pantai gelagah wangi tambak bulusan demak 

sekilas    wisata saat ini yang menjadi tranding topik di demak mulai 2017san adalah di tambak bulusan, karena daerah ini serasa unik disaat kota demak lagi gencar-gencarnya memerangi abrasi, di desa tersebut malah menjadi primadona karena luasnya hamparan pasir yang luas nan hitam dan di kelilingi hutan api-api dan magrove, saat ini pantai tersebut masih di kelola lewat swadaya dari lkmd dan karangtaruna disamping itu perawatan dan keamanan masih melibatkan masyarakat, limnas, karangtaruna, darwis dan kelompok pemuda setempat.

untuk menjadi sebuah BUMDes masih tahap penyusunan, karena tidak hanya pantai saja yang menjadi daya tarik kedepan, tetapi nanti lewat pengawasan dari pemerintah pemkot demak langsung, seperti penambahan sarana dan prasarana seperti  jalan, jembatan, pemancingan, restoran atau pusat kuliner dan oleh-oleh khas desa tambakbulusan natinya kedepan tekat pemerintah desa tambakbulusan akan menjadikan pantai gelagah wangi wisata laut sekala nasional, sehingga akan meningkatkan taraf hidup di desa tersebut.

untuk mencapai desa tambak bulusan/ pantai gelagah wangi ” dari arah kudus ke arah semarang sampai jembatan pos wonokerto belok kanan terus lurus kurang lebih 7km sampai di desa tambak bulusan sebaliknya, dari semarang kearah demak sampai jembatan pos wonokerto belok kanan terus lurus kurang lebih 7km sampai di desa tambak bulusan, lalu ikuti rambu2 petunjuk desa, (saat ini hanya sepeda motor yg bisa sampai ke parikiran akan tetapi bagi penguna sepeda motor yg ingin naik perahu tidak repot berjalan kaki bisa menyewa/ naik perahu yg sudah disediakan) bagi wisatawan yg naik perahu hanya di kenakan biyaya antara Rp.10000/orang (pulang pergi/antar jemput) dan jika di parkiran saat ini masih di tarik antara (Rp.2000) sebelum di kelola bumdes memang masih bebas tiket masuk, 

disana pengunjung akan di lihatkan pesona khas desa tersebut, seperti lebatnya hutan mangrove, sungai muara yg masih alami seperti di amazon, jembatan dari kayu menuju laut menembus seperti terowongan menuju hutan api, di perjalanan di dalam hutan akan merasa sejuk dan rimbun dengan kicauan burung-burung liar yg dengan senaja dilindungi pihak desa, keluar terowongan hutan pengunjung seakan akan melihat kilaunya mutiara terpendam, hamparan laut yang biru nan luas, dengan arus laut  dan gelombang yg tidak begitu kuat, berlaut dangkal tidak ada palung lautnya (akan tetapi untuk pengunjung yg tidak bisa berenang jangan mandi terlalu menengah ke tengah laut meski terasa dangkal tetapi demi keamanan untuk keselamatan pengunjung sangatberbahaya) bagiyang takut air laut bisa istirahat di bibir pantai menikmati jajanan dari warga setempat (harga tergolong masih sangat murah di bandingkan di wisata lain) dan melihat pelabuhan tanjung emas semarang dan lalulalang lalulintas kapal laut melewati pantai gelagah wangi tambak bulusan.

untuk keamanan tergolong sangat di perhatikan, karena di titik penting sudah di tempatkan linmas dan di hari sabtu minggu/hari besar di libatkan personil kepolisian dan instansi terkat, sehingga apa bila penggunjung mengalami tindakan kurang menyenangkan dari pengunjung lain atau sebagaimana darurat tidak usah sungkan-sungkan untuk melapor..

penulis : http://www.sochehsatriabangsa.com

 

wisata misteri okezone.com

Pesona keindahan Pantai Glagahwangi di Demak Jawa Tengah semakin dikenal akhir-akhir ini. Pantai yang berlokasi di Desa Tambakbulusan, Kecamatan Karangtengah itu masih sangat perawan karena tak mudah dijangkau. Pengunjung harus berjalan kaki menyusuri jalan setapak dan menembus rimbunnya hutan mangrove agar bisa mencapai lokasi.

Pada musim kemarau beberapa waktu lalu, jalan setapak relatif bisa dilalui dengan lancar. Namun memasuki musim hujan saat ini, wisatawan harus sangat berhati-hati jalanan licin. Apalagi, kanan-kiri jalan terdapat tambak-tambak ikan yang dipenuhi air, sehingga tak ada pilihan selain mengatur langkah agar tak terperosok ke jalan berlumpur.

BERITA TERKAIT+

Usai melintasi jalan setapak sejauh kurang lebih 500 meter, pengunjung harus menyeberangi sungai dengan jembatan bambu. Meski terlihat mudah, namun dibutuhkan nyali besar untuk melewatinya. Konstruksi jembatan tinggi menjulang dengan pijakan kaki hanya dari dua atau tiga batang bambu. Untuk menjaga keseimbangan terdapat pegangan tangan di samping atasnya.

Saat melintas harus berhati-hati agar tak terpeleset sekaligus menghindari beban berlebih di pijakan bambu. Setiap pijakan menyisakan suara berderit hingga menciutkan nyali, ketika berada tepat di tengah sungai. Jembatan itu sengaja dibuat tinggi agar perahu-perahu nelayan yang hendak melaut bisa melintas di bawahnya.

Lepas dari jembatan bambu yang beresiko itu, wisatawan masih harus menembus rimbunnya hutan mangrove. Meski siang hari, hutan mangrove terlihat gelap dan hanya sesekali terlihat sinar matahari yang menyelinap di antara dedaunan dan ranting mangrove. Beruntung, telah terdapat trek atau jalur berupa jembatan kayu yang membelah hutan mangrove. Jalur sepanjang 500 meter itu akan langsung mengantarkan wisatawan ke bibir Pantai Glagahwangi.

Seketika, pemandangan alam yang indah seakan terhampar di depan mata. Birunya air laut yang berkilauan di bawah sinar mentari langsung menyambut setiap pengunjung. Ombak pantai cukup landai, sehingga pengunjung dan beberapa anak bisa bermain air dengan aman. Garis pantai juga cukup panjang, hingga menjadi spot foto yang menarik di sejumlah tempat.

