik Islam itu. Sementara para pemimpin Iran telah mengeluarkan ancaman untuk menutup Selat Hormuz, titik transit penting bagi seperlima dari penyaluran minyak dunia. AS telah memperingatkan Iran terkait ancaman tersebut.

Para pejabat di Washington berharap, pengetatan jerat sanksi akan memaksa Iran meninggalkan apa yang Gedung Putih yakin sebagai upaya Iran untuk memproduksi senjata nuklir. Iran telah membantah bahwa pihaknya mengupayakan senjata nuklir. Negara itu menegaskan, program nuklirnya murni untuk tujuan sipil.

Kunjungan Dempsey ke Israel saat ini secara luas dipandang sebagai upaya AS untuk meyakinkan Israel agar biarkan dulu sanksi-sanksi itu diterapkan dan untuk mencegah setiap tindakan militer sepihak Israel terhadap Iran. Meski Pemerintah Israel menyambut langkah nonmiliter yang lebih keras terhadap Iran, sejumlah pejabat Israel telah mempertanyakan efektivitas penerapan sanksi tersebut.

Hari Minggu lalu Wakil Perdana Menteri Israel, Moshe Ya’alon, mengatakan kepada radio Israel, “Di pemerintahan AS ada keraguan karena takut harga minyak naik tahun ini.” Menurut Ya’alon, keraguan itu terkait dengan penyelenggaraan pemilu di AS tahun ini. Menurut dia, hal itu merupakan sesuatu yang “mengecewakan” Israel.

Sumber :CNN