SELAMAT TINGGAL KAMPUSKU

SELAMAT TINGGAL KAMPUSKU

WISUDA UNISFAT 2015

WISUDA UNISFAT 2015

pada ahir 2010 saya pertama masuk kuliah, yaitu di Universitas Sultan Fatah Demak saya mengambil fakultas Teknil Informatika, selama 4 tahun lebih saya di tempa dengan berbagai macam cobaan baik system di kampus sediri di masa itu dan cobaan factor x dirumah maupun diluar rumah.. alhamdullilah karena Allah saya berhasil mendapatkan gelar strata S1 di Kampustersebut. Bagi temen2 yang belum beruntung atau adik2 kelasku yang belum selesai . mari selamat berjuang.. smuanya demi kalian sendiri!! Bukan saya..

serigala berbulu marmut

Jika dulu sewaktu kamu masih kecil, suka sekali dibacakan cerita dongeng ketika hendak tidur. Aku juga sama.

Tapi, sekarang tugasku bukan lagi mendengarkan cerita, melainkan menceritakannya.

Akan aku ceritakan sebuah dongeng, tapi bukan cerita pengantar tidur. Kau mau mendengarkan, kan?

***

Alkisah, hiduplah pasangan binatang yang saling cinta yaitu, Domba jantan dan Serigala betina yang tinggal di pedalaman hutan Hati. Domba adalah binatang herbivora, pemakan tumbuh-tumbuhan. Sedangkan, Serigala adalah binatang karnivora, pemakan daging. Namun seperti pepatah lama –cinta bisa membuat mata buta.

Mereka hidup ’sangat’ sederhana: rumah beratap jerami, makan kadang sehari cuman sekali, pagi makan malam kelaparan. Lauk pun harus berbagi. Sangat sederhana.

“Sayang, kautak apa-apa kan? Kalau kita hidup terus begini,” kata Domba Jantan.

“Tentu saja. Semua asal bersamamu, aku mau,” balas Serigala Betina tersenyum.

Waktu berjalan cepat. Seperti jam pasir dalam botol yang mengalir dari hulu, ke hilir. Hingga suatu ketika Serigala betina, tak bisa lagi hidup sederhana. Tubuhnya mulai kurus ceking, lama tak makan daging. Serigala betina sudah tak sexy lagi. Namun cinta tetaplah cinta, buta dan buta, itulah cinta Domba Jantan kepada Serigala Betina.

“Aku mau terlihat cantik lagi, sexy lagi. Seperti dulu..,” ucap Serigala Betina mengeluh, “aku tidak bisa begini melulu. Aku mau makan daging.”

Mendengar Kekasihnya menderita, Sang Domba jantan merasa sedih,

“Iya, sayang. Besok aku akan pergi ke kota, mencarikan daging segar untukmu. Sabar ya.”

Pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit, ketika angin dan dingin menghimpit kulit. Domba Jantan berangkat ke kota, berkerja mencari uang, dan berharap setelah kembali membawa daging segar untuk kekasihnya.

***

Di sisi lain, di hutan lain. Hiduplah seekor Serigala jantan berkulit hitam yang sangat tampan, tapi tidak setampan hatinya. Serigala Jantan Tampan (selanjutnya akan ditulis nama yang sama) adalah Serigala pengelana. Hidup di hutan satu, berkelana di hutan lainnya: mencari daging untuk dimangsa.

Musim pun berganti gaun putih. Salju turun. Namun, Domba jantan belum juga kembali dari kota.

Singkat cerita, Serigala Jantan Tampan sampai juga di hutan Hati. Dan bertemu dengan Serigala betina, kekasihnya Domba Jantan yang belum kembali dari kota.

Mereka bertemu dan saling jatuh cinta pada pandangan pertama.

“Kau tinggal dengan siapa di rumah sederhana ini,” Serigala Jantan Tampan membuka percakapan.

“Dengan domba, Kekasihku.”

“Kau mencintai seekor domba, kau gila. Ia adalah makanan kita, makanan yang lezat.”

Serigala betina hanya diam saja. Salju yang turun semakin masuk ke jantung.

“Apa kau mencintaiku?” tanya Serigala Jantan Tampan.

“Sangat mencintaimu,” jawab Serigala betina singkat.

“Maukah kau melakukan sesuatu untukku, untuk kita.”

“Apapun, akan kulakukan,” ucap Serigala Betina tegas.

***

Tok … tok … tok! Suara pintu diketuk. Domba Jantan pulang dengan-tanpa daging segar di tangan. Mulutnya gigil gemerutuk seperti makan krupuk. Kota memang kejam.