Namun, di balik indahnya pantai pengunjung harus mematuhi beberapa pantangan bila tak ingin celaka. Mitosnya, diantaranya adalah menjaga sopan santun dan tak berbicara sembarangan. Pantai ini tak hanya lokasinya yang terlindung oleh kondisi geografis tetapi juga oleh makhluk tak kasat mata. Bahkan, banyak masyarakat yang meyakini bahwa di tempat tersebut terdapat istana gaib dan dua ular raksasa berkepala manusia yang menjadi penunggunya.

“Kalau di sini itu, bagi orang yang bisa (memiliki indera keenam) bisa melihat ada istana yang sangat besar. Malah kalau kemampuannya lebih bisa melihat atau ditemui oleh ular raksasa berkepala manusia. Ada dua, laki-laki dan perempuan. Sepasang,” ujar tokoh masyarakat, Nurjanah, belum lama ini.

Dia mengatakan, lokasi istana gaib itu tidak berada persis di tempat para wisatawan biasa bermain air. Istana gaib agak menjorok ke tengah laut. Meski demikian, daerah kekuasaannya meliputi banyak tempat termasuk bibir pantai. Oleh karenanya, perempuan yang sehari-hari berjualan aneka minuman dan makanan di pantai tersebut, kerap meminta pengunjung untuk menjaga sikap.

“Beberapa waktu lalu ada rombongan pelajar datang ke sini. Nah ada satu perempuan yang sikapnya murung. Malah dia bilang mau mati. Tak berapa lama, saat teman-temannya bermain air, dia berjalan sendiri terus ke tengah lautan. Seperti enggak sadar, kerudungnya dilepas. Dipanggil-panggil suami saya enggak dengar, lalu dikejar dan ditarik ke tepi,” terangnya.

Gadis pelajar itu pun akhirnya selamat dari maut. Untuk mengembalikan kesadarannya, Nurjanah yang dikenal sebagai “orang pintar” tersebut lantas melakukan ritual tertentu ditemani suaminya, Ahmad Suudi. Pasutri itu kemudian meminta para pelajar untuk tak sembarangan berbicara dan segera pulang.

“Gadis yang enggak sadar tadi juga saya minta tak kembali dalam waktu dekat. Biar traumanya hilang dulu. Dulu sekira lima tahunan ada dua gadis yang meninggal di sini. Keduanya juga berjalan ke tengah lautan dan meninggal. Pencarian jenazah cukup lama. Satu ditemukan mengambang dan satunya seperti tertidur di pasir, dasar laut,” lugasnya sembari tersenyum.

Menurutnya, Pantai Glagahwangi tak bisa lepas dari mistis. Selain keberadaan istana gaib, lokasi itu juga dijaga kekeramatannya. Bahkan, jika pengunjung tak mengindahkan peringatan-peringatan bisa menjadi korban. “Kalau nelayan-nelayan itu biasanya niteni (mengetahui) jika mencium aroma harum, di situlah mulai tiba di kawasan Pantai Glagahwangi,” terangnya.

Sementara itu, Ahmad Suudi, menceritakan pengalamannya saat mengantarkan beberapa pengunjung yang hendak memancing ke tengah lautan. Dengan menaiki perahu, dia bersama enam pengunjung melaju ke tengah laut pada malam hari. Mendadak salah seorang pengunjung terperanjat melihat cahaya sangat terang, seolah perkotaan yang dihuni banyak orang.

“Dia sempat bertanya ke saya apa itu (cahaya terang). Tapi saya enggak menjawab. Hanya bilang nanti saja kalau sudah di daratan saya akan jelaskan. Dia manut (nurut) dan memancing seperti biasa. Setelah di daratan saya bilang, jika Anda beruntung bisa melihat istana gaib itu, karena enggak semua orang diperlihatkan. Orang pintar pun belum tentu bisa (menembus melihat istana gaib),” katanya.

Pria berambut gondrong itu menambahkan, kawasan wisata baru di pesisir Demak tersebut juga kerap menjadi lokasi terapi penyakit medis maupun nonmedis. Dia menceritakan, seorang pengunjung perempuan yang tengah kerasukan dari rumah dibawa ke pantai untuk disembuhkan. Makhluk gaib yang menggangu perempuan itu, dikabarkan takut dengan air laut di Pantai Glagahwangi.

“Semula (gadis kerasukan) dibawa dukunnya sendiri, tapi belum bisa sembuh. Akhirnya ketahuan istri saya, dan gadis itu di bawa dekat warung sini. Di bawah pohon tersebut digelar ritual dengan beberapa kembang. Lalu gadis itu dibawa ke tengah laut dan bisa lepas itu gaib yang mengganggunya. Jadi ya memang butuh kemampuan juga selain air pantai sini memang keramat,” lugasnya.

Sementara itu, Sie Keamanan Desa Tambakbulusan, Jatmiko, meminta setiap pengunjung senantiasa menjaga keselamatan masing-masing. Dia berkeyakinan, makhluk gaib juga berdampingan dengan manusia di alam yang berbeda. Meski tak kasat mata, namun sesuai kepercayaan warga setempat Pantai Glagahwangi juga dihuni makhluk selain manusia.

“Kita memang meminta kepada yang jualan di pantai ikut memantau para pengunjung. Lokasi mana saja yang berbahaya, mereka akan mengasih tahu. Ini semua demi keselamatan pengunjung. Termasuk kami sebagai warga sini juga melakukan prosesi larungan setiap Syawalan. Semoga selamat semuanya, pengunjung maupun warga kami,” harap pria yang biasa dipanggil Kang Miko itu.

(ulu)

https://news.okezone.com/read/2017/11/03/512/1807564/kisah-misteri-mitos-istana-gaib-dan-ular-raksasa-di-pantai-glagahwangi-demak

Iklan

Hidup Adalah Pertarungan

ika anda telah memenangkan sebuah pertandingan. maka, anda bisa disebut sebagai pemenang. Anda pun akan disebut sebagai pemenang pula bila anda kalah dalam pertandingan-yang dengannya anda berhasil berusaha memperbaiki segala kualitas hidup anda agar suatu saat kelak anda memenangkan baragam pertandingan dalam hidup anda.

