Kalau pedoman dakwah Islam menurut Al-Quran adalah Laa Ikraa ha fiddin dan lakum dinukum waliyadin sedangkan pedoman Kristenisasi menurut Bible adalah perintah untuk mengkristenkan seluruh dunia termasuk perintah untuk mengkristenkan orang Islam di Indonesia. Samakah semua agama? Ternyata tidak sama. Samakah antara Bible dengan Al-Quran? Ternyata tidak sama. Pedoman dakwah manakah yang menciptakan kerukunan antar umat beragama? Dakwah Islam-lah yang akan mewujudkan kerukunan hidup antar umat beragama. Karena Islam adalah rahmatan lil ‘alamin.

Ayat-ayat tersebut ditindaklanjuti dengan instruksi kristenisasi dari pihak gereja Katolik mapun Protestan, bahkan disiarkan juga dalam Konferensi Gereja di Al-Quds.

1.Instruksi Kristenisasi dari Paus (Katolik)

Berikut ini instruksi Kristenisasi dari Paus yang merupakan pimpinan tertinggi gereja Katolik.
Koran The Straits Time edisi 24 Januari 1991 memuat surat edaran Paus yang berisi seruan Paus Johanes Paulus II, kepada Kaum Katholik untuk menyebarkan agama Kristen. Dalam Surat Edaran atau Fatwa gerejani yang dikatakan sebagai ”Redemptoris Missio” atau The Churchs Missionary Mandate itu, diserukan, agar umat Katholik mengambil tindakan untuk menyebarkan ajaran Katholik. Paus menegaskan pentingnya melakukan Kristenisasi terhadap semua bagian dunia (to evangelise in all parts of the worlds), termasuk negeri-negeri dimana hukum Islam melarang perpindahan agama.

Paus menekankan agar negara-negara Islam demikian juga negara-negara lainnya, segera mencabut peraturan-peraturan yang melarang orang Islam masuk agama lain. Tanpa menyebut negara secara langsung, Paus menyinggung negara-negara di kawasan Timur Tengah, Afrika dan Asia, dimana para misionaris ditolak kehadirannya. Kepada mereka Paus mengatakan, “Bukalah pintu untuk Kristus (Open the doors to Christ)!”

Instruksi Paus tersebut makin menampakkan adanya pemaksaan dalam mengemban misi Kristenisasi terhadap negeri-negeri Islam. Pemaksaan seperti ini tidak ada dalam ajaran Islam.

2.Instruksi Kristenisasi dari Prostestan
Terdapat dalam buku sejarahwan Kristen, Dr. Berkhof yang berjudul, Sejarah Gereja, penerbit BPK Gunung Mulia, cet.ke-8 th.1990 hal.321 :
“Boleh kita simpulkan bahwa Indonesia adalah suatu daerah pekabaran Injil yang diberkati Tuhan dengan hasil yang indah dan besar atas penaburan bibit firman Tuhan. Jumlah orang Kristen Protestan sudah 134 ribu lebih, akan tetapi jangan kita lupa … ditengah-tengah 150 juta penduduk. Jadi tugas zending gereja-gereja muda di benua ini masih sangat luas dan berat. Bukan saja sisa kaum kafir yang tidak seberapa banyak itu yang perlu mendengar kabar kesukaan, tetapi juga kaum Muslimin yang besar yang merupakan benteng agama yang sukar sekali dikalahkan oleh pahlawan-pahlawan Injil. Apalagi bukan saja rakyat jelata, lapisan bawah, yang harus ditaklukkan oleh Kristus, tetapi juga dan terutama pada pimpinan masyarakat, kaum cendekiawan, golongan atas dan tengah” (Dr. Berkhof, 1990)

Misi kristenisasi di Indonesia sudah berlangsung sejak masuknya penjajahan Belanda dengan membawa agama Protestan dan Portugis membawa agama Katolik.

3.Konferensi Gereja Al-Quds
Instruksi Kristenisasi terhadap kaum muslimin juga disiarkan di Konferensi Gereja Al-Quds pada tahun 1935. Sebagaimana pidato Samuel Zweimer :

“Misi utama kita bukan menghancurkan kaum Muslim. Sebagai seorang Kristen tujuan kalian adalah mempersiapkan generasi baru yang jauh dari Islam, generasi yang sesuai dengan kehendak kaum penjajah, generasi malas yang hanya mengejar kepuasan hawa nafsu”. (Samuel Zweimer, 1935)

Apakah yang dimaksud dengan “generasi yang jauh dari Islam”? Maksudnya target misi Kristenisasi adalah menjauhkan umat Islam dari agamanya sendiri, menjauhkan umat Islam dari kitab suci Al-Quran dan Al-Hadits, mempengaruhi umat Islam untuk cukup Islam sebatas di KTP. Inilah yang dimaksud Zweimer Generasi yang sesuai dengan kehendak kaum penjajah, generasi malas dan hanyak mengejar hawa nafsu.

Berdasarkan uraian diatas, dapat kita simpulkan secara objektif bahwa Islam dan Kristen, ternyata tidak sama.

*****

*penulis adalah Pakar Kristologi, Pendiri Irena Center, Pimpinan Umum Gerakan Muslimat Indonesia.

Dalam BIBEL Dikatakan, BABI HARAM

Akhir-akhir ini media masa cetak maupun elektronik dihebohkan dengan berita tentang wabah flu babi. Tak hanya di Indonesia, tapi perbincangan hingga berlanjut pada pengambilan langkah preventif telah dilakukan di berbagai negara.
Perilaku babi
Menarik ketika seorang Ustad menjelaskan kepada beberapa orang non muslim yang bertanya tentang kenapa muslim tidak mengkonsumsi babi. Bagi muslim, babi adalah haram, bukan karena penyebab dari penggunaan babi dan segala unsurnya, namun hal yang terpenting karena memang Allah SWT telah mengharamkan babi bagi manusia.
”Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya,dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.”QS. Al Maidah [5] : 3
Adapun temuan berikutnya yang mengatakan bahwa ternyata babi berefek buruk ini dan itu, maka hal tersebut adalah hikmah dari pelarangan Allah. Bukan alasan bagi pelaranganNya.
Kemudian sang Ustad menunjukkan pada orang non muslim tersebut dengan membandingkan perilaku babi dan ayam. Ketika dua ekor ayam jantan dan satu betina dilepas bersama dalam sebuah kandang, dua ayam jantan itu akan bertarung hingga salah satu tewas untuk memperebutkan sang betina. Namun apa yang terjadi ketika dua ekor babi jantan dan satu betina dilepas bersama dalam sebuah kandang? Ternyata babi jantan yang satu melaksanakan hajat seksualnya pada si betina sementar yang satunya menunggu giliran sambil makan. Dan sang Imam pun berkata, ”Inilah! Daging babi itu sesungguhnya membunuh ’ghiroh’ (semangat) orang yang memakannya dan ini terjadi pada kaum kalian.”
Mengapa Kristen justru memakan daging babi?
Sesungguhnya pelarangan Allah atas babi ini tidak terjadi pada masa nabi Muhammad saw saja, namun pelarangan atas pengkonsumsian babi sudah terjadi sejak dahulu kala. Yang masih terekam adalah pada syariat yang dibawa semasa nabi Musa as, dalam Imamat 11:7-8 yang berbunyi “Jangan makan babi. Binatang itu haram, karena walaupun kukunya terbelah, ia tidak memamah biak. Dagingnya tak boleh dimakan dan bangkainya pun tak boleh disentuh karena binatang itu haram.” Larangan serupa juga tercantum di kitab Ulangan 14:8, Yesaya 65:2-4 dan Yesaya 66:17. Dan semua larangan ini masih jelas tertulis dalam kitab ’suci’ umat Kristen yang disebut Bibel.
Mengapa Kristen justru memakan daging babi? Pertama, mungkin mereka tidak banyak tahu tentang kitab mereka. Kedua, ayat-ayat Bibel yang dikarang oleh Paulus yang menyatakan bahwa segala makanan adalah suci (Roma 14:20), juga pernyataan yang menyatakan bahwa Yesus telah meniadakan hukum Taurat (Efesus 2:14-15) yang termasuk di dalamnya keharaman daging babi.
Padahal kenyataannya, Yesus sendiri tidak pernah mengatakan demikian. Bahkan di dalam Matius 5:17-20, Yesus dengan tegas menyatakan bahwa dirinya tidak pernah sedikitpun menghapuskan hukum yang telah ditetapkan di dalam Taurat (Perjanjian Lama). Di lain ayat juga dinyatakan dengan jelas bahwa pengikut Yesus yang setia tetap menjaga diri dari makanan haram dan najis (Kisah Para Rasul 10:14).
Perlu juga diketahui bahwa Paulus adalah bukan termasuk dari 12 murid Yesus dan bahkan tidak pernah bertemu dengan Yesus dalam hidupnya. Lalu bagaimana mungkin ia membatalkan apa yang jelas-jelas diperintahkan/dilarang oleh Yesus?
Dan jika alasan pembolehan daging babi oleh umat Kristiani didasarkan atas kata-kata Yesus di dalam Matius 15:11 yang berbunyi “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.” Maka ayat inipun secara konteks tidak ada kaitan dengan kebolehan memakan daging babi. Ayat ini merupakan penjelasan Yesus yang mengecam perilaku munafik bangsa Yahudi yang mengabaikan ajaran utama Taurat sementara justru mempertahankan adat-istiadat nenek moyang mereka.
Negara muslim bebas flu babi
Hingga kini menurut data WHO, kasus infeksi flu babi telah terjadi sebanyak 1.124 yang tersebar di 21 negara. Tapi tak satupun yang terjadi di negara berpenduduk muslim. Di Amerika Serikat (AS) telah melaporkan 286 kasus yang dikonfirmasikan pihak laboratorium, termasuk seorang telah meninggal.
Flu babi adalah penyakit pernapasan yang menjangkiti babi atau dikenal dengan H1N1/Influensa A, yang menurut beberapa pendapat flu ini tidak lebih berbahaya seperti flu burung. Seharusnya flu ini tidak menjalar pada manusia kecuali orang-orang yang memang berhubungan langsung dengan babi, termasuk mengkonsumsinya. Namun untuk jenis flu ini, penularan bisa berlangsung dari manusia ke manusia. Lepas dari pemikiran bahwa flu babi adalah man made yang disengaja diciptakan sebagai bioweapon tetap harus diwaspadai dan dicegah sedini mungkin.
Negara-negara yang menjadikan daging babi sebagai makanan pokok hidangan mereka rupanya cukup merasakan dampak yang signifikan dari flu babi. Ini terutama terjadi di pihak pelaku pasar. Demikian seriusnya perubahan ekonomi akibat flu babi ini hingga membuat yang bersangkutan mengajukan keberatan dengan penamaan flu babi (swine flu) untuk virus influensa baru yang saat ini sedang mewabah. Alasannya, itu merugikan peternak babi, karena jatuhnya harga daging babi di pasaran. Bahkan WHO pun mengumumkan tidak lagi menggunakan istilah swine flu, melainkan sebagai virus “influensa A” (H1N1). Sebelumnya ada yang bersikeras tidak menggunakan istrilah flu babi, melainkan flu H1N1 atau Flu Meksiko. Kedua negara mengungkapkan alasanya bahwa ini bukan penyakit yang ditularkan oleh makanan, tapi virus. Tidak tepat merujuknya sebagai flu babi. Demikianlah kilahnya.

*****

*penulis adalah Pakar Kristologi, Pendiri Irena Center, Pimpinan Umum Gerakan Muslimat Indonesia.

Pluralisme Menguntungkan Kristenisasi

Ada sebuah pertanyaan kritis, jika gagasan pluralisme yang dianggap seolah-olah seperti “agama baru” dikembangkan di Negara yang mayoritas penduduknya Islam seperti Indonesia, maka siapakah yang paling di untungkan ? Jawabannya: Proyek Kristenisasi sangat diuntungkan !
Pluralisme adalah sebuah paham (isme) yang membahas cara pandang terhadap agama-agama yang ada. Sebenarnya istilah ini adalah istilah khusus dalam kajian agama-agama. Pluralisme tidak sama dengan “toleransi”, mutual respect (saling menghormati) atau istilah yang lain.
Dalam buku ilmiah berjudul Pluralisme Agama yang ditulis oleh Adhian Husaini, dikatakan dengan jelas bahwa Pluralisme adalah parasit bagi agama-agama. Tidak terbatas hanya terhadap Islam, tapi paham ini juga menjadi ancaman bagi kesucian setiap agama. Itulah yang menjadi sebab tak kunjung berakhirnya pembahasan “Pluralisme” dikalangan para ilmuwan dalam studi agama-agama.
Pluralisme agama berkembang pesat dalam masyarakat Kristen Barat disebabkan setidaknya oleh 3 hal, yaitu :
1. Trauma sejarah kekuasaan Gereja di zaman pertengahan dan konflik yang terjadi antara Katholik dan Protestan.
2. Problema teologi Kristen
3. Problema teks Bibel.
Ketika Gereja berkuasa di zaman pertengahan, para tokohnya telah melakukan banyak kekeliruan dan kekerasan yang akhirnya menimbulkan sikap trauma masyarakat Barat terhadap kebenaran Kristen sebagai agama.
Kemudian pada awal abad ke-20 seorang teolog Kristen Jerman bernama Ernst Troeltsch menggulirkan perlunya bersikap pluralis di tengah-tengah berkembangnya konflik intern antar aliran-aliran dalam agama Kristen maupun antar agama. Dia berpendapat dalam sebuah artikelnya yang berjudul The Place of Christianity among the World Religions, bahwa umat Kristiani tidak berhak mengklaim paling benar sendiri. Pendapat senada ternyata juga banyak dilontarkan oleh sejumlah pemikir dan teolog lainnya seperti sejarawan terkenal Arnold Toynbee dan tokoh Protestan liberal Friedrich Schleiermacher.
Sehingga pada dasarnya, kemunculan ide pluralisme agama ini adalah akibat menghebatnya pertikaian antara madzhab-madzhab dalam agama Kristen yang terjadi pada akhir abad ke-19 hingga sampai pada tingkatan mutual exclusion (saling mengkafirkan), dan mendorong presiden Amerika Serikat pada waktu itu, Grover Cleveland, turun tangan untuk mengakhiri perang antar madzhab tersebut.
Selain konflik antar aliran madzhab dalam Kristen, faktor politik juga terkait erat dengan latar belakang gagasan ini. Kecenderungan umum dunia Barat waktu itu tengah berusaha menuju modernisasi di segala bidang. Dan salah satu ciri dari modern adalah demokrasi, globalisasi dan HAM. Keabsolutan gereja dalam memegang nilai kebenaran bertolak belakang dengan nilai-nilai dalam modernisasi.
Gereja menentang Pluralisme Agama
Walaupun pluralisme dimunculkan oleh para teolog kristen Ernst Troeltsch, Arnold Toynbee, tokoh Protestan liberal Friedrich Schleiermacher, John hick. Namun pihak Gereja menentang keras ide ini, baik yang datang dari pihak Katolik, Protestan ataupun aliran lainnya.
Berikut penentangan Gereja,
Pertama: pengiriman misionaris Kristen ke seluruh penjuru dunia – khususnya dunia Islam yang terus berlangsung sampai sekarang ini.
Kedua: John Hick (salah seorang tokoh pluralisme Internasional saat itu banyak ditentang oleh para teolog Kristen dan pihak gereja, bahkan dia diusir dari posisi penting yang dia pegang di gereja Presbyterian. Perdebatan sengit yang kemudian dibukukan dalam sebuah buku berjudul: Problems in the Philosophy of Religion, merupakan salah satu bukti kuat tentang sanggahan dan penentangan terhadap pemikiran pluralisme agama, khususnya yang dikembangkan oleh John Hick dari kalangan pastur dan teolog Kristen.
Salah kaprah
Ironisnya, problema yang menimpa masyarakat justru kemudian diadopsi oleh sebagian kalangan Muslim yang ’terpesona’ oleh pluralisme yang beranggapan bahwa hanya dengan mengikuti peradaban tersebut maka kaum Muslim akan maju. Termasuk cara pandang kaum Inklusifis dan Pluralis Kristen dalam memandang agama-agama lain, dijiplak begitu saja.
Pluralisme berbeda jauh dengan pluralitas, karena pluralitas adalah pandangan bahwa secara realita bangsa diidunia ini adalah plural (majemuk) dan berdiri di atas berbagai perbedaan yang menjadi sebuah sunnatullah yang tidak dapat dihindari.
Terhadap pluralistas, bukankah bangsa Indonesia terdiri atas berbagai ethnis yang beragam dan fakta historis membuktikan bahwa tidak pernah terjadi pertumpahan darah besar-besaran akibat perbedaan etnis ini, justru yang ada adalah bercampurnya etnis-etnis ini dalam negara kesatuan Indonesia dan hidup rukun berdampingan.
Dan sekarang cendekiawan-cendekiawan yang mengaku muslim malah mengambil paham pluralisme ini dan disebarkan ke kalangan umat Islam. Suatu hal yang sangat keblinger.
Menilik sejarah perkembangan dan tanggapan atau reaksi kalangan mereka sendiri terhadap ide pluralisme ini, maka kita tidak perlu susah-susah menghabiskan energi untuk mencari kelemahan ide ini, sebab di kalangan mereka sendiri, terjadi pertentangan habis-habisan.
Tapi disisi lain ide ini kalau dikembangkan di negara yang mayoritas penduduknya adalah Islam, maka sangat menguntungkan sekali bagi proses Kristenisasi. Ketika kedua agama (Islam dan Kristen) tersebut dianggap sama, tidak ada beda selain tata cara dan bajunya, maka umat yang ’sendiko dawuh” (taat) dengan himbauan pluralis tersebut tak lagi memiliki ghirah / kecemburuan dalam beragama. Baginya tidak ada yang istimewa pada Islam bila dibandingkan dengan Kristen, tak ada kelebihannya seorang Muslim dibandingkan dengan penganut Kristen, karena semua agama sama.
Pada saat yang bersamaan, secara finansial para misionaris Kristen lebih menjanjikan keuntungan seperti yang menjadi misi unggulan mereka. Terutama di daerah-daerah yang masih dibilang miskin. Logika manusia normal, ketika harus memilih antara dua agama yang sama-sama dianggap benar tentunya variabel lain yang dijadikan alat timbang adalah keuntungan materi. Maka dengan ringan mereka mau melepas baju Islamnya untuk mendapatkan materi dengan bergabung dengan jema’at Kristen, toh tak ada nilai lebih Islam sehingga harus dipertahankan dengan menanggung lapar dan kemiskinan. Di sinilah kontribusi Jaringan Islam Liberal penyebar pluralisme terhadap Misinonaris Kristen terbukti.
Yang perlu dipikirkan, jika pihak Gereja saja sangat menentang keras dengan kemunculan ide ini, baik dari pihak Katolik, Protestan ataupun aliran lainnya, padahal berasal dari teolog mereka, maka apakah kaum muslim akan mengambil paham pluralisme agama ini ?

*****

*penulis adalah Pakar Kristologi, Pendiri Irena Center, Pimpinan Umum Gerakan Muslimat Indonesia.

Valentin, Strategi Dalam Perang Budaya

Merebaknya budaya valentine
Pertengahan bulan Januari hiasan warna pink sudah merebak kemana-mana mulai dari pusat-pusat perbelanjaan, cafe, toko buku, majalah, TV dan pusat-pusat hiburan lain. Di sekolah-sekolah para remaja pun asyik merencanakan acara malam Valentine’s Day 14 Februari, yang mereka kenal sebagai hari kasih sayang.

Seolah menjadi keharusan bagi remaja untuk mengikuti acara tersebut, bahkan ada sebuah pandangan tidak mengikutinya adalah “kuper”. Dan tak jarang juga orang tua yang justru mensupport melepaskan putra-putrinya untuk mengikuti acara tersebut dengan alasan supaya mereka lebih bergaul dengan sesamanya. Dan menganggap Valentine’s Day sama dengan Hari Ibu, Hari Pahlawan atau Hari Kartini. Sebuah peringatan yang tidak mempunyai muatan religius. Benarkah demikian? Apa sesungguhnya Valentine itu?. Dari mana budaya ini berasal? Bagaimana hukumnya bagi seorang muslim mengikuti budaya ini?

Sejarah Valentine’s Day
Valentine’s Day adalah berasal dari budaya Yunani. Siapa Valentine? Tidak ada kepastian siapakah, bahkan sejarah pastinya pun tidak jelas. Ada banyak versi tentang asal perayaan Hari Valentine, yang paling populer adalah kisah Santo Valentinus yang hidup di masa Kaisar Claudius II dan kemudian menemui ajalnya pada 14 Februari 269.

Meskipun demikian para sejarawan barat tidak berbeda pendapat mengakui bahwa akar perayaan Valentine adalah berasal dari budaya pagan kuno, budaya kafir yang menyembah banyak dewa-dewi. Menurut budaya ini bulan Februari dikenal sebagai periode cinta dan kesuburan. Periode antara pertengahan Januari hingga pertengahan Februari dalam kalender Athena Kuno disebut sebagai bulan Gamelion, bulan suci memperingati pernikahan Dewa Zeus dan Hera. Sedangkan di Romawi Kuno, 15 Februari dikenal dengan hari raya Lupercalia, hari memperingati dewa Lupercus, sang dewa kesuburan.

Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian yang berlangsung dari tanggal 13-18 Februari yang puncaknya adalah tanggal 15. Dua hari pertama (13 dan 14) dipersembahkan untuk Dewi Cinta (Queen of Feverish Love) bernama Juno Februata. Pada hari tersebut para pemuda berkumpul dan mengundi nama-nama gadis yang dikumpulkan dalam sebuah bejana. Tiap pemuda mengambil secara acak satu nama dan gadis yang namanya terambil akan menjadi kekasihnya selama setahun penuh untuk bersenang-senang dan menjadi objek hiburan sang pemuda yang memilihnya. Jika diantara mereka ada kecocokan maka mereka kan melanjutkannya ke pelaminan tapi kalau tidak, maka tahun berikutnya mereka bisa berganti pasangan.

Tanggal 15 Februari puncak peringatan dilakukan dengan cara mempersembahkan korban berupa kambing kepada sang dewa yang dilakukan oleh para pendeta pagan dan kemudian mereka meminum anggur dan berlari-lari di jalan-jalan dalam kota sambil membawa potongan kulit domba dan menyentuhkan kepada siapapun yang dijumpai. Saat itu para wanita akan berjejer di sepanjang jalan berebut untuk diusap kulit kambing, mereka percaya bahwa sentuhan kulit kambing tersebut akan membawa keberuntungan dan kesuburan. Suatu acara yang sangat populer dimasa itu.

Sinkretisme
Ketika agama Kristen masuk Roma, budaya maksiat seks bebas yang begitu digemari masyarakat ini sulit dijauhkan. Sehingga untuk menarik minat masyarakat terutama remaja agar masuk gereja maka dipertahankanlah tanggal tersebut namun diubah dengan nama-nama orang-orang suci (saint/santo) gereja. Dan pada tahun 496, Paus Gelasius I menetapkan upacara pagan Romawi Kuno ini menjadi Hari Perayaan Gereja dengan nama Saint Valentine’s Day.

Beberapa sumber mengatakan bahwa nama Valentine diambil dari nama seorang pastor yang menentang Kaisar Cladius II yang berujung pada kematiannya. Pastor yang diyakini bernama Valentino ini dengan berani menyatakan bahwa tuhannya adalah Yesus dan menolak menyembah dewa-dewa pagan.

Sehingga siapa sesungguhnya yang diperingati di hari Valentine pun sampai kini tidak ada kesepakatan diantara para sejarawan. Apakah sosok Valentine memang ada atau sekedar dicocok-cocokkan saja sebagai landasan sinkretisme?

Perang Budaya, pendangkalan Aqidah
Perang fisik, perang yang di lakukan Amerika di Iraq, Afganistan adalah upaya untuk menjajah kedua negara tersebut dan memakan biaya sangat sangat mahal, terbukti menjadi salah satu penyebab hancurnya ekonomi Amerika saat ini. Namun untuk memerangi Indonesia, menguasai kekayaan alamnya, tidak perlu mengeluarkan biaya yang sedemikian besar. Ada perang yang cukup murah, yakni perang budaya, dengan mendangkalkan aqidah muslim dan menjauhkan muslim dari ajaran Islam.

Dalam Konferensi Misionaris di kota Quds (1935), Samuel Zweimer, seorang Yahudi yang menjabat direktur organisasi misi Kristen, menyatakan,
“Misi utama kita bukan menghancurkan kaum Muslim sebagai seorang Kristen… Tujuan kalian adalah mempersiapkan generasi baru yang jauh dari Islam, generasi yang sesuai dengan kehendak kaum penjajah, generasi malas dan hanya mengejar kepuasan hawa nafsu.

Bukankah ini yang sudah terjadi sekarang? Budaya-budaya hedonisme yang mengumbar kepuasan hawa nafsu seperti Valentine, April Mob, Heloween, Old and New yang kesemuanya bukan berasal dari budaya Islam, bukan berasal dari budaya lokal negeri kita, lebih dikenal oleh remaja muslim.

Industrialisasi Valentine
Dari tahun ke tahun perayaan Valentine bukan menjadi sepi namun kian meriah. Menurut The Greeting Card Association (Asosiasi Kartu Ucapan AS) diperkirakan di seluruh dunia sekitar satu milyar kartu valentine dikirimkan per tahun. Hari Valentine menjadi hari raya terbesar kedua setelah Natal. Tak hanya kartu, hadiah-hadiah lain biasanya berupa bunga mawar, cokelat dan perhiasan/berlian. Akhirnya tidak hanya pengusaha kartu ucapan saja yang meraup keuntungan, namun pengusaha hotel, pengusaha bunga, parcel, perhiasan, event organizer, serta yang lain, telah meraup keuntungan sangat besar dari event ini.

Masyarakat digiring untuk konsumtif. Lewat kekuatan promosi dan marketingnya yang merambah semua media baik cetak, elektronik maupun internet, Hari Valentine dibuat segemerlap mungkin dan di kampanyekan sebagai hari khusus yang sangat spesial bagi orang yang dikasihi. Dan tentulah para pengusaha yang hanya berorientasi materi tanpa memperdulikan tanggung jawab moral, aqidah umat, hanya berpikir agar dagangan mereka laku terjual. Sehingga terjadilah apa yang disebut sosiolog sebagai industrialisasi agama, dimana perayaan agama oleh kapitalis dibelokkan menjadi perayaan bisnis.

Inilah sesungguhnya strategi pendangkalan iman dan aqidah Islam yakni lewat budaya. Mengeruk kekayaan alam Indonesia yang mayoritas muslim maka harus mengalahkan muslimnya dahulu. Tapi lewat budaya, umat Islam dijauhkan dari ajaran Islam. Umat Islam dijadikan budak konsumerisme yang diciptakan kaum Kapitalis. Seiiring itu isme-isme lain masuk dan menggantikan aqidah Islam. Selanjutnya terciptalah generasi yang sudah tidak mengenal Islam tidak mencintai Islam walau mereka anak turun orang Islam.

Hukum merayakan Valentine dalam Islam
Maka untuk menyelamatkan aqidah umat, hendaklah kita kembali pada ajaran Islam secara kaafah. Hendaklah remaja muslim menghindari dan menolak budaya Valentine yang jelas-jelas merupakan budaya kaum kafir pagan serta bagian dari konspirasi mereka.
“Barang siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut,” Demikian bunyi hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Tirmidzi.

Allah SWT sendiri di dalam Qur’an surat Al-Maidah ayat 51 melarang umat Islam untuk meniru-niru atau meneladani kaum Yahudi dan Nasrani, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.”

*****

*penulis adalah Pakar Kristologi, Pendiri Irena Center, Pimpinan Umum Gerakan Muslimat Indonesia.

MENUTUP AURAT ADALAH KEWAJIBAN SEMUA AGAMA

Islam adalah agama yang menjunjung tinggi harkat kaum wanita sehingga dalam ajaran Islam terdapat hukum-hukum yang dikhususkan bagi kaum wanita. Salah satu diantaranya adalah aturan dalam berbusana. Syariat Islam telah memberikan batasan-batasan yang boleh dan yang tidak boleh terlihat dari seorang wanita. Bagi sebagian orang – yang tidak memahami hikmah dari hukum-hukum dalam syariat Islam aturan ini sepintas menyulitkan kaum wanita, padahal jika kita mencoba merenungkan lebih jauh apalagi kalau kita melihat kenyataan yang ada maka kita akan melihat keagungan dari syariat yang mulia ini.

Banyak kerusakan yang telah terjadi akibat wanita dengan bebas mempertontonkan aurat mereka. Demikian juga sebutlah perzinahan, pelecehan seksual, perkosaan, tersebarnya vcd porno dan sederet kerusakan moral lainnya yang tidak bisa dipungkiri bahwa hal tersebut merupakan efek keterbukaan aurat. Bahkan menurut hasil riset yang telah dilakukan selama 30 tahun, oleh para peneliti Amerika ditemukan gaya berpakaian dan penampilan seksi kaum wanita berbanding lurus dengan tingkat impotensi kaum pria.

Di negara-negara yang perempuannya bebas mengenakan pakaian yang mengumbar aurat, jumlah penderita impotensinya lebih tinggi dari negara-negara yang melarang perempuan mengumbar betisnya. Hal ini terjadi karena kaum pria mudah sekali terangsang dengan rangsangan visual namun tidak semua pria dapat menyalurkan libidonya yang memuncak itu. Akibatnya dalam jangka waktu tertentu secara psikologis akan terjadi imunitas terhadap rangsangan serupa itu. Hal ini juga menjelaskan berbagai fenomena lain seperti banyaknya terjadi penyimpangan seksual serta tingginya tingkat prostitusi.

Perintah Menutup Aurat

Alhamdulillah saat ini hukum kewajiban menutup aurat telah tersosialisasi dengan baik di kalangan muslimah. Disamping hikmah menutup aurat agar mereka lebih dikenal / sebagai identitas kemusliman, agar kehormatan mereka terjaga dan agar mereka tidak diganggu ditambah perkembangan fashion busana muslimah yang cukup bagus, maka kita melihat arus yang begitu cepat dimana muslimah pemakai jilbab kian hari kian bertambah.

Firman Allah mengenai kewajiban menutup aurat dalam Al-Quran adalah,
“Wahai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka,”Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al-Ahzab: 59)

Di ayat yang lain disebutkan,
“Hendaknya hijab menutup seluruh tubuh dan tidak menampakkan anggota tubuh sedikitpun selain yang dikecualikan, sebagaimana Firman Allah”Dan katakanlah kepada wanita-wanita mukminat, hendaknya mereka menundukkan pandangan mereka dan janganlah menampakkan perhiasan mereka kecuali yang biasa nampak dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedada mereka”.” (QS An Nuur:31)

Aurat dalam Agama Lain
Dalam Kristen, masuk ke Gereja tanpa menutup aurat adalah suatu pelanggaran terhadap perintah Bibel. Wanita yang ingin melakukan kebaktian di Gereja diajarkan oleh Bibel agar mengenakan penutup kepala seperti yang dikenakan para biarawati maka jika wanita itu tidak mau, hendaknya ia mencukur rambutnya layaknya Biksuni dalam agama Buddha. Dalam agama Hindu, para wanitanya juga diharuskan mengenakan kerudung seperti wanita-wanita India dengan pakaian yang panjang.

I Korintus 11:5 Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya.

I Korintus 11:13 Pertimbangkanlah sendiri: Patutkah perempuan berdoa kepada Allah dengan kepala yang tidak bertudung?

Sungguh disayangkan, ajakan mulia untuk menuju peradaban tinggi ini malah disalah-pahami sebagian pihak. Mereka berkata bahwa ajakan menutup aurat dapat menyinggung penganut agama lain. Inilah suara pihak-pihak sekuler yang hanya mementingkan keuntungan duniawi semata dengan berlindung dibalik adat dan agama di luar Islam mencoba untuk membusukkan ajakan mulia ini. Padahal yang benar, ajakan menutup aurat dapat mematikan usaha kotor mereka. Agama mana yang tersinggung dengan ajakan menutup aurat ? Tidak ada. Jika di Barat Biarawati boleh mengenakan semacam jilbab, mengapa muslim tidak?

*****

*penulis adalah Pakar Kristologi, Pendiri Irena Center, Pimpinan Umum Gerakan Muslimat Indonesia.

HANYA ISLAM YANG DIRIDHAI ALLAH

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran [3] : 19). Ayat ini menegaskan bahwa hanya Islam, agama yang diridhai Allah SWT. Pembuktian ayat ini dapat kita telusuri dari sejarah turunnya beberapa kitab. Allah Menurunkan Kitab: Taurat, Zabur, Injil dan Al-Qur’an. Allah SWT. berfirman :

“Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tidak dibenarkan. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas”. (QS. Al-Baqarah [2] : 61)

Mari kita perhatikan siapa yang dimaksud “mereka” dalam ayat ini?

“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya” (QS. An-Nisa [4] : 46).

Tercatat dalam sejarah Bani Israil, ketika dijajah oleh Fir’aun di Mesir, mereka memohon pertolongan Allah. Nabi Musa as membawa Bani Israil menyeberang ke semenanjung Sinai dan hidup sebagai orang yang merdeka. Setelah hidup enak, mereka merasa tidak butuh dengan Nabi Musa as juga tidak butuh dengan Allah SWT.

Hal itu terbukti saat Nabi Musa as. naik ke bukit Tursina untuk menerima perintah Allah. Bani Israel membuat patung sapi sebagai sembahan menggantikan Allah. Mereka nyata-nyata ingkar kepada Allah.

Lebih lanjut lagi, sejarah mencatat bahwa kitab Taurat dimusnahkan pada zaman kekuasaan Nebukanedzar di Kerajaan Babilonia, Delapan puluh tahun berikutnya setelah dimusnahkan ada seorang pendeta Yahudi namanya Ezra diperintah oleh penguasa (Raja Cyrus) untuk kembali menuliskan kitab Taurat. Andaikata Ezra ketika diperintah menulis Taurat, umurnya 40 tahun.

Apa artinya? 40 tahun sebelum Ezra lahir, kitab Taurat sudah musnah. Darimana sumber penulisan Ezra itu? Ternyata sumbernya dari cerita-cerita atau dongeng-dongeng yang berkembang di masyarakat pada masa periode ayahnya dan periode kakeknya. Dongeng-dongeng inilah yang ditulis.

Dan kemudian setelah ditulis, giliran pendeta Yahudi memeriksa tulisan Ezra yang disebut Taurat itu. Maka pendeta-pendeta Yahudi segera menyimpulkan tulisan ini kurang atau tidak sempurna. Akibatnya kemudian para pendeta senior menulis lampiran-lampiran untuk Taurat yang disebut Asfar (di dalam Bible dapat kita temukan di kitab Raja-raja).

Terkumpulah sebanyak 34 kitab yang ditulis para pendeta senior sepanjang 2 abad. Maka 34 kitab inilah yang kemudian ikut dimasukan kedalam Bible. Jadi karangan Ezra, ditambah lagi 34 karangan para pendeta tercantum dalam perjanjian lama yang merupakan bagian dari Bible.

Inilah yang disebut dalam An-Nisa ayat 46 “Mereka yang mengubah perkataan dari tempat-tempatnya”. Karena keingkaran-keingkaran yang diperbuat oleh orang-orang Yahudi seperti itulah maka diturunkan kitab Zabur.

Ironisnya, menurut Bible sendiri, kitab Taurat yang ditulis dalam Bible ternyata bukan firman Allah SWT. kepada Nabi Musa as. Lihat kitab Ulangan pasal 34 ayat 5 sampai dengan 8,
“Lalu matilah Musa, hamba TUHAN itu, di sana di tanah Moab, sesuai dengan firman TUHAN. Dan dikuburkan-Nyalah dia di suatu lembah di tanah Moab, di tentangan Bet-Peor, dan tidak ada orang yang tahu kuburnya sampai hari ini. Musa berumur seratus dua puluh tahun, ketika ia mati; matanya belum kabur dan kekuatannya belum hilang. Orang Israel menangisi Musa di dataran Moab tiga puluh hari lamanya. Maka berakhirlah hari-hari tangis perkabungan karena Musa itu.” (Ulangan 34: 5-8)

Siapa yang menulis kitab ini? Musa atau orang lain? Karena kepalsuan-kepalsuan seperti itu maka turunlah kitab selanjutnya yaitu kitab Zabur.

Setelah turun kitab Zabur akhlaq umat Israel hanya berubah sementara. Ketika susah mereka ingat Allah, tetapi ketika mereka senang mereka ingkar lagi kepada Allah SWT. Allah berfirman :
“Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israel) dengan Isa putra Maryam, membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah [5] : 46)

Ada kalimat yang berulang yang perlu kita perhatikan maksudnya. Apakah yang dimaksud dengan membenarkan kitab sebelumnya? Sinonim membenarkan adalah membetulkan, memperbaiki. Mengapa dibetulkan? Berarti ada yang tidak benar. Mengapa ada yang diperbaiki? Karena ada yang tidak baik. Pengakuan Bibel, Yesus Tidak Memusnahkan Hukum Taurat, tetapi Menyempurnakan Taurat.

Di dalam Bible terdapat injil. Di dalam Injil ini ternyata ucapan Nabi Isa as. masih ada walaupun sisanya hanya 18 persen saja. Injil Matius pasal 5 ayat 17 termasuk diantaranya. Isa as. berkata: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Matius 5 : 17)

Apa kata sinonim meniadakan? Nabi Isa as. menyatakan aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Nabi Isa as. tunduk pada hukum Taurat dan dia juga menyatakan bahwa dia tidak membawa ajaran yang baru, ajaran yang dia bawa adalah ajaran para nabi yang terdahulu.
Namun, sepeninggal Nabi Isa as. tepatnya sejak tahun 325 M Konsili Nicea yang dipimpin oleh Kaisar Konstantin memutuskan mempertuhankan Nabi Isa as. Maka Allah SWT. Berfirman,
”Sesungguhnya telah KAFIRLAH-lah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.” (Q.S Al Maaidah [5] : 72)

Al-Quran sebagai Al-Furqan, kitab suci yang membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Kitab yang membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan berisi penjelasan yang sempurna untuk umat manusia dimanapun dan sampai kapanpun. Allah SWT. Berfirman,
“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda(antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al-Baqarah [2] : 185)

“Tidaklah mungkin Al Quran ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Quran itu) membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.” (QS. Yunus [10] : 37)

“(Al Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS. Ibrahim [14] : 52)

*****

*penulis adalah Pakar Kristologi, Pendiri Irena Center, Pimpinan Umum Gerakan Muslimat Indonesia.

SEMUA NABI ADALAH ISLAM,
TERMASUK YESUS

(Pembuktian bahwa Nabi Isa as. (Yesus) pun Islam, dapat kita lihat pemaparannya didalam Bible, tentang ketaatan beliau melaksanakan syariat Islam.

Yesus dikhitan, terdapat dalam Kitab Kejadian ayat 10 yang berbunyi,
“Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat” (Kejadian 17: 10)

Bagaimana dengan laki-laki yang tidak disunat?
“Dan orang yang tidak disunat, yakni laki-laki yang tidak dikerat kulit khatannya, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku.” (Kejadian 17: 14)

Kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa khitan sudah dilaksanakan sejak zaman Nabi Ibrahim as. bahkan ada sanksi bagi orang yang tidak dikhitan yakni dilenyapkan dari orang-orang sebangsanya (dibunuh). Lalu apakah Nabi Isa as. dikhitan?
“Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.” (Lukas 2 : 21)

Ayat ini membuktikan, bahwa keluarga Nabi Isa as. tunduk pada hukum Taurat, taat dengan ajaran nabi-nabi terdahulu, sehingga Nabi Isa as. pun dikhitan. Lalu kenapa laki-laki Kristen tidak dikhitan? Walaupun ada anak laki-laki mereka yang dikhitan, hal itu dilakukan bukan karena syari’at tapi karena alasan kesehatan. Dalam Islam, khitan, sholat, puasa, dan haji yang kita lakukan mengikuti Rasulullah saw. Lalu mengapa umat Kristiani tidak khitan, padahal Isa as. dikhitan?

Yesus mengharamkan babi, bangkai, darah , khamr. Terdapat di dalam Bible terbitan 1971 di dalam kitab Imamat 11 : 7,
“Dan lagi babi, karena sungguhpun kukunya terbelah dua,ia itu bersiratan kukunya, tetapi ia tiada memamah biak, maka haramlah ia kepadamu.” (Imamat 11:7, tahun 1971)

Namun dalam Bible tahun 1999 pada kitab dan ayat yang sama:
“Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu.” (Imamat 11:7, tahun 1999)

Pada Bible tahun 1971 dinyatakan yang haram itu babi sedangkan Bible tahun 1999 yang diharamkan adalah babi hutan. Itulah sebabnya umat Kristiani saat ini makan babi karena yang haram itu babi hutan sedangkan babi ternak dan babi kota itu halal. Apa bedanya babi hutan dengan babi kota? Seperti apa bedanya ayam ras dengan ayam kampung? Sama-sama ayamnya.

Inilah salah satu pembuktian ditambahkannya kata “hutan”, mengubah makna yang diharamkan oleh Allah SWT. dijadikan halal oleh mereka. Adapun bangkai itu haram dapat dilihat dalam kitab Imamat 11 : 28.
“Dan siapa yang membawa bangkainya, haruslah mencuci pakaiannya dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam. Haram semuanya itu bagimu.”

Adapun perintah khamr itu haram dapat dilihat dalam kitab Hakim-hakim 13: 14,
“Janganlah ia makan sesuatu yang berasal dari pohon anggur; anggur atau minuman yang memabukkan tidak boleh diminumnya dan sesuatu yang haram tidak boleh dimakannya. Ia harus berpegang pada segala yang Kuperintahkan kepadanya.”

Yesus mengajarkan syahadat dan sholat

Demikian juga jangan terkejut. Nabi Isa as. tidak pernah membaptis ataupun mendirikan gereja. Apa yang dilakukan Nabi Isa as.? Ternyata Nabi Isa as. mensyahadatkan orang. Bunyi syahadatnya Nabi Isa as. terdapat didalam Injil Yohanes 17: 3,
“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”

Ayat ini apabila diterjemahkan dalam bahasa Arab, maka bunyinya: asyhadu allaa ilaaha illallah wa-asyhadu anna Isa rasulullah. Yesus tidak pernah mau disebut dengan istilah Tuhan. Saat disebut Tuhan oleh muridnya, beliau marah sekali. Lihat Injil Matius 7 : 21,
“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.”

Selain itu juga orang yang menuhankannya mendapat julukan sebagai orang sesat dan anti kristus. Lihat II Yohanes 1 : 7,
“Sebab banyak penyesat telah muncul dan pergi ke seluruh dunia, yang tidak mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia. Itu adalah si penyesat dan antikristus.”
Setelah Nabi Isa as. membimbing bersyahadat maka berikutnya Nabi Isa as. mengajarkan tata cara sembahyang. Nabi Isa as. mengajak murid-muridnya ke sebuah taman yang namanya taman Getsemane. Setelah masuk ke dalam taman, murid-muridnya dipersilahkan melihat dari tepi dan tiga orang murid diajak ke tengah taman. Sampai di tengah taman, tiga orang ini diperintahkan berhenti. Kemudian Nabi Isa as. mengajarkan sembahyang, sebagaimana dalam Injil Markus 14 : 35.
“Ia maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa supaya, sekiranya mungkin, saat itu lalu dari pada-Nya”.

Sedangkan Injil Matius 26 : 39 menyatakan,
“Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku. Tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

Ternyata Nabi Isa as. mengajarkan sholat, hanya saja kesempurnaan sholat terjadi pada periode Nabi Muhammad saw.

Nabi Isa mengajarkan tata cara pemakaman dengan kain kafan

Nabi Isa as. mengajarkan cara pemakaman bahkan Nabi Isa as. dikuburkan dengan kain kafan. Tetapi kaum Kristiani di seluruh dunia ini tidak ada yang memakai kain kafan. Jenazah laki-laki pakai jas lengkap dan dasi dengan sepatu sedangkan jenazah perempuan memakai pakaian pengantin. Padahal Nabi Isa as. mengajarkan dengan kain kafan (kain lenan). Lihat Markus 15 : 46,
“Yusuf pun membeli kain lenan, kemudian ia menurunkan mayat Yesus dari salib dan mengafaninya dengan kain lenan itu. Lalu ia membaringkan Dia di dalam kubur yang digali di dalam bukit batu. Kemudian digulingkannya sebuah batu ke pintu kubur itu.”

*****

*penulis adalah Pakar Kristologi, Pendiri Irena Center, Pimpinan Umum Gerakan Muslimat Indonesia.

KEBANGKITAN UMAT

“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.” (QS. Yusuf (12) : 111)

Allah SWT. memerintahkan umat Islam untuk mempelajari dan memahami sejarah. Dalam Al-Quran terdapat kisah-kisah umat-umat terdahulu supaya umat Islam mampu mengambil ‘ibroh (hikmah). Allah SWT. pun menegaskan bahwa Al-Quran bukan rekaan.

Umat Islam, diperintahkan senantiasa mengevaluasi kejadian-kejadian yang dialami umat terdahulu, sehingga hari ini dapat lebih baik daripada hari yang lalu. Sebagaimana tuntunan Islam menyatakan,
“Barangsiapa yang keadaan dirinya hari ini lebih baik dari kemarin, maka dia beruntung. Barangsiapa yang keadaan dirinya hari ini sama dengan kemarin, maka dia tercela. Dan barangsiapa yang keadaan dirinya hari ini lebih buruk dari kemarin maka dia terlaknat.”

Allah SWT. berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr [59] : 18)

Ada persamaan kondisi muslim di Barat dengan muslim pada masa Rasulullah saw di Mekkah. Mereka sama minoritas dan dipaksa hidup dengan sistem dan aturan yang tidak islami. Mereka mengalami diskriminasi, pelecehan, boikot, dirusak propertinya, sampai dianiaya bahkan dibunuh. Namun kaum muslimin di Mekkah tidak gentar bahkan semakin kokoh keimanannya.

Mungkin ada yang berargumen, pada masa itu kan mereka memiliki nabi yang hidup bersama mereka, sementara saat ini tidak ada nabi yang menjaga kaum muslimin. Namun keadaan inilah yang harusnya kita syukuri. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurrairah bahwa Rasulullah saw bersabda:
“Islam muncul pertama kali dalam keadaan terasing dan akan kembali terasing sebagaimana mulainya, maka berbahagialah orang-orang yang terasing tersebut.”

Ketika ditanya oleh para shahabat tentang orang-orang yang terasing itu Rasulullah saw menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang terpisah dari kabilah-kabilah.”

Makna terpisah dari kabilah-kabilah (Al Ghuraba) menurut kamus lisanul Arab adalah orang yang bertetangga dengan kabilah-kabilah tetapi bukan bagian dari mereka atau berarti juga yang terpisah/raib dari keluarga. Kondisi ini sangat mirip dengan keadaan kaum muslimin di barat. Mereka bertetangga dengan orang-orang yang tidak seperti mereka, mereka juga jauh dari sanak saudara.

Para shahabat ketika mendengar keadaan ini sangat iri dengan orang-orang terasing ini. Rasulullah saw bersabda, sebagaimana diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dari Abu Malik,

“Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang bukan para nabi dan syuhada. Tapi para nabi dan syuhada tergiur oleh mereka karena dekatnya kedudukan mereka dari Allah di hari kiamat.”

Abû Malik berkata, di antara orang-orang yang ada pada saat itu ada seorang Arab pedalaman, kemudian ia duduk berlutut dan menahan dengan kedua tangannya, seraya berkata; “Wahai Rasulullah saw, beritahukanlah kepada kami tentang mereka, siapa mereka itu?” Abû Malik berkata; aku melihat wajah Rasulullah saw menengok ke sana ke mari (mencari orang yang bertanya). Kemudian beliau bersabda,

“Mereka adalah hamba-hamba Allah dari negeri yang berbeda-beda dan dari berbagai suku bangsa yang berasal dari berbagai rahim; tapi mereka tidak mempunyai hubungan rahim (senasab) yang menjadi penyebab mereka saling menyambungkannya (silaturahim) karena Allah. Mereka tidak memiliki harta untuk saling memberi. Mereka saling mencintai dengan (ikatan) “ruh” Allah. Allah menjadikan wajah mereka menjadi cahaya. Mereka memiliki mimbar-mimbar di hadapan ar-Rahmân. Manusia terkaget-kaget, tapi mereka tidak. Ketika manusia merasa takut, mereka tidak.”

Satu hal yang membuat kita kagum adalah bagaimanapun ditengah-tengah serangan diskriminasi, penistaan bahkan penganiayaan, Islam di barat justru semakin menunjukkan geliatnya. Dari sisi kuantitas, pemeluk islam di Barat semakin besar. Banyak sensus yang menunjukkan bagaimana Islam menjadi agama yang paling pesat perkembangannya di Barat. Bahkan tidak sedikit gereja-gereja yang kosong ditinggalkan penganutnya, dihidupkan kembali oleh kaum muslimin. Namun bukan sebagai gereja, tetapi diubah menjadi masjid. Dari sisi kualitas menunjukkan para mualaf berasal dari kalangan intelektual seperti doktor, profesor, dokter, insinyur, pendeta dan tokoh-tokoh masyarakat, termasuk adik ipar Tony Blair, mantan PM Inggris juga menjadi seorang muslim. Sehingga tidak mengherankan banyak kalangan yang semakin khawatir dan takut terhadap Islam, mulai dari masyarakat awam, aktivis Kristen, LSM, politisi sampai birokrat. Sehingga muncul berbagai aturan yang berupaya menghalangi kaum Muslimin, seperti pelarangan burka dan masjid.
Inilah peluang bagi kita, kaum Muslimin di Barat. Di tengah-tengah gelombang penistaan, diskriminasi dan penganiayaan yang setiap saat mungkin menimpa kita, kita adalah salah satu golongan yang dijanjikan akan memiliki derajat yang para nabi dan syuhadapun iri dengan kita. Derajat ini hanya bisa kita capai manakala kita tetap berpegang teguh dengan tali Allah, yaitu Islam dan bukan justru mengekor dan bersikap permisif terhadap aturan-aturan barat.

Saatnya umat Islam bangkit, sehingga kaum muslimin, tidak hanya di Barat, tetapi di seluruh penjuru dunia bersatu dan memiliki pemimpin yang mampu melindungi dan menjaga kehormatan kaum muslim, Rasulullah saw, Allah dan Islam sehingga tidak ada bangsa yang berani menistakan Islam dan umatnya, sebagaimana kita pernah mengalaminya dimana Islam menjadi suatu kekuatan yang amat ditakuti oleh seluruh bangsa di dunia.

Kebangkitan bermakna perubahan kondisi dari yang buruk menjadi baik, lemah menjadi kuat. Kebangkian tidak bisa datang begitu saja seperti hujan yang turun dari langit. Kebangkitan harus diperjuangkan, yaitu dengan berdakwah. Menyeru kepada semua manusia baik muslim maupun non muslim. Bagi kalangan muslim kita seru dan dorong untuk bangga menjadi seorang muslim dan ikut serta berjuang untuk membangkitkan umat. Bagi kalangan non muslim kita seru untuk mengenal kebenaran Islam sehingga mereka ikut bergabung dalam barisan Islam dan memperkokoh benteng islam.

Allah SWT. Berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar Ra’d [13] : 11)

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali-Imran [3] : 104)

Semoga kita termasuk golongan yang terasing yang mendapatkan mimbar-mimbar cahaya, yang dengan mimbar-mimbar itu kaum muslimin menjadi bangkit. Amin.

*****

*penulis adalah Pakar Kristologi, Pendiri Irena Center, Pimpinan Umum Gerakan Muslimat Indonesia.

BENTENGI UMAT ISLAM

Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim [66] : 6)

Allah SWT telah memberi peringatan kepada umat Islam,
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridho kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”. (QS. Al-Baqarah [2] : 120)

Demikian pentingnya firman Allah tersebut sehingga Rasulullah saw. juga memberikan peringatan, diriwayatkan dari Abu Said Al-Hudri ra. Dari Nabi saw, beliau bersabda:
“Sungguh kalian akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kalian, sehasta demi sehasta, sedepa demi sedepa, hingga seandainya mereka masuk liang biawak pun, kalian akan mengikuti mereka”. Kami bertanya, “Apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?” Rasulullah saw. Menjawab, “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (HR. Imam Al-Bukhari : 3197).

Pemikiran yang menjerumuskan umat Islam untuk mengikuti millah mereka, diantaranya adalah pemikiran bahwa “Semua Agama Sama”. Padahal Allah berfirman,
“Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (QS. Al-Maidah [5] : 3)

Bagi yang menyatakan “semua agama sama” berarti dia harus membuktikan bahwa makna ayat antar kitab suci itu sama. Tetapi mereka tidak dapat membuktikannya.

Mengikis iman dan aqidah Umat Islam melalui budaya dan pola pikir supaya jauh dari Al-Qur’an dan Al-Hadits. Terdapat pintu-pintu yang digunakan untuk menyerang kaum muslimin. Serangan budaya, bertebarannya pornografi-aksi di media massa maupun elektronik merupakan bagian agenda mereka untuk menghancurkan sebuah kaum/bangsa dengan harga yang sangat murah.

Serangan pola pikir, 10 tahun yang lalu tokoh kristiani gencar sekali mendekati umat Islam untuk mengatakan bahwa semua agama sama maka di Indonesia lahir Jaringan Islam Liberal (JIL). Didalam situs JIL tertulis terjemahan basmalah “Dengan Nama Allah, Tuhan Pengasih, Tuhan Penyayang, Tuhan semua agama”.

Beberapa tahun sebelumnya, terdapat tokoh Islam yang gencar sekali mengubah ucapan assalamu’alaikum dengan ucapan selamat pagi/siang/malam. Selanjutnya beberapa tahun kemudian, terdapat tokoh Islam yang menggantikan istilah Allah SWT. dengan Tuhan. Banyak tokoh umat Islam yang tergelincir karena menganggap Allah itu bahasa arab sedangkan dalam bahasa Indonesia terjemahannya adalah Tuhan.

Sekulerisme menghancurkan umat Islam

Sekulerisme, paham yang memisahkan agama dari kehidupan, merupakan asas ideologi Kapitalisme. Paham ini merupakan jalan tengah yang tidak tegas, yang lahir dari pergolakan antara para raja dan kaisar di Eropa dan Rusia dengan para filosof dan pemikir. Saat itu para raja dan kaisar telah memanfaatkan agama sebagai alat mengeksploitasi dan menzhalimi rakyat. Ini disebabkan adanya suatu anggapan bahwa raja dan kaisar adalah wakil Tuhan di muka bumi. Para raja dan kaisar itu lalu memanfaatkan para rohaniwan sebagai alat untuk menzhalimi rakyat, sehingga berkobarlah pergolakan sengit antara mereka dengan rakyatnya.

Pada saat itulah para filosof dan pemikir bangkit. Sebagian di antara mereka ada yang mengingkari keberadaan agama secara mutlak, dan ada pula yang mengakui keberadaan agama tetapi menyerukan pemisahan agama dari kehidupan. Pergolakan ini berakhir dengan suatu jalan tengah, yaitu pemisahan agama dari kehidupan yang dengan sendirinya akan menyebabkan pemisahan agama dari negara. Paham inilah yang diemban oleh Barat untuk membangun peradabannya dan selalu diserukannya ke seluruh penjuru dunia, termasuk ke negeri-negeri Islam.

Padahal, sekulerisme bertentangan dengan Islam dan tidak sesuai dengan fitrahnya manusia. Secara fitrah, setelah manusia mengerjakan ibadah ritual maka ia tetaplah manusia. Setelah seseorang mengerjakan sholat, maka ia tetap hamba Allah SWT. yang butuh pengaturan-Nya. Dengan demikian, sekulerisme memaksakan umat Islam, supaya mengabaikan Islam saat di kuliah, kantor, sidang parlemen dan hanya boleh mengambil Islam saat melakukan ibadah ritual belaka (sholat, zakat, haji).

Sementara peradaban Islam berlandaskan pada Aqidah Islamiyah, yang telah mewajibkan pelaksanaan kehidupan bernegara berdasarkan perintah dan larangan Allah, yakni hukum-hukum syara’.

Belajar dari sejarah Turki saat dipimpin oleh Mustama Kemal yang membawa Turki kepada modernisasi melalui sekularisme. Namun yang terjadi adalah Turki hancur dan terpuruk. Itulah sebabnya kaum Orientalis pun sudah lama menyatakan “Barat maju karena meninggalkan agamanya”. Kristen maju karena meninggalkan Biblenya. Tapi ukuran ini tidak boleh digunakan untuk diri umat Islam. Justru sejarah membuktikan ketika umat Islam meninggalkan Al-Quran dan AL-Hadits yang terjadi adalah kehancuran.

Mal Adaptasi

Seperti, mengganti kata Allah dengan “Yang Di Atas”. Padahal Kata “Yang Di Atas” tidak mampu menandingi kata Allah yang Maha Mulia. Pandangan umat Kristiani, Tuhan itu punya rumah, rumahnya di surga, dan surga ada diatas. Berarti “Yang Di Atas” bersumber dari pandangan kristen yang berbeda dengan pandangan Islam.

Allah SWT. berfirman:
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hadiid [57] : 4)

Menurut pandangan Islam, Allah bersemayam di ‘Arsy. Jadi, tidak tepat dengan mengistilahkan Allah SWT. dengan istilah dari pemahaman umat lain “Yang Di Atas”. Inilah yang dinamakan proses perubahan pemikiran.

Character Assassination

Pada tahun 2004 di Jakarta beredar buku The Islamic Invasion karangan Robert Morey. Buku ini memuat hujatan dan tuduhan yang membunuh karakter umat Islam, Rasulullah saw bahkan Allah SWT. inilah agenda mereka, setelah Mal Adaptasi.

Hujatan terhadap Allah SWT, Morey menyatakan Allah adalah Dewa Bulan. “Nama dari ayahnya Muhammad secara literal adalah Abd-Allah. Nama pamannya adalah Obied-Allah. Nama-nama tersebut menyatakan jati diri bahwa keluarga Muhammad adalah keluarga penyembah berhala yang menyembah Allah, sang dewa bulan.” (Robert Morey, The Islamic Invation, hal 58)

Hujatan terhadap Rasulullah saw., Morey mengatakan Muhammad kesurupan, kemungkinan epilepsi, “Ketika dia berada dalam keadaan seperti kesurupan itulah dia merasa menerima kunjungan-kunjungan ilahi. Setelah keadaan seperti itu berhenti, dia bangkit dan memproklamasikan sesuatu yang menurutnya telah diwahyukan kepadanya. Dari deskripsi mengenai hentakan-hentakan tubuh yang seringkali menyertai saat kesurupan tersebut, banyak ilmuwan menyimpulkan bahwa gejala-gejala itu adalah serangan semacam epilepsi.” (Robert Morey, The Islamic Invation, hal. 76)

Hujatan terhadap Al-Quran, Morey mengatakan Al-Quran adalah ayat-ayat setan, “Hal inilah yang menyebabkan munculnya “ayat-ayat setan” yang sangat terkenal dalam Quran. Muhammad ketika itu berada dalam keadaan lemah dan diduga dikuasai oleh inspirasi setan…” (Robert Morey, The Islamic Invation, hal 85)

Sebelum ramadhan 2003, sudah beredar komik di internet dalam 5 bahasa, inggris, prancis, jerman, belanda, indonesia. judul komiknya “Allah had no son”. Halaman terakhir dari komik menyatakan Yesus Kristuslah Tuhan-mu, sedangkan Allah adalah setan. Inilah character assassination yang mereka propagandakan.

Periode sekitar 1990 ada buku yang ditulis oleh Salman Rusdi, namanya The Satanic Verses, buku itu gagal mempengaruhi umat Islam karena belum ada Mal Adaptasi. Buktinya pada waktu itu, ada Ali Khameini yang memberi fatwa mati kepada Salman Rusdi. Itulah sebabnya, mereka meluncurkan Mal Adaptasi lalu invansi ke Afghanistan, Irak, Suria, Siria, Indonesia dilabel teroris,dan character assassination, karena tidak ingin kegagalan untuk kedua kalinya.

Banyaknya “agenda konspirasi” mereka, maka penting umat Islam untuk membentengi diri dengan cara tidak meninggalkan “IQRO” atau istiqomah dalam mengkaji Islam. Dan merapatkan barisan umat Islam.

*****

*penulis adalah Pakar Kristologi, Pendiri Irena Center, Pimpinan Umum Gerakan Muslimat Indonesia.

MELURUSKAN KERANCUAN ISTILAH “FUNDAMENTALISME ISLAM”

Belakangan ini kita mengenal istilah “fundamentalisme Islam” atau “Islam fundamentalis”. Istilah ini cukup populer dalam dunia media massa, baik yang berskala nasional maupun internasional. Istilah “fundamentalisme Islam” atau “Islam fundamentalis” ini banyak dilontarkan oleh kalangan pers terhadap gerakan-gerakan kebangkitan Islam kontemporer semacam Hamas, Hizbullah, Al-Ikhwanul Muslimin, Jemaat Islami, dan Hizbut Tahrir Al-Islamy. Penggunaan istilah fundamentalisme yang ‘dituduhkan’ oleh media massa terhadap gerakan-gerakan kebangkitan Islam kontemporer tersebut, disamping bertujuan memberikan gambaran yang ‘negatif’ terhadap berbagai aktivitas mereka, juga bertujuan untuk menjatuhkan ‘kredibilitas’ mereka di mata dunia.

Apa sesungguhnya makna istilah fundamentalisme? Bagaimana asal-usul istilah tersebut, dan siapakah sebenarnya kaum “fundamentalisme” itu? Insya Allah, artikel ini akan membahasnya secara mendalam.
Istilah ‘ushuliyah’ (fundamentalisme) dengan makna yang populer dalam dunia media massa tersebut, adalah berasal dari Barat, dan berisikan pengertian dengan tipologi Barat pula. Sementara, istilah ‘ushuliyah’ dalam bahasa Arab dan dalam wacana pemikiran Islam, mempunyai pengertian-pengertian lain yang berbeda dengan apa yang dipahami oleh wacana pemikiran Barat yang saat ini dipergunakan oleh banyak orang.

Perbedaan pemahaman dan substansi dalam mempergunakan istilah yang sama, merupakan sesuatu yang sering terjadi dalam banyak istilah yang dipergunakan oleh bangsa Arab dan kaum muslimin, serta secara bersamaan dipergunakan pula oleh karangan Barat, padahal keduanya mempunyai pengertian yang berbeda dalam melihat istilah yang sama itu. Hal ini banyak menimbulkan kesalahpahaman dan kekeliruan dalam kehidupan budaya, politik, dan media massa kontemporer yang padanya perangkat-perangkat komunikasi mencampuradukkan berbagai istilah yang banyak, yang sama istilahnya, namun berbeda-beda pengertian, latar belakang dan pengaruhnya.

Istilah yasar (kiri) misalnya. Dalam wacana pemikiran Barat istilah ini dipergunakan untuk menunjukkan orang-orang upahan, orang-orang fakir, dan miskin, serta orang-orang yang lemah dan membutuhkan pertolongan orang lain. Sementara, dalam pemahaman Arab dan Islam, istilah itu menunjukkan kepada orang-orang kaya raya, orang-orang yang berkecukupan, dan orang-orang yang menikmati kehidupan enak.

Istilah yamin (kanan) misalnya. Dalam wacana pemikiran Barat istilah ini dipergunakan untuk menunjukkan orang-orang kuno, terbelakang dan kaku. Sementara, dalam wacana pemikiran Arab dan Islam, dipergunakan untuk menunjukkan keadaan orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, sehingga mereka datang kepada Tuhan mereka pada hari Perhitungan, memegang buku catatan berbuatan-perbuatan mereka yang baik dengan tangan kanan, atau juga bermakna kekuatan, ketegaran, dan ketenangan.

Oleh karena itu, Imam Abdul Hamid bin Badis (1307-1359 H) berdoa kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dengan do’anya, “Ya Allah jadikanlah aku di dunia termasuk kelompok orang-orang yasar (kiri) dan jadikanlah aku di akhirat termasuk kelompok orang-orang yamin (kanan)”. Tentunya sesuai dengan pemahaman pemikiran Islam, bukan pemahaman pemikiran Barat.

Asal Usul Fundamentalisme di dunia Barat

Fundamentalisme di dunia Barat pada awalnya merupakan gerakan Kristen Protestan Amerika yang berlabuh pada abad kesembilan belas Masehi, dari barisan gerakan yang lebih luas, yaitu “Gerakan Millenium”. Gerakan ini mengimani kembalinya Almasih A.S. secara fisik dan materi ke dunia untuk yang kedua kalinya, guna mengatur dunia ini, selama seribu tahun sebelum datangnya hari perhitungan manusia.

Prototipe pemikiran yang menjadi ciri khas fundamentalisme ini adalah penafsiran Injil dan seluruh teks agama secara literal dan menolak secara utuh seluruh bentuk penakwilan atas teks-teks manapun, walaupun teks-teks itu berisikan metafor-metafor rohani dan simbol-simbol sufistik, serta memusuhi kajian-kajian kritis yang ditulis atas Injil dan Kitab Suci. Dari penafsiran Injil secara literal ini, orang-orang fundamentalis Protestan mengatakan akan datangnya Almasih kembali secara fisik untuk mengatur dunia selama seribu tahun yang berbahagia karena mereka menafsirkan “mimpi Yohana” (kitab Mimpi 20-1-10) secara literal.

Ketika fundamentalisme Kristen itu menjadi sebuah sekte yang indipenden pada awal abad ke-20, terkristallah dogma-dogma yang berasal dari penafsiran literal atas Injil itu melalui seminar-seminarnya, lembaga-lembaganya, serta melalui tulisan-tulisan para pendetanya yang mengajak untuk memusuhi realita, menolak perkembangan, dan memerangi masyarakat-masyarakat sekuler yang baik maupun yang buruk sekaligus. Misalnya, mereka mengklaim mendapatkan tuntunan langsung dari Tuhan, cenderung untuk mengisolasi diri dari kehidupan bermasyarakat, menolak untuk berinteraksi dengan realitas, memusuhi akal dan pemikiran ilmiah serta hasil-hasil penemuan ilmiah. Oleh karenanya, mereka meninggalkan universitas-universitas dan mendirikan lembaga-lembaga tersendiri bagi pendidikan anak-anak mereka. Mereka juga menolak sisi-sisi positif kehidupan sekuler, apalagi sisi negatifnya, seperti aborsi, pembatasan kelahiran, penyimpangan seksual, dan kampanye-kampanye untuk membela “hak-hak” orang-orang yang berperilaku seperti itu dari barang-barang yang memabukkan, merokok, dansa-dansi, hingga sosialisme. Itu semua adalah “fundamentalisme” dalam terminologi Barat dan dalam visi Kristen.

Makna Istilah Ushuliyah dalam Wacana Pemikiran Islam

Dalam visi Arab dan dalam wacana pemikiran Islam, kita tidak menemukan dalam kamus-kamus lama, baik kamus bahasa maupun kamus istilah, disebutnya istilah ushuliyah “fundamentalisme”. Kita hanya menemukan kata dasar istilah itu yaitu al-ashlu dengan makna ‘dasar sesuatu’ dan ‘kehormatan’. Bentuk pluralnya adalah ushul (QS Al-Hasyr : 5) (Ash-Shaaffat :64). Al-ashlu juga bermakna ‘akar’ (QS Ibrahim : 24).

Al-ashlu juga disebut bagi undang-undang atau kaidah yang berkaitan dengan furu’ (parsial-parsial) dan masa yang telah lalu. Seperti yang diungkapkan dalam rediaksional ulama ushul fikih, “Asal segala sesuatu adalah boleh atau suci.” Dan, “ushul” adalah prinsip-prinsip yang telah disepakati atau diterima.

Bagi ulama ushul fikih, kata al-ashlu disebut dengan beberapa makna. Pertama, ‘dalil’. Dikatakan bahwa asal masalah ini adalah Al-Kitab dan Sunnah. Kedua, ‘kaidah umum’. Dan ketiga, ‘yang rajih’ atau ‘yang paling kuat’ dan ‘yang paling utama’. (Lihat kitab Lisanul Arab, Ibnu Manzhur, Kairo : Darul Ma’arif)

Dalam peradaban Islam telah terbangun ilmu-ilmu ushuluddin, yaitu ilmu kalam, tauhid, dan ilmu fikih akbar. Juga ilmu ushul fikih, yaitu ilmu yang membahas tentang kaidah-kaidah dan kajian-kajian yang dipergunakan untuk mencapai kesimpulan-kesimpulan hukum-hukum syara’ praktekal dari dalil-dalil perinciannya. Serta ilmu ushul hadits atau mushthalah hadits.

Demikianlah warisan keilmuan Islam dan peradabannya, serta kamus-kamus bahasa Arab yang tidak mengenal istilah ushuliyah (fundamentalisme) dan pengertian-pengertian yang dikenal Barat atas istilah ini.

Hingga dalam pemikiran Islam kontemporer yang sebagian ulamanya menggunakan istilah ushuliyah dalam kajian-kajian ilmu fikih, kita dapati ia bermakna, “Kaidah-kaidah pokok-pokok syari’at yang diambil oleh ulama ushul fikih dari teks-teks yang menetapkan dasar-dasar tasyri’iyah (legislasi) umum, serta pokok-pokok tasyri’iyah general seperti : (1) tujuan umum syari’at, (2) apa hak Allah dan apa hak mukalaf, (3) apa yang menjadi obyek ijtihad, (4) nasakh hukum, serta (5) ta’arud (pertentangan) dan tarjih (pemilihan salah satu probabilitas hukum).” Semua istilah-istilah itu sama sekali tidak mempunyai hubungan dengan substansi-substansi istilah fundamentalisme (ushuliyah) yang dikenal oleh peradaban Barat dan pemikiran Kristen.

Terlepas dari pemahaman itu, apakah dalam aliran-aliran pemikiran Islam dan mazhab-mazhabnya –baik yang lama maupun yang baru– terdapat aliran pemikiran atau mazhab yang menyikapi teks-teks suci seperti sikap orang-orang fundamentalis Barat, yakni menggunakan penafsiran literal atas Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta menolak segala metafor dan takwil atas sesuatu nash (teks), meskipun zahir teks itu jelas-jelas bertentangan dengan dalil-dalil akal? Hingga dapat dikatakan bahwa sikap aliran atau mazhab ini terdapat nash-nash Islami yang suci adalah sama persis dengan aliran fundamentalis Kristen terhadap Injil dan “kitab suci” mereka? Sehingga, kemudian dapat membenarkan kebenaran “fundamentalisme Islam” dengan pengertian Barat yang negatif terhadap istilah “fundamentalisme” ini?

Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah sama sekali tidak ada. Seluruh aliran pemikiran Islam yang lama, baik sekelompok kecil dari ahli atsar, ash-habul-hadits, kaum zhahiriyah, maupun kelompok besar mayoritas dari ahli ra’yi, seluruhnya menerima majas (metafor) dan takwil terhadap banyak nash-nash suci. Sehingga hampir tercapai ijma bahwa nash-nash yang tidak dapat ditakwilkan, yang dalam istilah ushul fikih disebut “nash” adalah sedikit, sementara sebagian besar dari nash-nash itu dapat menerima pendapat, takwil, dan ijtihad. Sedangkan, perbedaan di antara aliran-aliran pemikiran Islam itu adalah dalam kadar penakwilan itu: ada yang membatasi diri dalam melakukan penakwilan, ada yang sedang-sedang saja, ada yang secara berani melakukan penakwilan. Namun, penakwilan itu sama sekali tidak ditolak oleh mazhab-mazhab Islam. (Abdul Wahab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh, hlm 210-232, Kuwait, 1972)

Berikut ini beberapa definisi tentang “penakwilan” yang dikemukakan oleh para pemikir Islam :

1. Ibnu Rusyd (1126-1198 M)
Dalam kitab Fashul Maqal Fima Bainal-Hikmati wasy-Syar’iah min al-Ittishal mendefinisikan “penakwilan” sebagai : “Mengeluarkan arti (dilalah) dari dilalah hakiki ke dilalah majasi, tanpa melanggar kaidah bahasa Arab dalam proses itu. Seperti menanamkan sesuatu dengan : yang mirip dengannya, sebabnya, yang setelahnya, yang mengiringinya, dan hal-hal lain yang dimasukkan dalam pendefinisian macam-macam kalam majasi.”

2. Imam Al-Ghazali (1058-1111M)
Beliau telah meluaskan skup takwil yang dapat diterima itu menjadi lima tingkat terhadap keberadaan sesuatu yang dibicarakan oleh nasih itu. Kelima tingkatan itu adalah : wujud zati (hakiki), wujud hissi (indrawi), wujud khayali (imajinatif), wujud aqli (akal), dan wujud syibhi (keserupaan). Dengan tingkatan-tingkatan penakwilan yang lima ini, orang yang melakukan penakwilan itu adalah masuk dalam lingkup tashdiq (pembenaran terhadap agama) dan keimanan, dan darinya tertolak tuduhan mendustakan agama atau kezindikan. Imam Al-Ghazali mengatakan : “Setiap orang yang meletakkan suatu redaksional hadits dan suatu nash dari Al-Qur’an, pada salah satu tingkat takwil ini maka ia termasuk orang yang membenarkan agama. Karena, pendustaan adalah mengingkari seluruh makna-makna dalam semua tingkatan ini, dan mengklaim bahwa semua yang diberitakan oleh nash-nash adalah dusta semata. Dan, itu adalah kekafiran dan kezindikan. Sementara orang-orang yang melakukan penakwilan tidak menjadi kafir selama ia menetapi kaidah-kaidah penakwilan.

Kemudian beliau menegaskan, bahwa seluruh mazhab Islam telah menggunakan takwil. Katanya, “Seluruh kelompok Umat Islam pada akhirnya terpaksa menggunakan takwil. Dan kelompok yang amat membatasi diri dari menggunakan takwil adalah Ahmad bin Hambal (780-885 M). Sementara, kalangan Asy’ariyah dan Muktazilah, karena keduanya lebih mendalam dalam kajian rasio, maka mereka banyak melakukan penakwilan terhadap makna-makna zahir teks dalam masalah-masalah akhirat, kecuali sedikit. Dan, Muktazilah adalah kelompok yang paling banyak menggunakan penakwilan.

3. Imam Muhammad Abduh (1849-1905M)
Beliau menjadikan “pendahuluan atas akal atas zhahir syara’ ketika terjadi benturan antara keduanya” sebagai pokok dari pokok-pokok Islam. Ia berkata, “Pemeluk Islam telah sepakat kecuali seditkit orang yang tidak memikirkannya bahwa jika ada pertentangan antara akal dan naql maka diambil pemahaman yang ditunjukkan oleh akal. Kemudian, bagian naql itu dilakukan dua jalan pendekatan : pertama, jalan penerimaan atas keabsahan naql itu, sambil mengakui ketidakmampuan diri untuk memahaminya, serta menyerahkan masalah itu kepada ilmu Allah SWT. Dan, jalan yang kedua adalah menakwilkannya, sambil memperhatikan kaidah-kaidah bahasa Arab dakan menakwilkannya, sehingga maknanya sesuai dengan apa yang dipahami oleh akal.

4. Imam Hasan Al-Banna (1908-1949 M)
eliau menafikan kemungkinan perbedaan, “Dalil-dalil berdasarkan nazhar syar’i (kacamata syar’i) dengan nazhar aqli (kacamata akal) dalam hal-hal yang qath’i. Oleh karena itu, hakikat ilmiah tidak akan berbenturan dengan kaidah syari’at yang tetap. Sementara, yang zhanni (samar-samar) darinya ditakwilkan sesuai dengan yang qath’i (pasti). Sedangkan, jika keduanya zhanni maka nazhar syar’i lebih utama untuk diikuti, hingga nazhar alki membuktikan kekuatannya atau ia lenyap. Islam yang hanif (lurus) dapat menjelaskan masalah ini dengan tuntas, ia menyatukan antara keimanan yang ghaib dan menggunaan akal. Dan kepada model pemikiran yang menyatukan antara dua kal ini: yang ghaib dan yang ilmiah, kami mengajak manusia. (Hasan Al-Banna, Risalah Ta’lim hlm 271)

Demikianlah sikap para pemikir Islam terhadap majas (metafor) takwil, dan penafsiran literal terhadap nash-nash, yang sama sekali tidak mengandung pengeritan “fundamentalisme”, seperti yang dikenal oleh Kristen Barat.

Oleh karena itu, tidak ada satu pun mazhab-mazhab Islam yang hanya membatasi diri pada makna literal nash-nash dan menolak seluruh bentuk takwil, sehingga dapat dinamakan sebagai kelompok “fundamentalisme” dengan pengertian Barat atas istilah itu. Dan karena kondisi “kontemporer Islam” tidak berbeda dengan “generasi awal Islam” maka aliran-aliran pemikiran Islam baik modern maupun kontemporer, tidak pernah melahirkan aliran yang sama dengan “fundamentalisme” Kristen Barat.

Dengan demikian, kita menemukan perbedaan yang jelas hingga secara diametral antara pemahaman dan pengertian istilah “fundamentalisme” seperti dikenal oleh Kristen Barat, dengan pemahaman istilah ini dalam warisan pemikiran Islam, serta dalam aliran-aliran pemikiran Islam, baik masa lalu, modern, maupun kontemporer. Kaum ‘fundamentalis’ di Barat adalah orang-orang yang kaku, dan taklid yang memusuhi akal, metafor, takwil, dan qiyas (analogi), serta menarik diri dari masa kini dan membatasi diri pada penafsiran literal nash-nash. Sementara kaum ushuliyin dalam peradaban Islam adalah para ulama ushul fikih yang merupakan kelompok ulama yang paling menonjol dalam memberikan sumbangsih dalam kajian-kajian akal atau mereka yang adalah ahli penyimpulan hukum, pengambilan dalil, ijtihad dan pembaruan.

Fakta ini menjadikan kasus istilah ushuliyah (fundamentalisme) sebagai satu contoh dari sekian contoh kerancuan pemikiran yang timbul dari sikap yang tidak membedakan antara pemahaman-pemahaman yang berbeda — dan kadang-kadang bertentangan — yang diciptakan oleh peradaban-peradaban yang berbeda atas suatu istilah yang sama, yaitu dipergunakan oleh anggota-anggota peradaban yang berbeda itu.

Sedangkan, istilah “fundamentalisme” dengan pengertian Barat adalah sesuatu yang asing dari realitas Islam, yang dijejalkan oleh kekuatan “agresi media massa”. Karena, fundamentalisme di Barat bermakna ‘orang-orang kaku’, sementara dalam warisan intelektual Islam menunjukkan kaum yang ahli tajdid (pembaruan), ijtihad, dan penyimpulan hukum.

*****

*penulis adalah Pakar Kristologi, Pendiri Irena Center, Pimpinan Umum Gerakan Muslimat Indonesia.

ISLAM BUKAN BUDAYA ARAB

Pagi ini sebuah email membuat saya sempat kaget, tertegun sekian menit setelah menyaksikan sebuah video tautan dari forum diskusi di Multiply sebagai berikut :
http://indonesiancommunity.multiply.com/reviews/item/431 atau tautan Youtube di :

Dan false-opini yg saya khawatirkan adalah menganggap Arab = Islam. Tindakan kriminal seorang warga negara Arab yang kebetulan dia berasal dari Royal Family akan dianggap sebagai ‘budaya Islam’ / ‘budaya kekerasan alam Islam’. Sehingga pada diakhir pembuatan opini ini pesan tersimpan yang mau disampaikan melalui alam bawah sadar pembacanya adalah….”Yaa…memang ISLAM itu TERORIS”.
Astaghfirullah!!!

Cukuplah kita yang merasakan pedihnya fitnah ini. Dan kita wajib meluruskan. Jangan biarkan generasi anak cucu kita terinfeksi oleh fitnah-fitnah keji macam ini.

ISLAM BUKAN BUDAYA ARAB

Sebagian kaum muslimin agak sulit membedakan antara Islam dengan budaya Arab. Sehingga sering terjadi salah paham terhadap kedua hal tersebut. Budaya Arab terkadang diangggap sebagai Islam, dan sebaliknya Islam dianggap sebagai budaya Arab. Hal ini perlu kita pelajari lebih dalam agar kita dapat membedakan antara agama dan produk budaya.

Sebelum Islam diturunkan diseluruh negeri, dunia diliputi oleh kebodohan dan kegelapan yang merata di segala lini kehidupan. Agama terakhir saat itu yaitu Nasrani yang seharusnya menjaga kemurnian ajaran sebelumnya yang bersumber pada kitab Taurat, telah demikian terdistorsi dari ajaran awal (aslinya). Kehidupan di seluruh negeri saat itu tidak terlepas dari syirik, khurafat dan sebagainya sesuai dengan latar belakang budayanya masing-masing. Zaman itulah yang kita kenal dengan istilah zaman jahiliyyah.

Kemudian datanglah Islam dengan membawa wahyu Allah SWT, yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Islam datang sebagai “pengkritik” segala budaya-budaya yang ada di dunia. Kritik yang dilakukan Islam adalah dalam rangka menyempurnakan akhlaq manusia agar mereka dapat menciptakan kehidupan yang benar-benar manusiawi, baik akhlaq sebagai makhluq kepada Allah sebagai Khaliqnya (pencipta) yang diistilahkan juga dengan hablum minallah, maupun akhlaq antara sesama manusia atau hablum minan naas.

Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq-akhlaq yang mulia.” (H.R. Bukhari dan Ahmad. Lihat Silsilah ash-Shahihah 15).

Fungsi Islam sebagai pengkritik ini pertama kali dijalankan sejak pertama kali Islam itu turun ke muka bumi ini. Berhubung Islam turun di Arab, maka pihak yang pertama kali dikritik oleh Islam adalah budaya Arab.

Bangsa Arab sebagaimana bangsa-bangsa yang lainnya saat itu merupakan bangsa yang tenggelam paling jauh dalam berbagai kerusakan akhlaq, mereka gemar berperang baik antar suku maupun antar qabilah. Mereka juga gemar meminum khamr, judi dan mereka memperlakukan wanita layaknya seperti barang, dan kerusakan terbesar pada saat itu adalah perbuatan mereka yang beribadah kepada Allah namun juga beribadah kepada selain Allah (Syirik), dan masih banyak lagi kerusakan-kerusakan akhlaq lainnya pada masa itu yang menjadikan kehidupan mereka jauh dari sifat manusiawi yang hakiki.

Maka mulailah Islam menjalankan fungsinya sebagai pengkritik. Di mulai dari hal yang terpenting yang menjadi prioritas utama yaitu kerusakan akhlaq manusia terhadap Allah yaitu perbuatan syirik. Dimana asas-asas budaya Arab yang saat itu mengandung unsur-unsur kesyirikan, dan segala kemaksiatan, semuanya dikoreksi total oleh Islam dan diganti dengan asas-asas yang berlandaskan ketauhidan kepada Allah, hingga akhirnya bangsa Arab berubah dari bangsa yang penuh dengan kesyirikan, khurafat dan sebagainya tadi, menjadi bangsa yang muwahhid (mentauhidkan Allah Ta`ala).

Demikianlah fungsi koreksi tersebut masuk ke semua lini kehidupan dan budaya bangsa Arab, hingga akhirnya masyarakat dan budaya Arab itu tunduk kepada Islam. Oleh sebab itu bangsa Arab justru kemudian menjadi bangsa yang paling pertama merasakan serangan kritik dan koreksi dari Islam.

Kemudian fungsi kritik itu terus meluas masuk ke negara-negara sekitarnya seperti Persia, Romawi, Cina dan akhirnya sampai ke Indonesia. Maka tidak ada pilihan lain bagi masyarakat atau budaya suatu bangsa, ketika Islam masuk ke sana, sementara mereka mengkui Islam sebagai agamanya, maka orang-orang disana harus siap untuk dikritik oleh Islam dan siap berubah dari seorang musyrik menjadi seorang muwahhid (orang yang bertauhid), apapun latar belakang budaya ataupun bangsanya.

Islam sesungguhnya memiliki konsep bagaimana berinteraksi dengan budaya-budaya di luar Islam. Islam mempersilahkan siapapun untuk mengemukakan pandangan-pandangan ataupun melakukan tindakan-tindakan budaya seperti apapun, asalkan tidak melanggar ketentuan halal-haram, pertimbangan mashlahat (kebaikan) dan mafsadat (kerusakan), serta prinsip al Wala` (kecintaan yang hanya kepada Allah dan apa saja yang dicintai Allah) dan al Bara` (berlepas diri dan membenci dari apa saja yang dibenci oleh Allah), dimana ketiga prinsip inilah yang menjadi jati diri dan prinsip umat Islam yang tidak boleh diutak-atik dalam berinteraksi dengan budaya-budaya lain diluar Islam.

Sehingga dari ketiga prinsip ini akan lahir sebuah Kebudayaan Islam, dimana kebudayaan Islam ini selalu memiliki satu ciri khusus yang tidak dimiliki oleh budaya dan bangsa manapun diluar Islam, yakni budaya yang berasaskan Tauhidul `Ibadah Lillahi Wahdah (mempersembahkan segala bentuk peribadatan hanya kepada Allah).

Selama prinsip-prinsip dan asas tersebut tidak dilanggar, maka kita dipersilahkan seluas-luasnya untuk berhubungan ataupun mengambil manfaat dari bangsa-bangsa dan budaya manapun di luar Islam. Sebab segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini, baik itu sifatnya ilmu pengetahuan maupun materi (yang selain perkara agama tentunya), itu semua memang diciptakan oleh Allah untuk kita umat manusia, kaum muslimin, walaupun berasal dari orang-orang kafir.

Sebagaimana firman Allah SWT: Dialah (Allah), yang telah menciptakan segala yang ada dibumi ini untuk kalian…(Q.S. Al Baqarah [2]: 29)

Maka sesungguhnya kedudukan budaya Arab itu sama dengan budaya Persia, Romawi, Melayu, Jawa dan sebagainya di mana budaya-budaya tersebut adalah pihak yang harus siap dikritik oleh Islam ketika Islam telah masuk ke negeri-negeri tersebut.

Maka tidak benar jika dikatakan Islam (seperti jilbab, kerudung dan sebagainya) adalah produk budaya Arab. Sebab justru budaya Arab adalah budaya yang paling pertama dikritik dan dikoreksi oleh Islam sebelum budaya-budaya yang lainnya. Maka apa saja yang telah diterangkan oleh Allah dan Rasul-Nya sebagai agama, maka itulah Islam.

Sementara segala sesuatu yang tidak diterangkan oleh Allah dan RasulNya dalam perkara agama, maka itu bukanlah Islam, meskipun perkara tersebut telah menjadi kebiasaan dan populer pada masyarakat Arab atau masyarakat Islam yang lainnya.

Sebab, Arab tidaklah sama dengan Islam, dan sebaliknya Islam tidaklah serupa dengan Arab. Akan tetapi budaya Arab dan budaya-budaya yang lainnya yang mau tunduk kepada Islam, maka itulah yang pantas dinamakan budaya Islam.

*****

*penulis adalah Pakar Kristologi, Pendiri Irena Center, Pimpinan Umum Gerakan Muslimat Indonesia.

MENJAWAB TUDUHAN PEMBENCI ISLAM:
Muhammad SAW Seorang Pedofilia

Penghinaan terhadap Rasulullah saw. tidak pernah berhenti sampai hari ini. Salah satu cacian ada di dalam buku The Islamic Invasion karangan Robert Morey tahun 1992, Penerbit Christian Scholars Press Las Vegas, antara lain di halaman 96 Bab. Kehidupan Pribadi Muhammad, Morey menyatakan bahwa Rasulullah saw. melakukan pedofilia.

Penghujat mengukur dan menghukum perilaku yang terjadi pada masa peradaban silam dengan peradaban sekarang. Ini tidak adil. Pernikahan usia dini yang sekarang dianggap tidak pantas dan senonoh, ternyata merupakan perilaku yang ladzim pada peradaban silam. Adapun hukum syara’ tidak mengharamkan pernikahan dini.

Menurut “Oxford Dictionary Bible”, Santo Yusuf, sebagai bapak asuh Yesus Kristus, berusia 90-an tahun ketika menikahi Maria yang berusia 12 tahun. Namun ada pula yang mengatakan Yusuf berusia 30-an tahun ketika itu. Kalaupun terjadi, ummat Islam tidak pernah menuduh perilaku tersebut sebagai pedofilia atau hal yang memalukan (aib), walaupun mereka menghujat pernikahan Rasulullah saw. dengan Siti ‘Aisyah ra. sebagai perilaku pedofili.

Sangat menarik kalau kita cermati bahwa, ketentuan hukum-hukum Yahudi dan Kristen justru menganjurkan pernikahan pada usia sangat dini. Sesungguhnya, mereka lupa akan sejarah bahkan tidak tahu ajaran hukum agama mereka sendiri.

Situs resmi Yahudi, askmoses.com, menyebutkan :
Rabbi Naftali Silberger : “… Pada masa silam (dan juga yang tidak terlalu kuno), pernikahan seringkali dirayakan pada usia yang cukup muda. Meskipun kita tidak mengikuti diktum ini, secara teknis dapat dikatakan, seorang gadis boleh ditunangkan ketika dia baru dilahirkan, dan dinikahkan pada usia tiga tahun.” [Shulchan Aruch, Even HaEzer 37:1].” Anak laki-laki boleh ditunangkan dan menikah pada usia 13 (tiga belas) tahun.” [Shulchan Aruch, Even HaEzer 43:1].

Bahkan, yang tidak pernah terpikirkan namun menjadi peradaban Yahudi yaitu :
Menurut Ted Pike (2010), Talmud menetapkan anak laki-laki yang berusia sembilan tahun bukanlah laki-laki. Sehingga Talmud (dalam catatan kaki Kethuboth 11b) membolehkan wanita melakukan apapun terhadap alat seksual anak laki-laki. Perbuatan itu tidak dianggap sebagai tindakan seksual. Talmud juga mengatakan, “Seorang laki-laki berusia sembilan tahun dan 1 hari yang bersetubuh dengan istri mendiang kakak-nya, maka perempuan tersebut menjadi miliknya (sebagai istri)” (Sanhedrin 55b).
Pernah terjadi dalam sejarah kepausan :

Persetubuhan sebelum batas minimal usia pernikahan atau baligh, tidaklah haram/dosa. Paus mengatur bahwa persetubuhan di bawah usia 12-14 tahun diatas usia 7 tahun, berpengaruh pada terbentuknya kontrak pernikahan, karena sekali persetubuhan terjadi, pernikahan tidak bisa dibatalkan lagi.”

Pada masa Romawi kuno, baik penganut Pagan maupun Kristen, menikah pada usia yang sangat muda. Pertunangan bahkan seringkali dilakukan pada usia sebelum baligh, meskipun persetubuhan belum dilakukan sampai setelah si gadis mendapatkan haidh pertamanya. Sangat sering, jarak usia kedua mempelai sangat besar. Menurut salah satu sejarawan, “Perjodohan antara seorang pria dengan seorang gadis yang sebaya dengan anak atau cucunya secara umum dibolehkan” .

Tampak jelas, pernikahan dini merupakan norma dalam kedua agama tersebut yang dilakukan bukan hanya oleh orang awam kebanyakan, namun juga dilakukan oleh pemimpin-pemimpin mereka, seperti diantaranya : Santo Agustinus. Dia dihormati karena memformulasikan teologi Kristen. Dia menikahi gadis berumur 10 tahun ketika dia berusia 31 tahun. Dia menunggu 2 tahun hingga tunangannya dewasa untuk kemudian diboyong pada usia 12 tahun; Santo Yusuf, sebagai bapak asuh Yesus Kristus, tetap saja dia adalah laki-laki yang “terlalu tua” untuk ukuran sekarang untuk menikahi Maria.

Pernikahan dini pun ladzim di kalangan para raja dan bangsawan kristen, yang tidak dapat terjadi tanpa adanya legalitas atau persetujuan dari gereja, seperti Raja Richard II, berusia 30 tahun ketika menikahi Putri Isabella dari Prancis yang baru berusia 7 tahun; Romanos II menikahi Bertha (Eudokia), Putri raja Italia, ketika berusia 4 tahun; Stephen Milutin de Kral dari Serbia, menikahi Simonis, Putri Kaisar Andronikos II, yang berusia 5 tahun. Ketika menikah Milutin berusia 50 tahun.

Pernikahan dini dilakukan oleh para nabi Yahudi dan Kristen. Seperti, Nabi Ibrahim as. (Abraham). Menurut Thurman C. Petty, Ahli Analisa Bibel, Nabi Ibrahim a.s. menikahi Siti Hajar (Hagar), saat berusia 13-18 tahun, yang terpaut jauh usianya dengan Nabi Ibrahim a.s. yang berusia 86 tahun saat Hagar melahirkan Ismael (Lihat Kejadian 16: 15-16) ; demikian juga Nabi Ishak a.s. (Isaac). Menurut tradisi Yudeo-Kristen, Nabi Ishak a.s. berusia 40 tahun ketika dia menikahi Rebeka (Rebecca/Rivka) yang berusia 3 tahun. Harus diingat bahwa Nabi Ishak a.s. dianggap sebagai nabi terpenting dalam agama Yahudi, dan Rebeka adalah salah satu dari 4 (empat) Ibu Yahudi.

Pedofilia

Pedofilia adalah konsep yan¬g muncul pertama kali dalam konteks era modern. Pedofilia berasal dari kata Yunani, pais (anak) dan philia (cinta). Menurut Duane Dobbert dalam bukunya Halting the Seksual Predators Amongst Us, Pedofilia didefinisikan sebagai aktivitas seksual dengan anak pra-pubertas. Menurut American Psychiatric Associaton (APA), pedofilia telah dimasukan ke dalam daftar Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM) sejak tahun 1968, dan diklasifikasikan sebagai gangguan jiwa. DSM adalah klasifikasi standar untuk gangguan jiwa dan digunakan oleh profesi kesehatan jiwa serta memberikan deskripsi gangguan jiwa secara gamblang dan obyektif berdasarkan penelitian ilmiah. Menurut APA DSM-IV-TR, kriteria untuk pedofili adalah: berlangsung sekurang-kurangnya 6 bulan, bersifat kambuhan, fantasi seksual yang intensif, dorongan seksual atau perilaku terkait aktivitas seksual terhadap anak-anak pra-puber.

Pedofilia terdiagnosa ketika seorang pria dewasa menyukai anak-anak pra puber secara seksual. Sementara ‘Aisyah ra., diboyong ke rumah Rasulullah saw. ketika dia telah mencapai usia baligh/dewasa/puber. Hal inilah mengapa ‘Aisyah ra. baru pindah ke rumah Rasulullah saw. 3 atau 4 tahun setelah menikah, menunggu ‘Aisyah ra. baligh. Sehingga kita tidak melihat bahwa Rasulullah saw. adalah seorang penderita pedofilia, bahkan menurut standar modern sekalipun.

Pernikahan Rasulullah saw.

Kehidupan pernikahan Rasulullah saw. berlangsung dalam tiga periode. Bermula dengan periode mempunyai seorang istri (monogami) selama 28 tahun, yaitu dari usia 25 tahun sampai 53 tahun. Rasulullah saw. baru menikah pada usia 25 tahun dengan Khadijah ra, janda berumur 40 tahun.

Kebanyakan pemuda Arab menikah pada usia 20 tahun. Di tengah panasnya iklim padang pasir Arab yang mempercepat kematangan seksual, Muhammad saw malah memperoleh gelar Al Amin (Yang Dipercaya) dari komunitas Quraiys di Mekkah. Seandainya Muhammad saw. dikuasai nafsu seksualnya, tentu pada usia 20 tahun beliau telah menikah, atau—kalau tidak menikah—namanya ternoda karena melampiaskan nafsunya terhadap wanita, atau menikah dengan seorang gadis, dan bukan dengan seorang janda yang telah berusia lanjut.

Kedua, memasuki periode memiliki beberapa orang istri (poligami) dalam kurun tujuh tahun di saat umur melebihi 53 tahun. Hanya ‘Aisyah ra. yang saat dinikahi masih gadis, selainnya adalah janda. Dalam usia tersebut lazimnya nafsu seksual manusia telah menurun. Selain daripada itu, rentang masa ini dihiasi dengan pergolakan dan peperangan yang menuntut konsentrasi energi dan pikiran. Tidak kurang 27 peperangan yang terjadi waktu itu yang mesti dihadapi dan bahkan dipimpin Rasul sendiri. Tidak masuk akal dalam kecamuk perang beliau masih memikirkan persoalan seksual.

Kemudian Ketiga, yaitu periode tidak menambah istri lagi, dari usia 60 tahun sampai beliau berpulang ke Rahmatullah pada usia 63 tahun, walaupun Nabi Muhammad saw telah berada pada situasi yang aman, kedudukan yang kuat, dan dapat melakukan apapun kalau beliau mau. Bukankah banyak raja-raja di dunia yang menambah istri dan berbuat semaunya di kala usia senja? Namun Rasulullah Muhammad saw. tidak melakukannya.

Pernikahan poligami yang dilakukan Rasulullah saw. termasuk pernikahannya dengan ‘Aisyah ra., semuanya berdasarkan nilai-nilai yang suci dan mulia, bukan merangkak pada pengumbaran nafsu liar dan kumuh.

*****
*penulis adalah Pakar Kristologi, Pendiri Irena Center, Pimpinan Umum Gerakan Muslimat Indonesia.
Islam Pembawa Revolusi Gender

Sejarah Feminisme
Feminisme dalam kamus Oxford didefinisikan sebagai advocacy of women’s right and sexual equality atau pembelaan terhadap hak perempuan dan kesetaraan pria-wanita.

Feminisme lahir di Eropa, berawal dari sebuah perkumpulan perempuan-perempuan terpelajar kalangan bangsawan di Middelburg, Belanda pada 1785. Dipelopori oleh Lady Mary Wortley Montagu dan Marquis de Condorcet, perkumpulan yang memperjuangkan universal sisterhood ini menjadi gerakan yang cukup menarik perhatian wanita Eropa. Tapi walaupun menyandang nama ”universal”, perjuangan mereka hanya untuk perempuan kulit putih saja, sedangkan perempuan negeri jajahan bagi mereka tak lebih dari seorang budak.

Pergerakan dari Eropa ini kemudian berpindah ke Amerika dan berkembang pesat sejak publikasi John Stuart Mill. Perkembangan lebih lanjut, Feminisme menjadi beberapa aliran antara lain : Feminisme liberal, radikal, anarkis, marxis, sosialis post kolonial, dll.

Faktor penyebab timbulnya gerakan feminisme
Gerakan feminisme timbul bukan tanpa alasan, tapi sebagai bentuk protes terhadap normal-norma sosial yang berlaku pada saat itu dan ditempat itu yakni di barat. Sedangkan pembentuk norma-norma sosial adalah para pemimpin agama, hal ini sudah jelas. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana norma-norma sosial yang berlaku saat itu.

Sejak abad ke-4 M, agama dijadikan kekuatan politik untuk menyatukan imperium terbesar saat itu, Romawi. Dibawah kepemimpinan Konstantin, agama Katholik-Roma menjadi satu-satunya agama resmi negara.

Sehingga norma sosial yang berlaku dalam masyarakat adalah norma-norma yang dibentuk oleh Gereja, dan gereja bersumberkan pada Bibel. Lalu bagaimana Bibel berbicara tentang perempuan ? berikut beberapa contohnya :

Kesalahan kekal manusia

Timotius 2
2:14 Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa.
2:15 Tetapi perempuan akan diselamatkan karena melahirkan anak, asal ia bertekun dalam iman dan kasih dan pengudusan dengan segala kesederhanaan.

Ajaran-ajaran seperti itulah yang akhirnya menyebabkan Kristen mengganggap Perempuan sumber kejahatan dan tipu daya. Christome menjelaskan : “Perempuan adalah keburukan yang pasti, tipu daya alam dan bencana yang tak terelakkan, bahaya dalam rumah, fitnah yang merusak da ia jahat berlumur darah”. Well Doran : The History of Civilisation, jilid 16.
Mazmur 51:7 Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku.

Bibel menyatakan bahwa maksiat adalah sebuah dosa besar yang diturunkan dari Hawa sampai ke anak cucunya. Kisah tentang Hawa yang memberikan buah terlarang pada Adam terdapat dalam Bibel Perjanjian Lama, Kejadian 3 :1-19. Pemikiran ”kesalahan” yang ditujukan kepada Hawa sudah melekat dari dahulu, II Korintus 11:3. Dan itulah sebabnya gereja mengatakan manusia mewarisi dosa Adam, Roma 5:12. Dan juga itulah yang menyebabkan kematian turun ke bumi, Roma 6:21. Sehingga Hawa berhak mendapatkan laknat abadi yang rasanya lebih pahit dari kematian.

Konsep ini membawa pengaruh besar dalam peradaban Eropa, seperti yang dijelaskan Fuad Afrad al-Bustani, ” Sesungguhnya agama Kristen melihat ”dosa asal” itu sebagai akidah dan dasar utama dalam pengajaran agama. Semua orang mewarisi dosa itu sejak lahir dari bapak manusia pertama, dosa asal, sumber dosa-dosa yang bertimbun-timbun pada keturunannya yang dibayar oleh Yesus, Adam yang baru”. Ensiklopedia Pengetahuan, kata Adam, hal 107.

Penghinaan dan penindasan terhadap perempuan dalam Bibel
Bibel berpendapat bahwa tingkatan perempuan berada lebih rendah dari laki-laki, menindas semua hak perempuan dan menyatakan perempuan dibawah kekuasaan laki-laki disemua periode hidupnya sampai mati. Teks Bibel juga menyatakan (Ulangan 24 : 1-4) bahwa laki-laki diperbolehkan menceraikan isterinya kapan saja, apapun sebabnya. Bahkan mengatakan perempuan sebagai najis sehingga menjadi alasan untuk diceraikan.

Bibel memandang hina terhadap perempuan yang mengalami haid dan nifas. Mereka dianggap najis, apapun yang mereka sentuh akan tertular najis. Dan najis adalah dosa sehingga mereka harus mempersembahkan korban pada Tuhan untuk menghapus dosa.

Imamat 15
15:25 Apabila seorang perempuan berhari-hari lamanya mengeluarkan lelehan, yakni lelehan darah yang bukan pada waktu cemar kainnya, atau apabila ia mengeluarkan lelehan lebih lama dari waktu cemar kainnya, maka selama lelehannya yang najis itu perempuan itu adalah seperti pada hari-hari cemar kainnya, yakni ia najis.
15:26 Setiap tempat tidur yang ditidurinya, selama ia mengeluarkan lelehan, haruslah baginya seperti tempat tidur pada waktu cemar kainnya dan setiap barang yang didudukinya menjadi najis sama seperti kenajisan cemar kainnya.
15:27 Setiap orang yang kena kepada barang-barang itu menjadi najis, dan ia harus mencuci pakaiannya, membasuh tubuhnya dengan air, dan ia menjadi najis sampai matahari terbenam.
15:28 Tetapi jikalau perempuan itu sudah tahir dari lelehannya, ia harus menghitung tujuh hari lagi, sesudah itu barulah ia menjadi tahir.
15:29 Pada hari yang kedelapan ia harus mengambil dua ekor burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati dan membawanya kepada imam ke pintu Kemah Pertemuan.
15:30 Imam harus mempersembahkan yang seekor sebagai korban penghapus dosa dan yang seekor lagi sebagai korban bakaran. Dengan demikian imam mengadakan pendamaian bagi orang itu di hadapan TUHAN, karena lelehannya yang najis itu.

Lukas 23
23:29 Sebab lihat, akan tiba masanya orang berkata: Berbahagialah perempuan mandul dan yang rahimnya tidak pernah melahirkan, dan yang susunya tidak pernah menyusui.

Ayat diatas justru menggiring perempuan untuk membuat dirinya menjadi infertil (mandul). Tidak menyusui anak lebih baik dari menyusui. Maka dengan begitu kondisi perempuan makin bertambah buruk.

Posisi perempuan bertambah rendah karena Hawa dianggap penanggung dosa yang pertama yang menyebabkan Adam keluar dari taman sorga. Bahkan ada pemikiran, jangan-jangan Hawa bukanlah manusia. Dalam sebuah buku, seorang pendeta pernah mengatakan demikian, ”Perempuan tidak ada ikatan atau hubungan spesies manusia”. Wester Mark : The History of Marriage.

Hal senada juga disebutkan dalam sebuah Ensiklopedia, kutipan sebuah hasil rapat dua konferensi kegerejaan mengenai perempuan yang dilaksanakan di Roma tahun 582 M (beberapa tahun sebelum Islam datang) mengeluarkan komunike :

”Perempuan adalah mahluk yang tidak mempunyai jiwa dan oleh sebab itu selamanya tidak akan menikmati taman Firdaus dan tidak masuk kerajaan langit. Perempuan adalah kekejian perbuatan setan, tidak ada hak bicara dan tertawa dan tidak boleh memakan daging, bahkan setinggi-tingginy hak dia adalah menghabiskan semua kesempatan untuk melayani laki-laki tuannya, atau menyembah Tuhan Allah”. Encyclopedie La Rousse, kata Femme.

Kondisi perempuan di peradaban barat
Kritikan dari kaum perempuan datang dari Madame Avril. Tapi disaat itu bangsa-bangsa barat memeluk agama kristen, pendapat tokoh agama sangat mempengaruhi nasib perempuan.

I Timotius 2
2:11 Seharusnyalah perempuan berdiam diri dan menerima ajaran dengan patuh.
2:12 Aku tidak mengizinkan perempuan mengajar dan juga tidak mengizinkannya memerintah laki-laki; hendaklah ia berdiam diri.

Penghinaan terhadap perempuan berlanjut dan hak-hak sosial dirampas sepanjang abad pertengahan hingga awal abad modern. Kondisi perempuan terus berjalan dari yang buruk kepada yang lebih buruk sampai abad ke-17 M. Ketika itu perempuan berada pada level perbudakan dan kehinaan yang paling rendah.

Anehnya, di Inggris ada undang-undang yang memperbolehkan laki-laki menjual istri-istrinya dengan harga yang telah ditetapkan yakni 6 pounsterling. Sekitar tahun 1790, harganya menjadi 2 sen. Dan kemudian undang-udang tersebut dibatalkan pada 1805. Abbas Akkad : Al-mar’ah fil al-Qur’an, hal.192.

Kemudian perempuan mulai bergerak dalam komunitas-komunitas kewanitaan, bergabung untuk menuntut hak mereka melepaskan diri dari penindasan norma-norma gereja. Yang pertama kali mereka tuntut adalah melepaskan belenggu yang mengekang mereka dari larangan-larangan yang ditetapkan pada kaum perempuan. Kemudian muncullah “The Bibel of Woman” yang diterbitkan di New York pada 1895. Edisi terjemah Bibel yang bercorak feminist.

Islam hadir memuliakan perempuan
Sebenarnya kedatangan Islam pada abad ke-7 M membawa revoulusi gender. Islam hadir sebagai ideologi pembaharuan terhadap budaya-budaya yang menindas perempuan, merubah status perempuan secara drastis. Tidak lagi sebagai second creation (mahluk kedua setelah laki-laki) atau penyebab dosa. Justru Islam mengangkat derajat perempuan sebagai sesama hamba Allah seperti halnya laki-laki. Perempuan dalam Islam diakui hak-haknya sebagai manusia dan warga negara, dan berperan aktif dalam berbagai sektor termasuk politik dan militer. Islam mengembalikan fungsi perempuan yang juga sebagai khalifah fil ardl pengemban amanah untuk mengelola alam semesta.

Jadi dengan kata lain, gerakan emansipasi perempuan dalam sejarah peradaban manusia sudah dipelopori oleh risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.

Lalu ketika pada abad ke-18 timbul gerakan yang membebaskan perempuan di Eropa, itu dikarenakan kedangkalan mereka terhadap sumber-sumber Islam-’aturan baru’ yang diturunkan Allah untuk menghapus aturan cacat yang mereka miliki (Bibel). Yang seharusnya ketika mereka mengenal Islam maka sudah cukuplah semua aturan yang ada dalam Islam (Al-Quran dan Sunnah) untuk memenuhi tuntutan mereka, hak-hak mereka yang di tindas oleh budaya saat itu. Tapi penyebaran Islam ini terhambat oleh mereka yang tidak mau tunduk pada Islam, walaupun sebenarnya mereka mengetahui kemuliaan Islam.

Gerakan feminis tidak akan pernah berhasil jika tidak kembali mengacu pada ajaran Islam (Al-Quran dan Sunnah). Gagasan-gagasan asing yang diimpor dari Barat yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam, hanya akan memperburuk kondisi perempuan dan mengantarkan ke dalam jurang kehancuran yang lebih dalam.

Sehingga, pejuang gender hendaknya kembali pada Quran dan Sunnah, sesungguhnya inilah jalan yang akan mengantarkan kaum perempuan pada kemulyaan, yang akan mengantarkan masyarakat menuju peradaban besar.

*****

*penulis adalah Pakar Kristologi, Pendiri Irena Center, Pimpinan Umum Gerakan Muslimat Indonesia.

Khitan Syariat Sepanjang Zaman

Allah SWT menetapkan syariat (hukum) bagi manusia pastilah memiliki hikmah yang besar bagi umat manusia. Demikian juga dengan ajaran yang disampaikan oleh para Rasul Allah. Tidak ada satu pun syariat yang diperintahkan untuk umat manusia, kecuali demi kemaslahatan bagi diri mereka.
Salah satunya adalah khitan atau sunat. Khitan secara bahasa artinya memotong. Secara terminologis artinya memotong kulit yang menutupi alat kelamin lelaki (penis). Sedangkan menurut istilah, sebagaimana disebutkan dalam Ensiklopedi Islam terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve, khitan adalah memotong kulit yang menutupi ujung zakar atau kemaluan laki-laki dan membuang bagian dari kelentit atau gumpalan jaringan kecil yang terdapat pada ujung lubang vulva di bagian atas kemaluan perempuan.
Syariat Pra Sejarah
Perintah berkhitan ini ternyata tidak hanya menjadi dominasi umat Islam. Umat-umat agama Samawi, seperti Nasrani dan Yahudi mengenal syariat ini. Bahkan, dalam sejarahnya, bangsa-bangsa terdahulu pun seperti bangsa Mesir Kuno, bangsa Babilonia, Sumeria, dan lainnya, melakukan ritual berkhitan. Ini bukti bahwa khitan mempunyai tujuan khusus dan penting bagi orang yang melakukannya.
Kebiasaan sunat (khitan) ini telah dilakukan sejak zaman prasejarah. Ini berdasarkan hasil pengamatan dari gambar-gambar di gua yang berasal dari Zaman Batu dan makam Mesir purba. Pada masa Babilonia dan Sumeria Kuno, yakni sekitar tahun 3500 Sebelum Masehi (SM), mereka juga sudah melakukan praktik berkhitan ini. Hal ini diperoleh dari sejumlah prasasti yang berasal dari peradaban bangsa Babilonia dan Sumeria Kuno. Pada prasasti itu, tertulis tentang praktik-praktik berkhitan secara perinci. Begitu juga pada masa bangsa Mesir Kuno sekitar tahun 2200 SM. Prasasti yang tertulis pada makam Raja Mesir yang bernama Tutankhamun, tertulis praktik berkhitan di kalangan raja-raja (Firaun).
Namun, alasan khitan ini pada masa itu belum diketahui secara jelas. Tetapi, beberapa pendapat memperkirakan bahwa tindakan khitan ini merupakan bagian dari ritual pengorbanan atau persembahan, tanda penyerahan pada Yang Maha Kuasa, langkah menuju kedewasaan, tanda kekalahan atau perbudakan, atau upaya untuk mengubah estetika atau seksualitas.
Syariat Para Nabi
Khitan sudah dikenal sejak zaman Nabi Ibrahim AS. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah RA oleh Imam Bukhari, Muslim, Baihaqi, dan Imam Ahmad, bahwa Nabi SAW bersabda:
“Ibrahim Khalil ar-Rahmanberkhitan setelah berumur 80 tahun dengan menggunakan kapak.”
Namun, ada sejumlah riwayat dan literatur yang menerangkan bahwa khitan ini telah ada sejak zaman Nabi Adam AS.
Mengutip keterangan dari Injil Barnabas, Nabi Adam AS adalah manusia pertama yang berkhitan. Ia melakukannya setelah bertobat kepada Allah dari dosa-dosa yang dilakukannya karena melanggar larangan Allah untuk tidak memakan buah khuldi.
Syariat ini ditegaskan kembali oleh Nabi Ibrahim AS, dikarenakan pada masa itu banyak keturunan Nabi Adam AS yang telah melupakan syariat ini. Karena itu, Nabi Ibrahim AS diperintahkan untuk menghidupkan kembali tradisi yang menjadi fitrah umat manusia itu.

Dalam kitab Zabur (Mazmur) yang diturunkan kepada nabi Daud AS, disebutkan orang yang tidak berkhitan termasuk dalam golongan orang musyrik yang jahat. Dalam kepercayaan kaum Nasrani juga demikian. Ajaran agamanya mengajarkan umatnya untuk berkhitan. Dalam Bibel kitab suci umat Kristen disebutkan,
Kejadian 17:9-10 Lagi firman Allah kepada Abraham: “Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjianKu, engkau dan keturunanmu turun temurun. Inilah perjanjianKu, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu SETIAP LAKI-LAKI DI ANTARA KAMU HARUS DISUNAT;
Kejadian 17:13-14. Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus disunat; maka dalam dagingmulah perjanjian-Ku itu menjadi perjanjian yang kekal. DAN ORANG YANG TIDAK DISUNAT, YAKNI LAKI-LAKI yang tidak dikerat kulit khatannya, maka ORANG ITU HARUS DILENYAPKAN dari antara orang-orang sebangsanya: ia telah mengingkari perjanjian-Ku.”
Lukas 2:21. Dan ketika genap delapan hari dan IA HARUS DISUNATKAN, Ia diberi nama Yesus,
Banyak teks injil yang menyatakan bahwa berkhitan merupakan kewajiban yang sangat ditekankan. Dan bahkan Yesus pun dikhitan saat usia delepan hari. Namun faktanya, banyak orang Kristen yang tidak melaksanakannya.
Selanjutnya, ajaran yang dicontohkan Nabi Ibrahim ini diikuti oleh para Nabi dan Rasul sesudahnya. Mereka juga mengajarkan hal itu kepada umatnya masing-masing. Rasulullah SAW menerapkan juga terhadap kedua cucunya, Hasan bin Ali bin Abi Thalib dan Husein bin Ali bin Abi Thalib, pada saat masing-masing baru berusia tujuh hari. Sementara itu, menurut hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik dan Ibnu Abdul Bar, Rasulullah SAW telah berkhitan sejak dilahirkan.
Khitan Dalam Pandangan Modern
WHO dan program AIDS PBB sejak 2007 lalu mengakui pentingnya khitan bagi kesehatan. Pengumuman resmi yang dikeluarkan kedua lembaga ini disebutkan bahwa khitan bagi kaum laki-laki secara signifikan bisa melindungi kaum pria heteroseks dari bahaya HIV.
Sebuah penelitian pada 2006, menunjukkan, seorang pria yang dikhitan terbukti jarang tertular infeksi melalui hubungan seksual dibanding yang tidak khitan. Penelitian yang dimuat dalam jurnal Pediatrics terbitan November 2006 itu menunjukkan, khitan ternyata bisa mengurangi risiko tertular dan menyebarkan infeksi sampai sekitar 50 persen dan merekomendasikan sunat bagi bayi yang baru lahir mengingat manfaatnya bagi kesehatan.
Konferensi internasional ke-25 tentang AIDS di Bangkok, dipaparkan hasil penelitian bahwa khitan bisa mengurangi tingkat HIV (virus penyebab AIDS), sipilis, dan borok pada alat kelamin.
Dasar Hukum Khitan
Mengenai khitan tidak dijelaskan secara perinci dalam Alquran. Masalah khitan ini hanya dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW. Karena itu, para ulama berbeda pendapat mengenai syariat berkhitan ini, apakah hanya untuk laki-laki dan perempuan, atau hanya laki-laki saja.
Dalil atau landasan hukum yang dijadikan dasar oleh para ulama mengenai hukum berkhitan adalah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abud Dawud dan Ahmad. “Buanglah darimu buku (rambut) kekufuran dan berkhitanlah.” Perintah Rasulullah SAW ini menunjukkan kewajiban umatnya untuk berkhitan.
Atas dasar ini, mayoritas ulama, seperti Imam Syafii, Hanbali, sebagian pengikut Imam Malik, dan Abdurrahman al-Auzai (wafat 156 H) sepakat menetapkan hukumnya wajib bagi laki-laki.
Pendapat ini dilandaskan kepada firman Allah SWT dalam Alquran surah An-Nisa [4] ayat 125, yang memerintahkan Nabi Muhammad SAW agar mengikuti ajaran Nabi Ibrahim AS. “Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.”

Begitu juga, dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Bukhari, Baihaqi, dan Ahmad dari Abu Hurairah RA. Ibrahim Khalilur Rahman berkhitan setelah berumur 80 tahun dengan menggunakan kapak. Nabi Ibrahim AS melaksanakannya ketika diperintahkan untuk khitan, padahal beliau sudah berumur 80 tahun. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya perintah berkhitan.
Sedangkan khitan perempuan. Tidak ada hadis sahih yang menjelaskan hukum khitan perempuan. Sayid Sabiq dalam Fiqh al-Sunnah menegaskan, semua hadis yang berkaitan dengan khitan perempuan adalah dhaifatau lemah, tidak ada satu pun yang sahih.
*****

*penulis adalah Pakar Kristologi, Pendiri Irena Center, Pimpinan Umum Gerakan Muslimat Indonesia.