“Kenapa?” suara Serigala Betina kecewa mendengar kabar berita, “kau tak membawa daging segar keinginanku?”

“Tenang saja, aku membawanya. Ini…,” Domba Jantan mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ranselnya.

Di bukanya sesuatu itu dari plastik hitam yang telah buat penasaran.

“Ini apa?” tanya Serigala Betina.

“Daging. Daging yang terbuat dari karet. Kau bisa memakannya kapan pun kau mau. Sesukamu,” kata Domba jantan. Serigala betina tercengang.

“Aku suka daging karet. Terimakasih ya, sayang,” Serigala Betina tersenyum.

Bruuk! buuk! buuk! Suara hantaman kayu mengenai kepala Domba Jantan. Serigala Jantan Tampan, membunuhnya dari belakang.

Persekongkolan antara Serigala Jantan Tampan dan Serigala Betina, telah membuat Domba Jantan terbunuh mengenaskan –karena cinta (buta) karena bosan hidup sederhana.

DAGING domba jantan mereka makan seperti pesta. Kulitnya yang berbulu mereka gunakan sebagai jaket di musim salju.

Setelah kenyang. Mereka keluar mencari tanah lapang. Lalu, duduk bersebelahan di bawah tamaran bulan. Jika dilihat dari kejauhan mereka mirip sekali Serigala, namun berbulu domba.

bekerja dengan otak kanan

Dari data Badan Pusat Statistik Januari tahun 2012, jumlah Pengusaha di Indonesia hanya 3,75 juta jiwa. Sedangkan jumlah Pegawai Negeri Sipil di Indonesia pada tahun 2012 4,4 juta jiwa, belum ditambah dengan jumlah Pegawai di sektor swasta yang kurang lebih sama jumlahnya.

Dari data ini Penulis melihat potensi orang mengeluh karena pekerjaannya minimal 2x lebih banyak dibandingkan dengan Pengusaha.

Pernahkah para pembaca mendengar keluhan dari teman-teman yang bekerja, baik di sektor pemerintah maupun swasta, mengeluh atas kejenuhan yang dihadapi di pekerjaan mereka. Tentu pernah, bahkan sering bukan? Penulis juga seringkali memperhatikan teman-teman yang tidak mengalami ketidakpuasan dalam pekerjaan yang sedang mereka jalani saat ini. Ekspresi yang muncul berupa keluhan, baik secara lisan maupun tulisan di media sosial.

Nah kalau sudah begini, apakah masih bisa diperbaiki?

Jawabannya tentu bisa. Menurut Penulis, orang-orang yang bekerja di kantor, baik di sektor pemerintah maupun swasta, mereka dominan menggunakan otak kirinya. Padahal semua otak manusia diciptakan Tuhan dengan 2 hemisfer yang masing-masing memiliki tugas dan fungsi yang khas. Dominan menggunakan otak kiri, seringkali membuat manusia terjebak dalam rutinitas harian, tidak mengetahui jalan keluar yang berbeda dari rutinitas yang biasa di hadapi. Mereka merasa aman dengan hal itu, meski seringkali merasa tidak puas dengan hasil yang mereka capai. Setelah mengeluh, mereka tetap setia dengan kebiasaan yang mereka lakukan.

Berbeda dengan orang-orang yang dominan menggunakan otak kanannya, mereka biasanya memiliki cara kerja yang dinamis, dan jauh dari yang namanya rutin-monoton. Mereka cenderung suka untuk menetapkan tantangan baru, jika tantangan yang lama sudah berhasil mereka atasi. Hal ini tentu membuat grafik pencapaian mereka meningkat dari waktu ke waktu.

Apa sesungguhnya problem yang dihadapi oleh para pekerja dominan otak kiri? Mereka terbiasa untuk bekerja dengan target yang telah ditetapkan oleh atasannya, tanpa itu mereka seringkali mengalami kesulitan untuk menampilkan unjuk kerja yang optimal karena energinya terpakai tanpa arah. Dalam keseharian di pekerjaan mereka seringkali merasa terjebak dan tidak punya pilihan, sehingga harus tetap bertahan untuk bekerja meskipun sesungguhnya mereka sudah merasa jenuh atau tidak bahagia.

Tulisan ini murni pendapat dan pengalaman yang dihayati Penulis pribadi.

Salam!

TNI PAMER KEKUATAN DIDEPAN PARA TAMU PERSEMAKMURAN 2014

Ini Kata Anak Saya Soal 4 x 6 dan 6 x 4

4 x 6 atau 6 x 4 ?

..

.