Itulah sebabnya, dalam kehidupan ini sebuah pertanyaan yang sebenarnya, bukan hanya terletak pada yang anda menangkan, akan tetapi terletak pula pada apa yang anda lakukan, karena itulah apa yang anda lakukan akan menentukan apa yang bisa anda menangkan.

Lihatlah dengan mata hati anda ke dalam diri anda, bukankah anda dikenal dengan melalui pertarungan yang anda pilih. Bukankah apapun yang anda perjuangkan melalui pertarungan anda merupakan sesuatu yang penting bagi anda ??. Maka bisa jadi andalah yang akan mendapatkan posisi sebagi pemenang dalam hidup ini atau anda bisa pula mejadi kebanyakan orang yang mengharapkan dirinya sebagai pemenang akan tetapi yang tidak mereka dapatkan. Itu pulalah sebabnya, anda dikenal dari apa yang anda pertarungkan.

Bila yang anda perjuangkan itu merupakan sesuatu yang baik dan bernilai. Maka, suatu saat anda akan menjadi baik dan bernilailah anda.

Sebaliknya, bila yang anda perjuangkan itu sesuatu yang buruk dan merugi. Maka, suatu saat anda akan menjadi buruk dan merugilah anda. Karena setiap hasil adalah pembayaran dan konsekuensi logis dari proses-proses anda.

Maka, mulai dari sekarang katakanlah pada jiwa anda: “oh jiwaku, kuatkanlah hati dan fisik ini dalam genggaman seorang pemberani, seorang petarung, dan seorang pemenang yang menginginkan kehidupan yang baik dan bernilai. Jadilah engkau sebagi penguat hidupku. Jika jiwaku kuat, aku akan menari dengan indah di atas besarnya ombak kehidupan, janganlah biarkan ombak kehidupan menari di atasku jika jiwaku yang lemah. Jadilah engkau sebagai penguat hidupku, maka aku akan jadikan diriku kuat. Karena aku dan jiwaku adalah satu yang tak terpisahkan. Jadilah engkau sebagai penguat hidupku, karena dengan kekuatan itu, engkau jadikan diriku sebagi sebenar-benarnya petarung sejati.

Oleh karena itulah, janganlah menjadi petarung yang setengah-setengah. Jadilah seorang petarung sejati. Janganlah menjadikan hidup ini setengah-setengah. Karena yang akan anda dapatkan setengah-setengah pula.

Bersikaplah seperti petarung sejati. Janganlah anda memukul, karena bisa jadi itu akan menyakiti orang lain. Janganlah pula anda memukul terlalu lunak, karena bisa jadi balasan yang akan anda terima adalah pukulan keras yang menyakiti anda. Tetapi, bila anda harus memukul, pukullah dengan keras.

Hmmm…

Ingatlah kawan…!! Bila anda harus menyerang, maka anda harus menang, dan bila anda harus bertahan, maka anda pun harus selamat.

Tetaplah sayangi kehidupan ini, maka kehidupan ini akan mengembalikan kasih sayang anda dengan kualitas hidup yang lebih besar dari yang anda berikan.

Dan hidup ini bersikap ramah terhadap kita yang bersungguh-sungguh dalam pertarungan kehidupan ini untuk mencapai kemenangan, dan bersikap keras terhadap mereka yang tidak sadar untuk tetap terlibat secara sadar dalam kesengguhan proses kehidupannya.

Oleh karena itu, betapapun anda adalah seseorang yang menyukai permainan, janganlah anda bermain-main dengan hidup ini. Karena dengan permainan itulah anda membangun pengertian dan kemampuan untuk menjadi pemenang yang anggun dalam hidup anda nantinya.

Semoga bermanfaat. Wassalam.

Tags:

Laporkan
Tanggapi

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Penulis.

Bangun Pemudi Pemuda.mp3 – 4shared.com – penyimpanan dan berbagi-pakai file online – unduh – iya

Bangun Pemudi Pemuda.mp3 – 4shared.com – penyimpanan dan berbagi-pakai file online – unduh – iya.

arab saudi bungkam

Islam Times – Apakah bungkamnya para pejabat Arab Saudi di saat militer Israel melakukan kebiadabannya bagian dari kesepakatan rahasia Arab Saudi dan Israel dalam masalah proyek jembatan dari pulau Tiran? Terlebih lagi setelah sejumlah pakar menyebut-nyebut adanya sumber minyak di pulau Tiran dan Sanafir.

Negara-negara Arab hingga kini tetap anteng menjalankan propaganda strategi asing terkait kunjungan Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad ke pulau Abu Musa, Iran, Teluk Persia. Indikasi tersebut jelas, sebab para pemimpin berigal Arab tetap bungkam dan menggerendel mulutnya mengenai pendudukan Israel atas kepulauan Tiran dan Sanafir milik Arab Saudi.

Sementara terkait tiga pulau milik Iran, enam negara Teluk Arab akan bertemu di ibu kota Saudi, Riyadh, membahas kepemilikan ketiga pulau yang diklaim oleh Uni Emirat Arab (UEA), kata Gulf News Jumat, 13/04/12.

Para menteri luar negeri dari anggota Dewan Kerja sama Teluk (GCC), yaitu Arab Saudi, Kuwait, Bahrain, Qatar, UAE dan Oman, akan bertemu pada Rabu ini, 18/04/12 untuk pertemuan darurat guna menentukan strategi bersama berkaitan dengan Iran.

Menurut laporan itu, Sekretaris Jenderal GCC Abdul Latif Al Zayani mengecam perjalanan Ahmadinejad itu sebagai “pelanggaran yang jelas atas kedaulatan UEA” dan “tidak sejalan dengan kebijakan GCC menjaga hubungan bertetangga baik dengan Iran.”

Hebatnya mereka. Soal kepulauan milik Iran, mereka kompak menyudutkan Iran, namun ironisnya Arab Saudi dan para pemimpin Arab berigal, tidak pernah mempermasalahkan dua pulau; Tiran dan Sanafir yang sampai saat ini tetap diduduki oleh Rezim Zionis Israel.

Secara historis, pasukan Israel menduduki kedua pulau tersebut sejak tahun 1967 tetapi raja Saudi tidak pernah mempersoalkan atau bersuara merebut kembali kedua wilayah yang diduduki oleh Israel tersebut.

Dua pulau tersebut awalnya oleh Saudi Arabia disewakan kepada Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser, untuk keperluan logistik dalam Perang Enam Hari tahun 1967 dengan pasukan Israel. Namun, pulau-pulau tersebut malah dicaplok tentara Tel Aviv sejak Mesir mengalami kekalahan.

Anehnya, Uni Emirat Arab tanpa memiliki bukti kuat ngotot dan mengklaim tiga pulau Abu Musa, Tunb Kecil dan Tunb Besar sebagai miliknya. Bahkan Uni Emirat Arab memanfaatkan isu Arabisme dan propaganda internasional untuk mengusik ketiga pulau ini.

Urgensi Pulau Tiran dan Sanafir
Pelabuhan Elat yang terletak di Teluk Aqabah sangat strategis bagi Rezim Zionis Israel, karena sebagian besar aktivitas ekspor dan impor rezim Zionis melalui pelabuhan ini. Pelabuhan Elat menjadi penghubung Israel dengan pesisir timur dan selatan Afrika dan negara-negara selatan dan barat daya Asia.

Pelabuhan ini dihubungkan dengan pelabuhan Asqalan pesisir timur Laut Mediterania lewat jalur pipa minyak dan jalur darat. Dengan memiliki pelabuhan ini, Israel sudah tidak lagi membutuhkan Terusan Suez, dan kenyataannya menunjukkan strategis pelabuhan Elat bagi rezim penjajah ini.

Namun apakah satu-satunya jalur hubungan Israel dengan laut melalui Selat Tiran?

Selat Tiran adalah pulau yang menghubungkan Teluk Aqabah dengan Laut Merah. Mulut Selat Aqabah adalah pulau Tiran dan Sanafir. Mantan Duta Besar Rezim Zionis Israel untuk Amerika Ishaq Rabin pernah mengatakan, “Pulau Tiran dan Sanafir sangat strategis. Pertikaian tiga orang bersenjata saja mampu menutup selat ini.”

Sebegitu strategisnya selat ini hingga banyak pengamat menilai salah satu pemicu perang Arab-Israel tahun 1967 adalah sikap Mesir menutup selat ini bagi armada laut Israel.

Kronologi Sejarah Urgensi Pulau Tiran dan Sanafir
Mesir pada tahun 1949 menutup Terusan Suez untuk kapal-kapal Rezim Zionis Israel. Sikap Mesir ini secara otomatis mengangkat posisi Pelabuhan Elat menjadi sangat strategis bagi Israel. Karena dengan ditutupnya Terusan Suez tanpa memiliki pelabuhan tersebut, itu berarti kapal-kapal dagang rezim Israel setelah melakukan transaksi untuk kembali ke asaknya, harus memutari Afrika Selatan terlebih dahulu.

Pada tanggal 13 September 1955, Mesir mengeluarkan peraturan bagi kapal-kapal yang ingin melewati Teluk Aqabah harus mendapat izin negaranya. Sebaliknya, Israel melihat kendala dalam upayanya untuk mengakses laut bebas.

Saat Gamal Abdel Nasser, Presiden Mesir menasionalisasikan Terusan Suez, negara-negara Perancis, Inggris dan Rezim Zionis Israel menyerang Mesir. Hasil dari perang ini adalah terealisasinya keinginan Rezim Zionis Israel dengan dibukanya kembali Selat Tiran dan ditempatkannya pasukan internasional di Teluk Aqabah dan Gurun Sina.

Pulau Sanafir untuk pertama kalinya diduduki Rezim Zionis Israel dalam perang tahun 1956 selama 10 bulan. Sebelum perang tahun 1967 Mesir menyewa pulau ini dari Arab Saudi dengan tujuan menutup Selat Tiran untuk armada kapal Israel. Namun setelah perang pulau ini menjadi jajahan Israel.

Sebelum terjadi perang, Mesir menuntut penarikan pasukan penjaga perdamaian PBB dari garis gencatan senjata dengan Israel. Pasukan perdamaian PBB pada tanggal 23 Mei 1967 menarik pasukannya dari sana. Mesir tetap menutup Selat Tiran bagi armada kapal Rezim Zionis Israel.

Pendudukan ilegal Pelabuhan Elat di kawasan Umm Al-Rashrash oleh Rezim Zionis Israel setelah gencatan senjata tahun 1949, Luas Teluk Aqabah lebih banyak dimiliki oleh Mesir dan keyakinan negara ini bahwa Selat Tiran bukan kawasan bebas menjadi alasan Mesir untuk menutup selat ini.

Langkah yang dilakukan Mesir menunjukkan negara ini telah siap untuk melakukan perang paling menentukan dengan Rezim Zionis Israel. Namun Rezim Zionis Israel mendahului Mesir dengan lampu hijau yang diberikan Amerika, pagi hari tanggal 5 Juni 1967 membombardir 9 bandar udara Mesir selama 3 jam dan setiap kalinya selama 10 menit.

Pasukan darat rezim ini siang hari itu juga menyerang perbatasan Mesir dan kemudian merangsek maju mendekati terusan Suez. Sore hari kedua perang (6 Juni), Panglima Tertinggi Militer Mesir Abdul Hakim Amir memerintahkan pasukannya segera mundur dari Gurun Sina. Menyusul perintah ini, Mesir pada tanggal 7 Juni menerima dihentikannya perang dan menginformasikannya kepada Sekjen PBB, sementara militer Israel pada tanggal 8 Juni tengah berusaha untuk menduduki Gurun Sina secara keseluruhan.

Ada sejumlah capaian penting Rezim Zionis Israel setelah berakhirnya perang ke-3 tahun 1967 antara Arab dan Israel. Hasil-hasil itu sebagaimana berikut:

1. Rezim Zionis Israel tetap menguasai dan menduduki daerah-daerah seperti Tepi Barat Sungai Jordan, Jalur Gaza, Gurun Sina milik Mesir, Dataran Tinggi Golan milik Suriah dan pulau Tiran dan Sanafir milik Arab Saudi;
2. Sekitar 330 ribu warga Palestina menjadi pengungsi;
3. Rezim Zionis Israel menguasai sumber air Sungai Jordan dan Selat Tiran dan Teluk Aqabah terbuka bagi armada kapal rezim ini;
4. Rezim Zionis Israel berhasil menciptakan garis pertahanan baru yang strategis untuk menghadapi serangan asing;
5. Sejumlah daerah telah diduduki Rezim Zionis Israel. Setelah ini tujuan Arab hanya berusaha untuk mengembalikan tanah-tanah yang telah diduduki baik tahun 1948 atau 1967;
6. Kekuatan militer Mesir, Yordania dan Suriah telah hancur;
7. Ketidakmampuan para pemimpin Arab, ketidakkompakan dan ketidakseriusan mereka untuk membebaskan Palestina semakin tampak jelas;
8. Perlawanan Palestina muncul dan dari hari ke hari semakin menguat. Menyusul ketidakmampuan dunia Arab, bangsa Palestina menemukan jati dirinya dan berusaha dengan melakukan berbagai inovasi untuk membebaskan tanah airnya.

Perang tahun 1967 bukan akhir dari perseteruan Arab-Israel. Karena pada tahun 1973 perang kembali terjadi yang menjadi pendahuluan terjadinya Perjanjian memalukan Camp David yang ditandatangani oleh Presiden Mesir Anwar Sadat dan Perdana Menteri Rezim Zionis Israel Menachem Begin pada tanggal 17 September 1978. Dalam perundingan itu tidak disebutkan mengenai pulau-pulau milik Arab Saudi dan kawasan Umm Ar-Rashrash milik Mesir sebelum perang 1967 yang diduduki Rezim Zionis Israel.

Pengkhiatan Arab Saudi atas Cita-Cita Palestina dan Umat Islam
Mencermati kronologi pendudukan pulau Tiran dan Sanafir milik Arab Saudi oleh Rezim Zionis Israel dan bungkam pemerintah Arab Saudi atas kenyataan ini menimbulkan berbagai pertanyaan. Apakah mungkin ada kesepakatan rahasia antara pemerintah Arab Saudi dan Rezim Zionis Israel?

Perlu diketahui bahwa satu tahun setengah sebelum terjadinya perang Gaza, Arab Saudi menyakan akan membangun jembatan yang menghubungkan kedua negara ini dari Ra’s Al-Sheikh Hamid, Arab Saudi hingga Sharm Al-Sheikh, Mesir. Pernyataan ini kontan direaksi keras oleh Rezim Zionis Israel. Kerasnya pernyataan Israel ini dapat ditelusuri dalam tulisan yang dimuat dalam Situs Debka bahwa pembangunan jembatan itu dapat memicu perang besar di Timur Tengah. Alasan perang tahun 1967 antara Arab dan Israel dibesar-besarkan agar para pejabat Arab Saudi segera menarik kembali keputusannya itu.

Jembatan dengan panjang 50 kilometer itu diperkirakan akan menghabiskan biaya sebesar 3 miliar dolar dan direncanakan akan selesai selama tiga tahun. Hampir dua tahun dari pengumuman rencana dan peletakan batu pertama dilakukan, namun sampai kini tidak ada informasi baru mengenai kemajuan proyek ini.

Agresi brutal militer Rezim Zionis Israel dan bungkamnya Arab Saudi menyaksikan kebiadaban rezim ini membuat opini umum dunia bertanya-tanya. Apakah bungkamnya pejabat Arab Saudi dan para pemimpin Arab berigal saat militer Israel melakukan kebiadaban terhadap bangsa tertindas Palestina adalah bagian dari kesepakatan rahasia Arab Saudi dan Israel dalam masalah proyek jembatan pulau Tiran?

Terlebih lagi setelah sejumlah pakar menyebut-nyebut adanya sumber minyak di pulau Tiran dan Sanafir.

Waktu jugalah yang akan menjawab apa sebenarnya di balik kemungkinan kesepakatan rahasia antara pengkhianat dan munafik umat Islam dengan Rezim Zionis Israel.

Saat menulis surat kepada Perdana Menteri Palestina, Ismail Haniyah, Pemimpin Besar Revolusi Islam, Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei mengatakan; “Para pengkhianat Arab juga harus tahu bahwa nasib mereka tidak akan lebih baik dari orang-orang Yahudi dalam perang Ahzab”, sambil menyebut ayat ke-26 surat Al-Ahzab yang berbunyi, “Dan dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan.” Wallahu a’lam. [Islam Times/on/SL]

7 hari aanis memimpin jakarta

“Ojo dumeh,” kata orang Jawa. Artinya, “Jangan mentang-mentang.” Mentang-mentang punya kuasa, lalu bertindak seenaknya, semaunya sendiri. Tak peduli rakyat dirugikan, sakit hati, atau tersinggung.

Saya menilai perlu memberi catatan “Ojo Dumeh” itu untuk Pak Anis Baswedan. Sebagai wujud dukungan untuk membangun perilaku birokrat yang lebih mengayomi kepentingan umum, di atas kepentingan pribadi sebagai birokrat.

Pasalnya, ada tiga peristiwa yang mengundang celetukan “Ojo dumeh” dalam seminggu pemerintahan Pak Anies di DKI Jakarta. Setidaknya menurut penilaian subyektif saya.

Pertama, ujaran “saatnya pribumi menjadi tuan rumah”, saat pidato politik pada sore pertama dilantik Presiden menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Ujaran itu, karena alasan subyektif maupun obyektif, faktual menciderai kelompok sosial yang dikategorikan “non-pribumi”. Sekalipun yang dimaksud Pak Anies dengan “pribumi” mungkin adalah “golongan miskin”, sebagian orang kadung memahaminya sebagai “etnis asli” (indigenous ethnic). Sehingga “etnis pendatang” (exogenous ethnic) merasa dituduh sebagai “kolonialis” masa kini, pihak yang harus dijadikan “tamu di rumah pribumi”.

Ujaran itu, bagaimanapun, telah menciderai perasaan sebagian warga Jakarta, yang mengidentifikasi diri atau diidentifikasi sebagai non-pribumi. Ironis sebenarnya, sebab ketika Pak Anies menyerukan Jakarta Bersatu, pada saat bersamaan dia melontarkan ujaran dikotomis “pribumi-nonpribumi”. Sebab ketika Pak Anis menyebut pribumi Jakarta, implisit dia menunjuk pada nonpribumi Jakarta.

“Ojo dumeh.” Kekuasaan tidak boleh diskriminatif, hanya melayani “kaum sendiri”. Mesti merangkul semua warga menjadi “tuan rumah bersama”.

Kedua, kasus “kesepakatan informal” antara Pak Anies dan Pak Mahesh terkait pelepasan tanah miliknya untuk kepentingan jalur MRT di Hj. Nawi, Jakarta Selatan.

Kesepakatan informal semacam itu tidak pada tempatnya karena dua hal. Di satu sisi, kesepakatan itu mendahului putusan MA karena Pemda DKI sehatinya sedang mengajukan kasasi atas putusan Pengadilan Tinggi yang menetapkan ganti rugi harga tanah Rp 60 jt per meter persegi. Pemda DKI mematok nilai Rp 33 jt per meter persegi. Bukankah suatu obyek perkara harus tetap status quo, sebelum ada purusan tetap dari pengadilan?

Di sisi lain, kesepakatan itu dapat menimbulkan “perpecahan” di antara sekelompok warga, teman-teman Mahesh, yang sedang menunggu putusan MA. Salah seorang warga yang bersengketa sudah mengingatkan Pak Anies, “Hanya Mahes punya ya, Pak?” Kata Pak Anies, tidak masalah, Pak Mahesh sebagai contoh saja. Implisit, teman-teman Mahesh dianggap “mengganggu pembangunan MRT”. Artinya, kesepakatan itu menimbulkan “perpecahan” di antara warga yang berpwrkara dengan Pemda.

“Ojo dumeh.” Kekuasaan mesti tunduk pada hukum. Tidak boleh menerabas hukum. Tidak boleh menecah-belah warga. Juga tidak boleh mendiskreditkan orang yang sedang memperjuangkan haknya di jalur hukum sebagai “pengganggu pembangunan”.

Ketiga, kejadian menerabas larangan lalu-lintas. Yang paling heboh adalah kejadian di Puncak, ketika Pak Anies dan rombongannya melawan arus “naik satu arah” di jalur Puncak, saat turun ke Bogor dari kawasan agrowisata Gunung Mas, Sabtu (21/10) minggu lalu.

Ini bukan kejadian pertama Pak Anies menerabas aturan lalu lintas. Di Jakarta, menurut laporan netizen, setidaknya sudah dua kali terjadi. Pertama, masuk jalur bus Transjakarta untuk mengejar waktu debat Pilgub DKI. Kedua, meminta paksa jalan di tengah kemacetan dengan memainkan strobo.

Ikhwal strobo itu, bisa ditafsir sebagai penanda kecenderungan minta diistimewakan di jalanan. Sehingga saya khawatir, jangan-jangan kejadian menerabas aturan lalu-lintas itu bukan insidensi, tapi sudah jadi kebiasaan. Tapi mudah-mudahan saya salah.

Menerabas aturan lalu-lintas, baku atau rekayasa, sejatinya dilakukan untuk kepentingan sendiri. Orang lain silahkan bermacet-ria, saya tidak, harus jalan lancar. Akibatnya sudah jelas, kepentingan umum di jalanan dinomor-duakan. Itu jelas tergambar dalam kasus Pak Anies melawan arus di Puncak.

“Ojo dumeh.” Kekuasaan memang menempatkan seseorang pada posisi istimewa. Tapi keistimewaan itu mestilah menciptakan manfaat bagi khalayak, dalam hal ini rakyat. Bukannya jadi justifikasi untuk menuntut diistimewakan dalam segala hal.

Seseorang yang sudah mencapai posusi istimewa, tidak akan minta diistimewakan lagi. Jika dia masih minta diistimewakan, berarti dia tak pantas berada di posisi itu.

Saya pikir, Pak Jokowi bisa menjadi teladan bagaimana perilaku orang istimewa. Ketika kemacetan tidak bisa ditembus saat akan menghadiri upacara HUT TNI ke-72 di Banten tanggal 5/10/2017, Pak Jokowi memilih untuk jalan kaki 3 km ke Darmaga PT Indah Kiat, Cilegon, lokasi upacara. Tanpa keluhan sama sekali. Seingat saya, Pak SBY juga pernah darurat membonceng motor Patwal untuk menembus kemacetan tol menuju Sirkuit Sentul. Tanpa keluhan. Tanpa tuntutan. Tidak perlu panggil helikopter misalnya.

Apa susahnya Pak Anies mengambil jalur alternatif yang disarankan polisi di Puncak, misalnya. Atau minta tolong warga lokal atau Pak Polisi untuk memboncengkan Pak Anies naik motor turun ke Bogor. Pasti lebih simpatik, ketimbang maksa melawan arus.

“Ojo dumeh.” Mungkin Pak Anies perlu untuk lebih meresapkan falsafah Jawa yang bersahaja ini. Jangan sampai orang bilang pula, “Koyo ngono yo koyo ngono ning ojo koyo ngono” ( “Begitu ya begitu tapi jangan begitu”).

Intinya perlu memelihara keseimbangan antara penghormatan terhadap hak-hak diri sebagai penguasa dan hak-hak rakyat sebagai pemberi kuasa. Jika penghormatan terhadap hak rakyat rendah, maka legitimasi sebagai penguasa terancam pudar.***

happy briday kompasiana

22 Oktober 2008 adalah tanggal kelahiran sebuah media keroyokan yang bernama Kompasiana. Awal didirikan untuk menampung tulisan wartawan Kompas. Pada akhirnya dibuka untuk umum sehingga siapapun juga bisa menulis asal mengikuti aturan main Kompasiana.

Bernaung di bawah nama besar Kompas tidak menjadikan Kompasiana eksklusif malah boleh dibilang inklusif. Kelas penulis apapun boleh mengisi, cecoro macam saya, semi profesional sampai dengan wartawan senior dan beberapa malah tokoh nasional.

19 Februari 2017 saya dengan modal nekat membuat sebuah akun di Kompasiana dan langsung mulai menulis. Tulisan yang acak kadul namun tetap bisa tayang dan malah di vote oleh super senior Om Tjip (seorang senior yang sampai sekarang masih gagal saya ikuti dalam menulis satu artikel per hari). Keterbacaan hanya 40 saja.

Menambah semangat.

Berlanjut ke beberapa tulisan berikutnya tidak pernah mendapat label dari admin. Sampai akhirnya Raja Salman datang ke Indonesia dan membawa keberuntungan. Tulisan saya tentang fakta menarik di balik kunjungan Raja Salman mendapat label pilihan.

Akhirnya dapet juga labelnya, hehehe

Sempat ikut sebuah lomba tulisan tentang asuransi, malu maluin. Karena mungkin masuk kategori kudet tidak mengerti tentang menaruh tautan di artikel. Sedangkan salah satu syaratnya adalah memasang tautan di artikel.

Nanya ke mbah Google? Dijawab dengan baik begini loh caranya.

Masih gagal.

Ternyata di dashboard penulisan ada toh, sebuah gambar rantai yang berfungsi menaruh tautan. Kudetnya hehehehe

Saya sampai saat itu masih belum berminat untuk melakukan verifikasi, maluuu booo tulisan masih Ancoore.

Setelah satu artikel saya ” Dengan Kemajuan Teknologi, Apakah Ruang Privasi Masih Ada?” dijadikan headline oleh admin. Barulah saya yakin bahwa tulisan saya sudah masuk kategori cecoro menengah dan melakukan verifikasi.

Di balik semua itu saya merasa dengan menulis banyak hal yang saya dapatkan. Teman di Kompasiana yang akhirnya bergabung dalam sebuah grup yang masuk kategori gila kelas atas.

Juga memaksa diri saya untuk terus menerus untuk belajar, baik dengan membaca tulisan orang lain. Maupun terkadang hal yang saya pelajari saya buat menjadi tulisan agar saya lebih bersemangat dalam belajarnya.

Selain itu menulis menurut saya membuat saya semakin kritis dalam menganalisa sesuatu. Bayangkan jika menulis sebuah opini dengan pemikiran yang ngaco? Apakah tidak malu?

Saya ingin berterima kasih kepada para Kompasianer atas penerimaan saya seorang penulis cecoro. Baik di dunia nyata di Nangkring atau Kompasianival juga di dunia maya dimana banyak teman Kompasianer yang belum pernah bertemu.

Terima kasih Kompasiana atas media yang diberikan

Selamat Ulang Tahun yang kesembilan!

Semoga makin jaya dan berkembang

Dari seorang Kompasianer yang baru berusia sembilan bulan.

Dave Lapan Tuduh Panglima TNI Baper?

“Drama” pencekalan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo belum berakhir. Klaim Pemerintah Indonesia kepada Pemerintah AS terkesan tidak ditanggapi serius walaupun para pejabatnya meminta maaf, namn tanpa penjelasan yang memadai kenapa sampai insiden pencekalan itu terjadi sebagaimana tuntutan Pemerintah Indonesia melalui Kemenlu RI. Presiden Jokowi pun melarang Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo berangkat kembali ke AS.

Pencekalan AS terhadap Panglima TNI menimbulkan banyak spekulasi dari Indonesia atas apa yang terjadi di internal  Customs and Border Protection United States, lembaga yang mencekal Panglima TNI itu. Spekulasi tersebut, Hikmahanto Juwana menilai dapat berkembang secara liar di media sosial dan tidak terbendung, sehingga dapat memunculkan persepsi negatif publik Indonesia terhadap AS, khususnya pemerintahan Donald Trump.

Bernada sama, Philips Vermonte pengamat politik CSIS menilai bahwa lambatnya klarifikasi pencekalan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo ke AS padahal ada undangan dari Pemerintah AS dikhawatirkan pula akan dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok politik untuk kepentingan Pilpres 2019.

Pengamat militer Corrie Rahakundini Bakrie merujuk pada pemasangan spanduk dan poster di sejumlah ruas jalan di Jakarta yang terlihat menggunakan sentimen anti-Amerika Serikat. “Situasi seperti ini enggak akan bagus untuk hubungan Indonesia-AS,” katanya.

Media massa baik dalam dan luar negeri pun akhirnya mengungkit soal pencekalan ke luar negeri (oleh AS, Australia, Singapura  dan Belanda) yang sebelumnya terjadi pada para Jenderal TNI yang dikaitkan dengan pelanggaran HAM yang terjadi di Indonesia. Nama-nama seperti Letjen (Purn) Johny Lumintang, Mayjen (Purn) Sintong Panjaitan, Letjen (Purn) Sutiyoso, Jenderal (Purn) Wiranto, Letjen (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin dan Jenderal (Purn) Pramono Edhi Wibowo, Mayjen (Purn) Zacky Anwar Makarim, Letjen (Purn) Johannes Suryo Prabowo, serta Letjen (Purn) Prabowo Subianto, bahkan Jenderal (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono. Selengkapnya lihat tautan  disini.

Sepertinya pencekalan yang dikenakan pada Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo adalah sikap “gebyah uyah” (menyamaratakan semua Jenderal TNI) dari Pemerintah AS melalui  Customs and Boder Protection US  dengan mempertimbangkan  track record  para jenderal TNI yang dianggap oleh AS sebagai terduga pelanggar HAM. Walaupun belum ada tuduhan yang jelas soal ini yang dialamatkan kepada Panglima TNI. Sekali lagi ini juga spekulasi, karena Pemerintah AS belum memberikan penjelasan yang rinci soal alasn pencekalan Panglima TNI. Namun disebutkan  dalam laman  Customs and Border Protection  tugasnya adalah menjaga dari masuknya orang-orang berbahaya dan memproteksi ekonomi.

*******

Setelah digelarnya konferensi pers oleh Kapuspen TNI Mayjen TNI Wuryanto dalam jumpa pers di Kantor Panglima TNI, Jl Medan Merdeka Barat, Minggu (22/10/2017), pemberitaan soal batalnya kebarangkatan Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo ke Amerika Serikat menjadi polemik dan viral baik media dalam dan luar negeri. Sampai malam ini pemberitaan terkait masih terus berlangsung di media-media itu.

Sebelumnya, pada Sabtu, 21 Oktober 2017 Panglima TNI, istri dan empat orang delegasi yang sedianya menghadiri acara  Chiefs of Defense Conference on Country Violent Extremist Organization  (VEOs) yang dilaksanakan tanggal 23-24 Oktober 2017 di Washington DC urung terbang bersama pesawat Emirates pukul 17.50WIB dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Banten. Pihak Emirates Airlines memberitahu Panglima TNI menurut  Customs and Border Protection US  rombongan Panglima tidak boleh memasuki wilayah Amerika Serikat.

Undangan kepada Panglima TNI itu berasal Jenderal Joseph F Dunford Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS yang sekaligus sahabat dan senior Panglima. Begitu mendapatkan undangan di awal Oktober 2017, Panglima TNI mengkonfirmasi kehadirannya dan memproses visa dan segala administrasi yang diperlukan untuk masuk dan hadir pada acara itu.

Terkait pencekalan, Pemerintah Indonesia pun bereaksi. Selain Panglima TNI memberitahukan lewat surat insiden ini kepada Jenderal F Dunford, Panglima TNI pun kemudian melaporkan hal tersebut ke Presiden RI. Joko Widodo melalui ajudan Presiden serta Menteri Luar Negeri Retno LP. Marsudi, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, Wiranto.

Pada Minggu, 22 Oktober 2017 Armanatha Nasir mengungkap bahwa KBRI Washington DC telah mengirim nota diplomatik kepada Kemlu AS untuk meminta klarifikasi terkait kejadian Sabtu, 21 Oktober 2017. Tak hanya itu, Kemlu RI Minggu pagi ini juga mengirim nota diplomatik yang sama ke Kedubes AS di Jakarta. Bahkan, Senin pagi, 23 Oktober 2017 Menlu RI Retno Marsudi mengungkap sudah berbicara dengan Dubes AS di Jakarta meminta agar Pemerintah AS segera dapat memberikan Klarifikasi.

Mendapatkan pertanyaan dan nota diplomatik, semua pejabat terkait di Pemerintah AS menyatakan permintaan maaf atas dicekalnya Panglima TNI. Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia Joseph Donovan, melengkapi permintaan wakilnya Erin McKee selain menyampaikan maaf juga menyatakan dalam siaran persnya, “Kami tetap menjaga komitmen kami untuk Kemitraan Strategis dengan Indonesia sebagai cara untuk memberikan keamanan dan kemakmuran baik bagi bangsa maupun masyarakat di kedua negara.”

CNN  memberitakan bahwa “Menhan AS, James Mattis siang ini, Senin, 23 Oktober 2017 menyampaikan permohonan maaf kepada Menhan RI Ryamizard Ryacudu atas insiden sempat ditolaknya Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo di AS untuk memenuhi undangan Kepala Staf Gabungan militer AS,” kata Kepala Pusat Komunikasi Publik Kemenhan, Brigjen Totok Sugiarto kepada wartawan, Senin (23/10).

Menlu RI Retno LP Marsudi menyatakan pemerintah Indonesia menganggap permintaan maaf Amerika Serikat tidak cukup untuk menyelesaikan insiden pencekalan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo. Lebih lanjut Menlu RI berujar, AS harus menjelaskan duduk perkara tersebut secara rinci. “Yang kami tetap minta adalah penjelasan mengapa hal ini bisa terjadi,” kata Retno, Senin (23/10).

Juru Bicara Departemen Keamanan Dalam Negeri AS Dave Lapan (militarychild.org)
Juru Bicara Departemen Keamanan Dalam Negeri AS Dave Lapan (militarychild.org)

Kemarin, Selasa 24 Oktober 2017 diberitakan oleh media dalam negeri dan luar negeri penjelasan tertulis (siaran pers) dari Juru bicara Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat  (Department of Homeland Security)  Dave Lapan. Voice of America danDetik.com mengungkap pernyataan Dave Lapan sebagai berikut

“Kedubes Amerika Serikat di Jakarta telah memberitahu kantor Jenderal Gatot Nurmantyo yang dijadwalkan terbang ke Amerika untuk menghadiri undangan konferensi, bahwa karena protokol keamanan maka ketika ia tiba di bandara mungkin ada penundaan untuk naik ke pesawat. Upaya telah dilakukan oleh pihak bea cukai dan perlindungan perbatasan Amerika bekerjasama dengan Kedutaan Besar Amerika di Jakarta untuk menyelesaikan isu tersebut sebelum orang nomor satu di militer Indonesia itu tiba, namun ia terlanjur ditolak naik ke pesawat.

Pernyataan tertulis itu lebih jauh menyatakan “perihal ijin naik pesawat itu segera diselesaikan lewat koordinasi diantara kantor individu tersebut (Gatot Nurmantyo-red), Customs and Border Protection (Bea Cukai & Perlindungan Perbatasan-red), Kedutaan Amerika di Jakarta dan mitra-mitra lain pemerintah Amerika.”

Lapan melanjutkan bahwa “penumpang itu dijadwalkan terbang dengan pesawat lain dan diijinkan terbang. Ia memilih tidak melanjutkan perjalanan.”

Di akhir pernyataan itu, DHS menggarisbawahi bahwa pihaknya berkewajiban memastikan bahwa setiap orang yang masuk ke Amerika akan disaring dan diperiksa secara ketat. “Kami menyesalkan ketidaknyamanan yang dirasakan penumpang itu dan istrinya, Nenny.”

Jika dicermati pernyataan Lapan dalam siaran persnya ada empat hal penting yang digarisbawahi. Pertama, sudah diberitahukan oleh protokol keamanan selama di Bandara akan ada penundaan naik ke pesawat. Kedua, keterlanjuran pemberitahuan penolakan naik pesawat. Ketiga, diijinkan terbang dengan pesawat lain namun ia (Panglima TNI) memilih tidak melanjutkan untuk tidak melanjutkan perjalanan, dan keempat adanya penyesalan atas ketidanyamanan yang dirasakan penumpang.

Siapapun, jika perjalanan terbangnya tertunda tentu akan merasa kecewa, masygul, bahkan marah. Biasanya tindakan yang melibatkan perasaan itu bisa diwujudkan dengan meminta refund, meminta dijadwalkan dengan pesawat lain pada penerbangan berikutnya, atau pulang kembali tidak meneruskan perjalanan.

Penjelasan Lapan menegaskan bahwa memang terdapat prosesscreening setiap penumpang yang berkunjung ke AS yang diteruskan statusnya menjadi pencekalan terhadap Panglima TNI oleh  Customs and Border Protection US  yang berujung larangan terbang dengan Emirates, walaupun dengan adanya komunikasi intern mereka pencekalan sesaat itu dicabut kembali, dan diijinkan terbang dengan penerbangan lainnya.

Alih-alih menjelaskan sesuai yang dituntut oleh Pemerintah Indonesia yaitu memberikan klarifikasi yang lengkap mengapa Panglima TNI dicekal,  justru Dave Lapan dengan siaran persnya tersebut malah terkesan menuduh Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo bermain perasaan atau baper (atau mutung, istilah Bahasa Jawanya).

——-mw——-

%d blogger menyukai ini: