Setiap tanggal 17 Agustus di negeri ini selalu hiruk pikuk dengan perayaan hari kemerdekaan. Berbagai acara di selenggarakan mulai dari Upacara Bendera, perlombaan dan juga syukuran semua berbaur menjadi satu. Namun setiap kali memperingati kemerdekaan tidak satupun kemerdekaan yang secara hakiki dapat terwujud. Bangsa Indonesia masih terjajah baik secara ekonomi. sosial, budaya dan juga hukum. Terjajahnya Indonesia dalam ekonomi sangat terlihat jelas dan sangat begitu nyata perbedaan dan kesenjangannya antara si kaya dan si miskin.

Negara Indonesia yang begitu kaya akan alam dan sumber daya manusianya tidak berdaya ketika ” orang lain ( negara asing .red) menguasa semua lahan yang seharusnya menjadi milik Rakyat Indonesia. Kita bisa melihat bagaimana perusaahaan asing yang bermodal besar dengan rakusnya mampu mengeruk dan mengambil keuntungan yang begitu besar dari kekayaan alam Indonesia yang seharusnya menjadi milik rakyat. Batu Bara, Tambang, Emas, Perak dan Minyak semua telah di kuasai Asing. Indonesia hanya jadi “budak” di negerinya sendiri padahal secara kasat mata kita sudah merdeka yang berarti bebas dari belenggu penjajah akan tetapi nyata sekarang adalah ? Indonesia terjajah secara sistematis. herannya para penguasa dan penyelenggara negeri ini tidak menyadari dan sekan mereka membiarkan hartanya di ambil oleh negara lain. Mereka beralasan dengan seribu macam alasan yang kesannya membuat rakyat atau pengusa Asing itu senang.

Kemerdekaan yang telah di raih dengan pengorbanan yang begitu besar seakan menjadi sia-sia. Beribu nyawa melayang demi mendapatkan kemerdekaan dan terbebas dari belenggu penjajah. Landasan yang telah di torehkan oleh para pejuangpun tidak satupun menjadi acuan para pemimpin. Kesejahteraan yang telah di gariskan dalam suatu UUD pun sama sekali tidak berarti dan mengikat semua hanya tulisan dan ucapan kosong belaka yang pada akhirnya sangat merugikan rakyat Indonesia.

Kalau sudah seperti ini, layakkah Indonesia di katakan merdeka secara hakiki apabila melihat kondisi negeri Indonesiasekarang ini?jawabannya adalah tidak layak karena begitu banyak ketimpangan dan kesenjangan yang terjadi di negeri ini.Yang ada hanya kemerdekaan semu, merdeka hanya sebatas peringatan namun dalam kehidupan nyata negeri dan rakyat ini terlalu besar menanggung derita yang telah di pancangkan oleh negara asing. sampai kapan bangsa dan para pemimpin negeri ini menyadari kalau harta yang ” kita “punya telah ludes dan habis di keruk oleh bangsa-bangsa penghisap darah yang serakah.

Jadikanlah kemerdekaan yang ke-66 kali ini sebagai kebangkitan bangsa Indonesia menuju negara yang besar dan bermartabat sehingga tidak selalu di remehkan dan di injak-injak harga diri bangsa oleh negara lain. Kembalikan kekayaan Indonesia yang ada dan kelolalah dengan baik dan sungguh-sungguh. Bukankah negeri ini begitu banyak mempunyai orang-orang cerdas, pintar dan kridibel dalam segala bidang?
Setelah 57 tahun tepatnya 17 Agustus 1945 atas nama bangsa Indonesia Soekarno Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia yg menandai berakhirnya penjajahan asing secara fisik di bumi pertiwi ini sudah seharusnya kita kembali berkaca mengukur prestasi yg telah dicapai oleh sebuah bangsa yg bernama Indonesia mencatat kelemahan yg ada agar tak terulang kembali mengidentifikasi masalah yg harus sesegera mungkin diselasaikan. Marilah berkaca ke negeri lain dalam hal yg positif seperti kemajuan teknologi pendidikan ekonomi dan yg terpenting sikap mental positif serta keluhuran akhlak dan budi pekerti. Ambilah contoh Jepang negara yg pernah menjajah kita selama 35 tahun itu kembali ke negerinya dan menyerah kepada sekutu krn dua kota besarnya Hiroshima dan Nagasaki hancur di bom atom pada tanggal 6 dan 9 Agustus 1945. Pada saat yg sama kita sedang memasuki babak baru mematangkan kemerdekaan yg sudah dipersiapkan dari tanggal 28 Mei 1945 dgn dibentuknya BPUPKI sampai proklamasi 17 Agustus 1945. Boleh dikatakan bahwa saat itu bangsa kita dan Jepang sama-sama mulai membangun dari nol. Akan tetapi dalam waktu yg sama mengap kita terpaut begitu jauh dgn Jepang dari segi kemajuan teknologi pendidikan dan ekonomi? Kita boleh bangga krn telah mampu membangun industri pesawat terbang sebuah barang yg masih tergolong mewah. Kita boleh bangga ketika tiga siswa muda Indonesia berhasil meraih medali emas di olimpiade fisika. Kita pun boleh bangga ketika piala thomas dan uber dapat diboyong berkali-kali ke negeri ini walaupun dgn berbagai catatan. Akan tetapi dari kesemuanya itu ternyata penghargaan serta perhatian masarakat terhadap hal-hal yg bersifat mendasar dan mendatangkan manfaat masih bisa dihitung dgn jari bila dibandingkan dgn berbagai macam prestasi buruk yg disandang bangsa ini sebutlah korupsi yg menempati posisi tertinggi angka pengangguran yg terus bertambah kemiskinan yg terus membengkak. Belum lagi merebaknya dekadensi moral yg ditandai dgn tingginya angka kriminalitas perjudian perkosaan prilaku sex bebas dan seabreg daftar yg membuat hati kita miris. Bila kita mengamati kesemuanya itu adl akibat timpangnya pembangunan yg selama ini diprioritaskan oleh para pemegang kebijakan di negeri yg kaya raya ini. Kita hanya melihat lahiriah bangsa lain dan ingin berlari mengejarnya tanpa melihat jerih payah mereka sebelum sampai ke tingkat yg sekarang ini mereka ni’mati. Kita terlalu silau dgn kemajuan barat yg dianggap keluar sebagai kampiun dalam segala bidang sehingga apa yg datang dari mereka harus diikuti dan menjadi tren masa kini. Sayangnya bukan hal positif seperti perkembangan ilmu pengetahuan yg kemudian dicontoh tetapi sebatas simbol-simbol semu kemajuan perilaku menyimpang dari aturan agama dan tradisi mulia masarakat. Muhammad Qutb salah seorang pemikir muslim dari Mesir mengingatkan bahwa hal paling berbahaya akibat penjajahan adl mental rendah diri sebagai bangsa yg terjajah dan tradisi membebek pada bangsa yg dahulu menjajahnya atau dianggap lbh hebat dan termasuk super power. Inilah potret bangsa kita yg selama 57 tahun kemerdekaannya rakyatnya belum mampu mencicipi melimpahnya kekayaan negeri yg mereka diami. Mengapa? Karena pendidikan masih mahal harga terus melambung sementara di sisi lain pameran mobil sampai harga milyaran rupiah selalu diserbu pembeli dan laris bak kacang goreng. Kemerdekaan ini ternyata baru dini’mati segelintir orang saja di negeri ini sementara itu rakyat kecil bagian terbesar bangsa ini belum merasakan ni’matnya kemerdekaan. Apalah artinya merdeka jika keadaanya tidak berbeda dgn zaman penjajahan dulu hidup susah! Ketika Jepang hancur krn dibom hal pertama kali yg dilakukan kaisar Jepang adl mengumpulkan guru-guru yg tersisa dan mulailah mereka membangun negaranya lewat pendidikan. Falsafah hidup harakiri yg dimiliki bangsa Jepang lebih baik mati daripada hidup menanggung malu krn tidak mampu melaksanakan tugas adl kelebihan tersendiri yg mereka miliki. Itulah yg membedakan kita dgn mereka. Hal pertama yg kita lakukan ketika hendak membangun negeri ini bukan membenahi dan memperioritaskan pendidikan tetapi mencari pinjaman pada “drakula IMF” kemudian mendahulukan pembangunan fisik yg ternyata terbukti rapuh krn dia tidak memiliki pijakan kuat berupa ilmu dan akhlak. Apalagi ditambah mental bangsa kita yg sedikit demi sedikit terus menurun ke titik nadir baik krn memang serbuan budaya asing yg destruktif akibat sikap inferior yg dimiliki sebagai bangsa yg belum bisa melepaskan diri dari mental terjajah atau krn memang kita-terutama para pemimpin-tidak mempunyai budaya malu padahal jelas rasa malu itulah kunci dari kesuksesan hidup krn ia merupakan bagian dari iman. Seperti kata Rasulullah “Malu itu sebagian dari iman.” . Kita bersukur ketika pemerintah akhirnya menaikan anggaran negara utk pendidikan sebesar 20% tetapi di sisi lain kita memiliki satu kekhawatiran apakah anggaran yg 20% itu akan sampai ke masarakat yg memang betul membutuhkan ataukah akan bernasib seperti anggaran-anggaran terdahulu yg hanya menjadi bancakan para pemegang amanah yg kebanyakan sudah “kehilangan” rasa malu. Jadi problem terbesar yg pertama kali harus diatasai adl menghilangkan sifat inferior sehingga kita dapat bersikap tegas terhadap IMF yg selama ini menjadi alat penjajahan gaya baru negara-negara maju. Dan yg kedua adl menanamkan budaya malu sebab bila rasa malu sudah hilang orang bisa melakukan apa saja sesuai dgn hawa nafsunya. Rasulullah bersabda “Jika engkau sudah tidak memiliki rasa malu maka berbuatlah sesukamu.”

Iklan