Anak saya NOEL mengalami hal yang sama dengan Habibi.

Dapat soal matematika 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 = 4 x 6 = 24 SALAH. Yang BETUL adalah 6 x 4 = 24.

.

Masih ada beberapa soal yang seperti itu. Nilainya juga jadi jelek. Saya yang ngajarin sempat mengernyitkan kening, ini kenapa salah ? Maksud gurunya maunya seperti apa ? Melihat dari jawaban yang betul, akhirnya saya menebak-nebak maksudnya bukan 4×6, tapi 6×4.

Anak saya protes, emangnya knapa kalau jawab 4 x 6 saja ? kan sama saja jawabannya 24 ?

Nggak tau lah, sudah , tulis aja kayak gitu. Kalau soalnya 4+4+4+4+4+4, tulisnya angka 4 nya belakangan, tulis dulu ada berapa jumlah angka 4 nya. Jadi 6 x 4, jangan dibalik-balik.

.

Yaelaaaahh . . . nih pa, kalo 4 + 4 + 4 + 4 + 4 + 4 enaknya tulis dulu angka 4 nya, baru tulis ada berapa angka 4, jadinya 4 x6

.

Kalo 6 + 6 + 6 + 6 + 6 tulis dulu angka 6 nya, baru tulis angka 6 nya ada berapa, jadi 6 x 5, gituuu . . .

.

Anak saya menggerutu. Repot amat sih 4 x 6, 6 x 4, kenapa sih pake ditulis-tulis kayak gitu. Mendingan 4+4+4+4+4+4 langsung saja 24, nggak usah pake 4 x 6 atau 6 x 4 segala.

Kalau mau penjumlahan, ya penjumlahan aja, mau berapa aja ntar Noel jumlahkan. Kalau mau perkalian ya perkalian aja. Dicampur-campur gini malah jadi bingung, maunya apa sih, hasilnya juga sama kok, disalahin.

4+4+4+4+4+4 = 24

4 x 6 = 24

6 x 4 = 24

Bikin soal kayak gitu aja, jadinya kan nilainya Noel 100

.

Katanya Kurikulum 2013 itu untuk mengeksplore nalar, logika dan kreativitas anak.

Kalau logika anak 4 x 6 dan bukan 6 x 4, kenapa pula logika nya harus dimatikan ?

Sebenernya saya nggak tega memaksakan logika aneh, 4 x 6 tidak sama dengan 6 x 4.

Logika tersebut hanya bisa dicerna oleh calon doktor fisika matematika .

.

.

Logika Anak Berbeda Dengan Logika Doktor Fisika

Soal 4 x 6, Inilah Kambing Hitamnya…

Menanggapi soal PR seorang siswa SD yang hari ini mencuat dan ramai diperdebatkan merupakan suatu fenomena unik tersendiri bagi saya. Berkecimpung dalam duni pembelajaran, apalagi yang dihadapi adalah siswa SD memang memerlukan perlakuan yang khusus dan ekstra.

Hasil PR tersebut menjadi heboh karena menjadi perdebatan panjang. Mulai dari calon doktor, para guru, para profesor, hingga astronom LAPAN pun ikutan nimbrung memberikan komentar dan sekaligus beropini mengenai hasil pengerjaan PR tersebut.

Apalagi pengaruh media, yang secara ekslusif mengikuti dan mewartakan mengenai pendapat para ahli di bidangnya untuk ikut memberikan masukan terkait perilaku guru terhadap si siswa tersebut.

Terlihat jelas, di soal PR nya : 4 x 6 = 4+4+4+4+4+4 =…. lalu oleh si siswa dijawab 6 x 4 = 24

Ini yang salah hanyalah tidak adanya kesepakatan antara guru dengan siswa dalam mengerjakan soal tersebut seperti apa alurnya. Namun, pada penilainya si guru memberikan semacam warning untuk membaca bukunya. Artinya, gurunya sudah menekankan bahwa di buku itu sudah ada caranya, otomatis asumsinya adalah sudah diterangkan oleh gurunya. Mungkin siswanya saja yang memang tidak memperhatikan saat guru menerangkan alur menjawab soal seperti apa.

Sejauh ini, gurunya tampak jelas, bahwa memang ia menekankan bukan pada logika matematika, tetapi lebih pada proses alur mengerjakan yang baik dan benar. si guru tampak tidak mementingkan tujuan, sebab memang sudah pasti jawabannya akan sama, satu nilai, yaitu 24.

Nah !, sekarang untuk membela si siswa bagaimana ?.

Ia secara tak langsung sudah memenuhi kaidah-kaidah logika matematika yang akan diajarkan pada jenjang SMP dan SMA. Coba kita renungkan beberapa kalimat matematika berikut :

Premis I : 4 x 6 = 4+4+4+4+4+4

Premis II : 6 x 4 = 4 x 6 (ini sesuai teori sifat perkalian, sifat komutatif)

Premis III : 6+6+6+6 = 6 x 4

—————————————

Kesimpulan : 4  x 6 = 6 x 4 (logis !)

sehingga meskipun si gurunya ngotot ikut alur pengerjaan yang ada di buku, tetapi karena tidak adanya kesepakatan yang jelas diantara keduanya, maka sudah jelas, siswa dengan alur pikir berorientasi pada tujuan akhir sama dengan 24, langsung menulis 6 x 4. Jelas !, yang salah adalah tidak adanya kesepakatan.

Namun, karena media begitu LEBAY sehingga menjadikan hal kecil menjadi besar. Sontak, para ahli pun menjadi momentum ini sebagai ajang menaikkan rating keterkenalannya kepada publik, hehehe

Kadang juga, mengerjakan soal semacam itu malah banyak yang memakai pemisalan yang jelas tidak nyambung sama sekali. Itu soal matematika murni, bukan soal matematika terapan atau aplikasi dari matematika. Oleh karena itu kalau kemudian :

5 kambing + 4 sapi = 9. Ya, jelas salah ! (di matematika hitung asli dan dasar, tidak mengenal satuan. Yang ada satuan, itu sudah soal aplikasi dari matematika. Beda lagi kalau begini logikanya :

5 kambing + 4 sapi = 9 hewan berkaki empat. Ini benar. Tapi ini termasuk aplikasi. Inilah salahnya literatur matematika kebanyakan, mencampuradukkan antara mana hitungan dasar dan hitungan aplikatif.

4 x 6 = 6 x 4 = Bangsa yang Malas

Ada beberapa hal “kecil”  yang membuat heboh dunia maya;  kasus Dinda yang tidak mau mengalah kepada seorang ibu hamil,  kasus pilpres  dan terakhir kasus persoalan kali kalian anak SD kelas 2.

Sudah banyak artikel yang membahas masalah ini.  Sudah banyak pula komentar komentar ,  ada yang mendukung si anak SD ,  lebih banyak lagi yang mengecam si ibu guru yang “hanya”  memberi nilai 20.

4 x 6   berarti ada 6 buah angka 4.  Bisa juga berarti ada 6 ekor ayam bertelor 4 butir.  Sedangkan 6 x 4 berarti ada 4 buah angka 6.  Bisa berarti ada 4 ekor ayam bertelor 6 butir.    Bisa berarti ada 6 anak sekolah yang mendapat angka 4.  Bisa berarti ada 4 anak yang mendapat angka 6 .

Jika hanya masalah kali kalian 4 x 6  =  6 x 4 =  24 , tentu saja sama sekali tidak masalah.  Tetapi jika 4 x 6 berarti anda 4 kali berturut turut mendapat Rp.  6.000.000,- dibanding anda 6 kali berturut turut mendapat Rp. 4.000.000,- ,  mungkin “masalah” ini mulai menjadi “masalah”.

Ya,  kalau masalah 4 x 6  dan 6 x 4  dikaitkan dengan produktivitas dan efisiensi , tentu menjadi masalah bagi bangsa Jepang atau Korea Selatan atau Amerika atau bangsa……………..

Ada satu pendapat yang mengatakan bahwa soal kali kali bagi seorang anak sekolah dasar  tidak usah dipersulit,  tidak usah diperumit,  toh hasilnya sama saja.   Jadi kenapa harus menjejali kepala seorang anak  SD  dengan logika matematika (baca : hitung hitungan )  yang rumit ,  sederhanakan saja.

Rupanya masalah “menyederhanakan”  masalah sudah menjadi  biasa bahkan kebiasaan.  Kalau ditilang polisi,  sederhanakan saja,  damai di tempat.  Kalau mengurus dokumen,   sederhanakan saja, hubungi seorang kenalan ,  seorang dalam,  urusan gampang beres. Mengapa harus susah susah membuat skripsi,  toh bisa beli!

Jika matematika adalah menyenangkan  ,  berlogika dalam matematika mungkin lebih menyenangkan lagi dan akan membantu anak anak tidak menyederhanakan banyak persoalan.  Mungkin dengan melatih anak anak sejak usia dini dengan tidak menyederhanakan soal soal di sekolah akan membuat generasi muda negeri ini siap bersaing dengan anak anak negara lain.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

%d blogger menyukai ini: