jual beras C4 terbaik di kota demak

Kami penjual beras dari wilayah Kabupaten Bantul Jogjakarta. Menawarkan aneka ragam jenis beras yang diambil dari petani di wilayah Delanggu Klaten, Muntilan, Bantul, dan Kulon Progo. Pengambilan beras dari luar Jogja dilayani secara grosir sedangkan dalam wilayah Jogja bisa dibeli secara eceran

BEM UNIVERSITAS SULTAN FATAH DEMAK (UNISFAT) DAN HMI SEMARANG DENGAN KERAS MENOLAK KENAIKAN HARGA BBM

Dengan ini, BEM UNISFAT DEMAK menyatakan MENOLAK rencana pemerintah menaikkan harga harga BBM. Sikap ini dikeluarkan berdasarkan alasan-alasan berikut:

bem-unisfat-demak-2013
• Dalam keadaan Indonesia saat ini dimana belum tersedianya (1) jejaring pengaman sosial sebagai kewajiban pemerintah dalam menjamin terpenuhinya hak-hak ekosob warga negara, dan (2) energi alternatif untuk mensubstitusi BBM sebagai energi tak terbarukan dan bereksternalitas negatif, mensubsidi BBM adalah kewajiban pemerintah guna (1) meredam efek fluktuasi harga minyak internasional yang berimbas ke domestik dan (2) menjamin energi tersebut dapat diakses oleh tiap warga negara.
• Harga BBM merupakan anchor price atau harga yang menimbulkan efek pengganda terhadap perekonomian makro, dimana kenaikannya akan menyebabkan kenaikan harga-harga barang lain (inflasi) terutama pangan. Dengan asumsi subsidi BBM saat ini salah sasaran, dengan menaikkan harga, pembebanan yang terjadi pun akan salah sasaran. Masyarakat di kelas sosial-ekonomi terbawahlah yang paling menerima imbasnya. Walau ada asumsi masyarakat dapat beradaptasi dengan harga baru, dalam proses itu, berapa banyak rakyat Indonesia yang akan mengalami putus sekolah, gizi buruk, dan disfungsi sosial lainnya.
• BLSM tidak menjawab masalah sebagai peredam shock bagi masyarakat kecil ketika harga BBM dinaikkan. Hal ini karena (1) pemerintah dengan sangat sederhana menerapkan pola penghitungan ekonomi konvensional dalam menentukan besaran dana, (2) rawan politisasi, (3) mendidik budaya konsumtif, dan (4) terbukti gagal dalam tataran teknis distribusi dan juga pemanfaatan dana tersebut oleh masyarakat (untuk ganti rokok, judi, dsb.).
Terdapat ketakutan beberapa pihak bahwa jika harga BBM tidak dinaikkan, APBN akan bocor dan negara akan collapse karena beban subsidi yang sangat besar. Pemerintah harus berhutang lagi untuk menutupi beban tersebut yang menyebabkan ketidaksehatan fiskal. Menanggapi hal ini, BEM UNISFAT DEMAK memberikan solusi jangka pendek dan jangka panjang yang sewajarnya sudah terpikirkan oleh pemerintah.

This slideshow requires JavaScript.


• Solusi Jangka Pendek
Khusus untuk tahun ini, karena beban hutang pemerintah tidak boleh melebihi 3% dari APBN, maka pemerintah harus merealokasi anggaran dari pos-pos lain yang kurang penting untuk dialihkan ke subsidi BBM. Salah satu pos yang paling menyedot APBN dan terus naik dari APBN adalah belanja birokrasi (gaji birokrat, biaya protokoler, biaya makan minum, dsb.) yang bahkan terus naik dari tahun 2005 sebesar sekitar Rp123,6 triliun menjadi Rp733 triliun di APBN 2012. Subsidi BBM sendiri pada tahun ini hanya berkisar pada angka Rp123 triliun.
• Solusi Jangka Menengah dan Panjang
• Menaikkan Pajak
Indonesia sebagai negara berkembang termasuk negara yang tax ratio dari PDB nya rendah, yaitu sekitar 11,5%. Selayaknya Indonesia berhutng lebih banyak, namun dengan alokasi yang jelas yaitu investasi jangka menengah-panjang seperti infrastruktur dan pendidikan. Jika pemerintah menaikkan pajak sebesar 3% saja dari PDB (secara ekonomi itu tidak menimbulkan disinsentif yang besar bagi sektor privat), maka dalam satu tahun pemerintah mendapat tambahan dana sekitar Rp240 trilun.
• Kurangi Secara Signifikan Kebocoran Anggaran
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa APBN negara ini mengalami kebocoran setiap tahunnya. Hal ini karena banyaknya dana-dana mark up dan korupsi yang dilakukan oleh pemerintah. Jumlah kebocoran itu sendiri tidak bisa diketahui secara pasti. Sebagian sumber menyatakan kebocoran APBN tahun 2012 mencapai 55%, atau sekitar Rp 700 triliun. Artinya, dengan asumsi tersebut, ada uang yang terbuang sia-sia atau tidak efisien sebanyak Rp700 triliun, yang jika diminimalisir tentunya dapat dialokasikan untuk pos yang lebih strategis .
Kapan Subsidi Layak dicabut?
BEM UNISFAT DEMAK menyatakan bahwa subsidi layak dicabut jika sudah tercipta dua kondisi berikut:
• Sudah tersedianya energi alternatif (diversifikasi energi) yang murah sebagai pengganti BBM. Saat ini wacana konversi energi BBM ke gas masih jauh dari terlaksana, dimana baru terdapat 14 SPBG se-Indonesia.
• Sudah tersedianya jejaring pengaman sosial yang layak dimana pemerintah memenuhi kebutuhan-kebutuhan mendasar warga negara yang biasanya rentan untuk dikorbankan di masa-masa krisis, seperti jaminan pendidikan dan jaminan kesehatan.

socheh, utuhnya rasionalisme

Sejarah panjang nan pelik jika kita coba mengulas rasionalisme. Apalagi diberikan embel-embel atau judul-judulan ‘potret utuh rasionalime’. Maraknya pandangan kaum intelektual mempersepsi rasionalisme, membuktikan paradigma ini masih seksi untuk didiskusikan atau dibedah menjadi beberapa tulisan kecil. Ada yang pro membela mati-matian paham ini, ada pula yang kontra mencaci rasionalisme. Dalam bebeberapa literatur ilmiah, rasionalisme sering dipandang sebagai simbol modernitas. Lahirnya paradigma ini menjadi anti-tesa dari bentuk dogamtis pengetahuan gereja di Eropa abad petengahan, namun belakangan penyebutan eropa ‘abad pertengahan’ diganti oleh orang-orang modern sebagai zaman ‘abad kegelapan’ (dark age). Dikatakan sebagai masa kegelapan karena pengetahuan akal dikunci oleh hegemoni dan dominasi yang ditampilkan oleh gereja di masa itu. Paradigma inipun muncul sebagai kemenangan rasio atas gereja. Maka muncullah istilah aufklarung (pencerahan) dan reinasaince (kelahiran kembali) sebagai simbol bangkitnya manusia sebagai individu (rasional) yang bebas berpengatahuan. Di sisi lain paradigma Rasionalisme dipandang sebagai sebuah gagasan yang meragukan kebenaran-kebenaran ajaran (teks) agama. Tokoh-tokoh rasionalisme, dalam beberapa dalil pengetahuannya mencoba menyangsikan teks suci agama sebagai sebuah representasi atas refleksi terhadap dimensi metafisika. Alhasil rasionalisme dikategorikan sebagai cara pandang sesat dalam proses berpengetahuan. Tidak jarang seorang itelektual yang memakai paradigma rasionalisme diklaim sebagai intelektual kafir, Bid’ah. Dari deskripsi tersebut diatas, penulis mencoba melakukan pelacakan akar pengetahuan Rasionalisme dengan melakukan pembedahan inti gagasan setiap tokoh yang menjadi representasi Paradigma Rasionalisme. Tentu saja penulis berangkat dari sebuah asumsi bahwa kesadaran yang hadir
menjelma menjadi pengetahuan tentunya tidak hadir dari ruang kosong, atau tiba-tiba ada begitu saja. Tentunya pengetahuan itu merupakan refleksi dari kondisi dan konteks dari si pemikir. Dalam posisi inilah menjadi penting untuk mendudukan setiap jejaring pengetahuan dengan ragam kenyataan sosial yang silang sengkarut menjamin keberlansungan perkembangan setiap peradaban. Untuk itu mari kita beri sedikit ruang kepada tokoh-tokoh Rasionalisme untuk meparkan gagasannya. Berawal dari.
1. Rene Des Cartes
Masa sebelum Rene Des Cartes (Judulnya Tidak Menarik,….. Gantiki)
Sebelum memaparkan lebih dalam pemikiran Rene Des Cartes, penting untuk menghadirkan gambaran kondisi kehidupan sebelum dan saat Rene Des Cartes hidup. Di abad pertengahan, gereja menampilkan wajah yang mengatur (hampir) segala-galanya, termasuk dalam hal berpengetahuan. ketika orang mencoba menafsirkan realitas, tentunya tidak boleh jauh, apalagi bertentangan dengan tatanan pengetahuan yang dibangun oleh gereja. Artinya rasio dibatasi oleh sejumlah aturan-aturan atau fatwa-fatwa agama, yang melanggarpun tak main-main sanksinya, ada yang dibakar, digantung, atau dibuang keluar dari kota. Satu contoh yang di ambil, saat itu gereja memproduksi pengetahuan bahwa bumi itu dikelilingi oleh matahari, artinya bumi itu diam, dan mataharilah bergerak berputar mengelilingi bumi, klaim ini sifatnya apriori, tak ada bantahan. Tapi ada saintis yang punya pandangan berbeda. Copernicus setelah melakukan penelitian sains, ia menemukan fakta yang ternyata sangat bertolak belakang dengan pandangan gereja. Ia menemukan bahwa bukan matahari yang mengelilingi bumi, tapi bumi yang berputar sesuai porosnya mengelilingi matahari, Teori Helio Centris ini dituangkan di bukunya berjudul “De Revolutionibus“. Temuannya ini tentunya membuat para kaum agamawan resah dan terhina. karena dianggap melawan gereja, ia diseret ke pengadilan. Akhirnya ia pun dijatukan sanksi berat, dibakar di depan umum karena tetap mempertahankan teorinya. Dari satu contoh diatas, dapat memberikan gambaran bahwa pengetahuan yang coba dibangun oleh gereja, bentuknya adalah dogmatis. Segala sesuatu yang ditelurkan oleh gereja adalah mutlak dan apriori, tidak bisa dibantah lagi dengan penjelasan apapun. Artinya rasio berada pada posisi yang ditekan oleh dogmatisme agama. Jadi jangan heran, selama abad pertengahan hampir tidak menemukan tokoh-tokoh saintis yang berpegaruh, karena memang pada dasarnya tertekan oleh keabsolutan agama. Kebebasan berpengeahuan saat itu harus dikubur sedalam-dalamnya. Sama halnya dalam beragama, gereja membuat katagorisasi-katagorisasi dalam hal mencapai ‘Tuhan’, dimana formulasi beragama harus sesuai dengan rancangan lembaga/institusi agama. Keluar dari ‘kategorinya’ digolongkan sebagai orang sesat atau kafir, sedangkan yang menjalankan secara lurus dianggap orang beriman dan bertakwa. Dengan begitu, pengetahuan yang ditampilkan lembaga/institusi agama bentuknya hitam-putih (benar-salah). Acuan alat pembedah antara ‘yang beriman’ dan ‘yang sesat’ adalah kategorisasi-kategorisasi yang dibentuk sesuai dengan tafsiran para pemuka agama, yang sifatnya mutlak tanpa bantahan. Di masanya, penggunaan rasio bepengetahuan dianggap kafir dan menyesatkan. Nah, lewat kategorisasi ini pengetahuan diciptakan dalam bentuk apriori dan dogmatis. Melihat keadaan yang seperti itu, artinya orang eropa dipaksa untuk meyakini seyakin-yakinnya tafsiran gereja. Sesama agama Kristenpun terjadi patologi keagamaan bagi yang ’berkristen’ berbeda dengan fatwa gereja, ia juga digolongkan sesat atau kafir.
Struktur Pengetahuan Gereja Abad Pertengahan :
Point penjelasan
1. Manusia pada posisi ini dianggap seperti domba-domba yang dikawal menuju keselamatan. Di sini, manusia dipandang sebagai kawanan atau kelompok, dan tentunya hanya sebagai objek yang tidak bisa leluasa berpikir. Kalaupun mengharuskan berpikir, harus berpegang pada fatwa gereja atau nasibnya sama seperti si Copernicus.
2. Semua rancangan pengetahuan, di produksi oleh pendeta yang mempunyai otoritas penafsiran, entah melalui penelitian atau tiba-tiba teori lahir dari intuisi para penafsir. Ada beberapa pengetahuan yang sangat bertentangan dengan sains. Misal fatwa gereja bahwa “bumi itu datar”, tidak ada yang bisa menggugat teori ini. Galileo Galilei (1564-1642) pernah menggugat teori ini, ia mencoba mengangkat kembali Faham Helio Centris, Dari sini kemudian, ia beramsusmsi bahwa bumi itu bulat. Teorinyapun dianggap melawan gereja, akhirnya nasibnya sama dengan pendahulunya Copernicus, mati dengan cara yang sama, dibakar!
3. Garis panah panjang berwarna merah menunjukkan batas ruang dunia. Yang berada diwilayah metafisika (non-materil)(Tuhan, malaikat, wahyu) tidak bisa dijangkau oleh indra. Sedangkan yang berada di wilayah fisika adalah dunia materil yang bisa dijangkau oleh indra.
4. Melihat skema di atas, narasi metafisika dibicarakan dengan acuan lembaga agama. Subtansi dijelaskan tidak dengan menggunakan rasio, tapi sudah di rancang oleh sekelompok pemuka agama yang memperoleh legitimasi lembaga agama (gereja). Berarti, gereja menggunaka prinsip kausalitas (sebab-akibat), sebab di ruang metafisika, sedangkan fisika di posisikan sebagai akibat. Hal ini biasa disebut dengan metafisika teologi. Di atas, sedikit gambaran zaman yang sebelum rasionalisme ada. Mari kita persilahkan Rene Des Cartes hadir.
Masa kecil calon ‘bapak modernisme’(kasi judul seksi)
Filsuf ini lahir di La Haye 31 Maret 1596 , salah satu daerah di Perancis. Ibunya Jeanne Brichard, meninggal beberapa hari setelah melahirkan dan bayinya pun dalam kondisi lemah. Sedari kecil wajahnya terlihat pucat dan mengidap penyakit turunan berupa batuk kering, di indikasikan ia mengidap TBC. Si bungsu ini memiliki 2 kakak, 1 kakak laki-laki dan 1 kakak perempuan. Sejak kecil, Rene Des Cartes kecil punya kebiasaan berdiam diri, temannya pun sangat sedikit. Karena kebiasaan ini, ayahnya menjulukinya ‘filsuf’. Pada umur 10 tahun, ia dikirim ke sekolah Jesuit di La Fleche yang merupakan sekolah yang cukuk ternama di eropa. Descartes senang menyepi, tidak mau diganggu dan mengarang tentang topik-topik kesenangannya. Di sekolah ini Descartes belajar logika, etika, metafisik, sejarah dan ilmu pengetahuan sebelum belajar aljabar dan geometri tanpa guru. Sebagai siswa di sekolah La Fleche, rektor sekolah itu, Pastor Charlet, memperhatikan kondisi anak ini yang memilki wajah pucat. pastor ini meyakini ada hubungan antara tubuh dengan pikiran dalam proses pertumbuhan manusia. Untuk itu pastor ini memberikan jatah istimewa kepada si Descartes kecil, yaitu bisa tidur kapanpun dia mau tanpa terpatok jadwal belajar sekolah. Dari sini kemudian terjalin hubungan antara Descartes dan Pastor Charlet, persahabatan antar dua manusia beda generasi. Berawal dari kebijaksanaan rektor sekolahnya, ia pun memiliki kebiasaan tidur melebihi manusia normal, malahan dia punya kebiasaan bangun kesiangan. Dari kebiasaan tidurnya ini ia merefleksi zamannya melalui mimpi, karena tempat tidurlah waktunya dihabiskan saat dia berpikir. Dari sini pula nantinya ia memperoleh metode kesangsian. Jadi, sejarah hidup Rene Descartes adalah sejarah ‘tidur’.
Metode Kesangsian (kasi judul seksi)
Seiring tumbuh dewasanya Descartes, ia kemudian mencoba melakukan kritikan terhadap dogmatisme yang dibangun oleh gereja. Struktur pengetahuan gereja yang mengharuskan melewati alur bentukan gereja, sama sekali menindih rasio dalam ‘mendefenisikan’ metafisika. Descartes mencoba keluar dari alur itu (perhatikan struktur pengetahuan gereja di atas), dalam alur itu, orang merefleksi metafisika yang bentuknya adalah ‘diyakini’ saja. Aturan refleksinya jelas, harus melewati lembaga agama. Berangkat dari ini, Descartes berani menggunakan rasionya untuk meragukan (menyangsikan) dalil kitab suci dan ruang fisika sekaligus. Asumsi dasarnya, ia membuang segala keyakinanya dan meragukan segalanya. Metode ini biasa juga disebut skeptisme, meragukan segala sesuatu untuk menemukan pengetahuan sejati.
1. Metafisika (subtansi) dalam kitab suci
Sudah diterangkan sebagian di atas, bagaimana cara kerja dalil kitab suci yang merefleksi metafisika secara dogmatis. Kaum agamawan mencoba mengajarkan pengetahuan tentang ruang metafisika (missal; surga, neraka, tuhan, dll) yang sumbernya telah diatur oleh pemuka agama. Descartes menganggap hal ini bertentangan dengan rasio manusia, karena pendekatan yang dipakai adalah lewat teks. Nah, Descartes melihat hal ini perlu disangsikan karena secara rasional sangat bertentangan. Pengetahuan yang keluar di kehidupan masyarakat eropa, bersumber dari tafsiran pendeta. Penafsir ini memperoleh pengetahuan dari teks yang didalamnya membahas hal-hal yang baunya bersifat metafisika. Orang disuguhkan dengan penjelasan tentang Tuhan, surga, malaikat, neraka, dan lainnya yang diakses tanpa rasio. “Jika beriman akan masuk surga, jika tidak patuh agama akan masuk neraka”, pendapat ini yang di lemparkan ke masyarakat. Mereka (di)harus(kan) meyakini pendapat ini. Hal-hal tersebut tentunya metafisistik, ketika surga coba diuji sebagai bahan diskusi, mereka dilarang mempertanyakan lebih lanjut, karena sudah tertuang dalam kitab suci. Berangkat dari pola pengetahuan inilah, Descartes menggugat. Misalnya, bahasan tentang surga, mereka dilarang mempertanyakan tentang keberadaannya, karena berada pada wilayah metafisika, tapi ketika para pendeta sendiri mencoba menjelaskan surga, akan terdengar tentang adanya sungai, perempuan cantik, madu, rumah mewah di dalam surga. Nah, yang dipertanyakan Descartes kemudian, “sungai, perempuan cantik, madu, rumah mewah” adalah wilayah metafisika atau justru fisika? Benda-benda inikan dapat ditemukan di kehidupan sehari-hari, berarti benda fisika. Kesimpilannya menjadi sangat ambigu. Mereka dilarang mempertanyakan surga karena di wilayah metafisika, tapi pendeta sendiri dalam menjelaskan surga justru megahadirkan bunyi-bunyian benda-benda fisika. Di sini letak ambiguitas dogmatisme pengatahuan geraja.
2. Panca Indra Sebagai Alat Pengakses Ruang Fisika (Fenomena)
Cara mengakses ruang fisika, tentunya harus lewat indra. Descartes juga menyangsikan posisi indra sebagai alat akses pengetahuan. Menurutnya, kepastian pengetahuan tak akan bisa ditemukan lewat panca indra. Indra diangap terbatas, karena kadang antar indra saling menegasikan. Pensil yang dicelupkan dalam air, lewat mata kita akan berpendapat bahwa pensil itu bentuknya bengkok, tapi setelah diraba ternyata bentuknya sama dengan pensil normal. Artinya pendapat antara mata dan kulit (peraba) memberikan pengetahuan yang berbeda. Contoh lainya lagi, mata melihat aspal dari kejauhan di terik matahari siang hari. Pasti akan terliaht seperti genangan air di atas aspal, ketika di dekati, air itu seperti tiba-tiba hilang. Lagi-lagi mata menipu dalam memberikan kesimpulan pengetahuan. Mari kita coba urai pendapat rene Descartes tentang kesangsian……
“Cogito ergo sum = aku berpikir, maka aku ada.”
Sekarang, kita urai kata-pekata. ‘Aku’ pada posisi ini merupakan subjek sadar. Ia diposisikan sebagai kesadaran Descartes yang berpikir/beragu. ‘Aku’ dilihat sebagai subjek yang sedang memilah-milah segala sesuatu di luar dirinya. Di sini akan kelihatan semangat Descartes yang mencoba keluar dari pengidentifikasian gereja, sebelumnya pendeta yang memandang manusia sebagai gerombolan, pengandaian kitab biasa menggunakan istilah ‘domba-domba yang diselamatkan’. Metode kesangsian Descartes difungsikan sebagai momentum memandang manusia sebagai subjek individu. Dari nalar inilah semangat individualisme mengembang di era modernisasi. Dari kesangsian, menemukan subjek sentral. ‘Berpikir’ maksudnya proses menyangsi atau meragu. Sangsi bagi Descartes, merupakan syarat mutlak mencapai subtansi. Sudah dijelaskan secara detail sebelumnya, bagaimana proses ini menyangsikan semua di luar diri Descartes. Setelah melakukan kesangsian terhadap segala sesuatu maka semuanya menjadi tak ada bagi Descartes, tak ada dalam artian telah diragukan keberadaanya. Hanya satu yang tertinggal dan tak bisa diragukan lagi, siapa lagi kalau bukan ‘aku yang sedang berfikir/menyangsi’ Ada’ menunjukkan bahwa ‘aku’ diposisi eksis, keberadaannya tak dapat disangsikan lagi. ‘Ada’ didapatkan sebagai konsekuensi dari proses sebelumnya (berpikir). Pada posisi ini manusia bisa dikatakan sebagai manusia sempurna, Karena telah berhasil menyangsikan segalanya. Hanya ‘aku’ yang tersisa (menjadi ‘ada’)dari segala kesangsian. Kesadaran rasio adalah elemen terakhir yang tak bisa diragukan lagi kalau ia sedang meragu/menyangsi.
Menjelaskan Rasio Murni Lewat Matematika
Dalam membaca perjalanan filsafat Descartes, jangan pernah coba dipisahkan dengan teorinya di ilmu matematika, ia sendiri mengaku satu-satunya pengetahuan yang pasti dan rasional adalah matematika. Rene Descartes menggunakan matematika menjelaskan cara kerja rasio murni menemukan ‘aku’. Persilahkan untuk memaparkan. Sekarang kita coba gunakan teori aljabar yang sering digunakan Descartes mencari titik kordinat.
Contoh : 2x + 3 = 10 Saya yakin pembaca pasti sudah mengerti dan bisa dengan cepat menyelesaikan soal di atas, yang ingin dicari adalah nilai ‘x’. Tapi tujuan saya mengangkat soal aljabar di atas adalah untuk memahami cara kerja rasio murni Descartes, menarik keluar prinsip-prinsip kerja penyelesaiannya. Terakhir kita coba hubungkan dengan metode kesangsian descartes.
Penyelesaian :
2,3,10 Entitas terketahuai
0 Non entitas
x Entitas belum terketahui
prinsip dasar penyelesaian :
1. Nilai x dicari karena belum terketahui nilainya
2. Proses penyelesaiannya harus dalam bentuk equasi (terdiri dari 2 ruas)
3. Nilai x tidak bisa ditemukan jika bercampur dengan entitas terketahui
4. x harus steril dengan entitas terketahui agar dapat diketahui nilainya
5. cara mensterilkan x, dengan memindahkan entitas terketahui (2,3) di ruas 1 ke ruas 2,
6. setelah x benar-benar steril, pencarian nilai x dapat terketahui.
Sekarang, coba kita hubungkan prinsip ‘mencari nilai x’ dengan rasio murni ‘menemukan aku’…….

tindak pidana pembunuhan,,,,

Undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan mengatur tentang ancaman sanksi pidana bagi pengusaha yang membayar upah di bawah Upah Minimum Regional. Ancaman sanksinya tidak tanggung-tanggung, yakni penjara antara satu hingga empat tahun dan atau denda berkisar Rp100 juta sampai Rp400 juta. Hal itu tegas disebutkan dalam Pasal 185 UU Ketenagakerjaan. Tapi, tahu kah anda berapa banyak pengusaha yang sudah di hukum dengan ketentuan ini?. Sekitar 1, 2, 3, 4, 5, dst … yah, intinya sedikit sekali. Nah, sekarang tahukah anda berapa perusahaan memberikan upah di bawah Upah Minimum kepada buruk/ pekerja nya?. Tidak usah menyebut angka, intinya banyak sekali. Tidak percaya??. Sekarang cek gaji anda, apakah sudah memenuhi Upah Minimum yang telah di tetapkan di Kab/Kota anda?. Atau cek juga, berapa gaji saudara, teman, kerabat, dan tetangga anda. Sudahka memenuhi Upah Minimum?. Alhamdulillah, kalau ternyata sudah setara bahkan lebih tinggi dari Upah Minimum yang telah di tetapkan oleh pemerintah.

Ketentuan dalam Pasal 185 ayat (1) jo. Pasal 90 ayat (1) UU.No.13 Tahun 2003 adalah ketentuan yang mengatur tindak pidana di bidang ketenagakerjaan. INGAT, tindak pidana yang di maksud disini merupakan tindak pidana murni (bukan aduan). Artinya apa?, tindak pidana ini tidak perlu di adukan. Penanganan harus dilakukan oleh pihak yang berwajib (Penyidik Kepolisian dan atau Pegawai Pengawas) tanpa harus menunggu pengaduan dari korban (buruh). Itu juga berarti setiap orang berhak melaporkan tindak pidana ini, meskipun dirinya bukan korban. Nah, kalau begitu mengapa kasus tindak pidana perburuhan kok jarang terdengar?. Padahal kalau dicermati ternyata banyak sekali pengusaha yang membayar upah kepada buruh/ pekerjanya di bawah upah minimum. Boleh jadi penegak hukum kita belum memahami betul aturannya. Atau mereka memang perlahan menutup mata dan telinga mereka dari hal ini?. Entahlah, inilah bagian dari ironi cerita kelam dunia perburuhan di negeri ini.

Penulis mencoba mengingatkan kembali memori anda. Bahwa di bulan april yang lalu Mahkama Agung (MA) telah menghukum 1 tahun penjara pengusaha Surabaya Tjioe Christina Chandra yang membayar upah buruh di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Kasus ini bermula ketika Chandra (terpidana) memberikan upah Rp 700.000 kepada karyawannya, padahal saat itu UMR Kota Surabaya sudah Rp 948.500. Pelajaran apa yang bisa di ambil dari kasus ini?. Pertama: bahwa buruh seharusnya tidak takut lagi untuk melaporkan tindak pidana yang dilakukan oleh majikannya (pengusaha). Respon penegak hukum (pengadilan) terhadap kasus ini sudah mulai terlihat. Kedua: bahwa pihak-pihak yang mengetahui ada tindak pidana seperti ini utamanya kepada pihak yang berwenang harusnya tidak tinggal diam. Amat sangat di butuhkan langkah kongkrit sesegera mungkin untuk menyikapi masalah ini

Nah sekarang, apakah kita akan tetap selamanya “diam” atau mulai memberikan perhatian terhadap masalah ini. Sebab penulis yakin ada diantara kita, teman, kerabat, dan orang di sekitar kita yang menjadi korban “kejahatan” sang majikan. Tidakkah kita merasa kasihan kepada mereka sudah jadi buruh/ pekerja dengan gaji yang seadanya. Padahal jika dipikir, gaji/ upah dengan standar Upah Umum Regional saja belum tentu dapat memberikan kesejahteraan kepada pekerja/ buruh dan keluarganya. Apalagi gaji/ upah yang diberikan pengusaha untuk mereka memang sudah di bawah standar upah minimum. MARI KITA BERSIKAP ‼! JANGAN BIARKAN TERUS HAL INI TERJADI‼ . Waktu 10 tahun sepertinya sudah cukup lama buat kita berdiam diri melihat kekacauan ini. Salam

liku hidup seperti pelacur

Pelacur atau PSK ‘Pekerja Seks Komersil’ terkadang keberadaanya dianggap sebelah mata. Mungkin bagi sebagian orang, profesi PSK adalah amat najis, hina dan kotor manakala ditilik melalui pendekatan agama. Kalau di tinjau dalam kacamata sosial, tentu saja orang yang berprofesi sebagai PSK, keberadaan mereka sama halnya seperti kita, mereka makan nasi, butuh uang, butuh dana pendidikan, butuh biaya beli susu anak, atau butuh uang untuk membiayai kehidupan orang tua di kampungnya.

Ngomong ngomong soal PSK, saya punya pengalaman menarik untuk disimak. Kejadian ini bermula saat saya masih bekerja di salasatu hotel bintang 5 dikota Bogor, sekitar tahun 1997an. Seperti kebiasaan pada umumnya, kegiatan hotel saat malam hari tidak seramai di waktu siang, baik dari jadwal cek in para tamu, agenda meeting, main main ke gerai butik, nyalon or spa, atau cuma sekedar bertamu ke temannya yang kebetulan menginap di hotel tersebut.

Pada Pukul 01.00 tengah malam, kala itu saya sedang duduk duduk di area lobby hotel. Terlihat wanita berpakaian seksi berjalan menuju pintu masuk dengan membawa tas jinjing di tangan. ‘Selamat malam Pak’ wanita itu menyapa saya, “Selamat malam.. Ada yang bisa saya bantu? Sambung saya sambil menghampiri beliau’ biasa lha, budaya greeting atau pelayanan seperti 3S ‘Senyum, Sapa dan Salam’ menjadi keharusan bagi setiap karyawan dalam memperlakukan para tamu yang masuk ke hotel sebagai bentuk pelayanan standar perusahaan.

Sejurus kemudian wanita itu mulai mengambil HP didalam tas untuk mengalihkan perhatian lalu berujar “Saya mau ke kamar Y bertemu dengan orang bernama X bisa? Selanjutnya saya arahkan beliau ke receptiont dan memintanya meninggalkan identitas diri kepada karyawan reception yang incharge dan yang bersangkutan pun berlalu menuju kamar yang dituju. 5 menit berlalu, kemudian terdengar bunyi ketukan slop sepatu menyentuh lantai dengan suara keras dan iramanya sangat cepat, suara itu semakin mendekat… Tiba tiba, Pak pak..!! Tolong saya..”, saya mau di bunuh sama penghuni di kamar X…”!!

Nah loh? Dalam hati saya bagaimana mungkin, seseorang yang menginap di kamar hotel berani membunuh wanita secantik beliau tanpa asal usul yang jelas. Saking penasarannya, kemudian saya membawanya ke tempat yang cukup aman dan jauh dari penglihatan pengunjung. Tidak berselang lama, sosok pria umur 50an dengan suara setengah gugup datang menghampiri saya. Ia bertanya ‘Pak, lihat wanita berpakaian X melintas kesini? Saya jelaskan bahwa selama saya berdiri di area lobby, tidak sempat melihat perempuan yang beliau tanyakan. Lalu saya desak sibapak yang intinya apakah ada masalah dengan wanita yang ia cari?. Sibapak mengeluhkan wanita yang datang ke kamar tempat dimana ia tidur, telah mengambil dompet miliknya. Kejadian ini terjadi saat beliau sedang ke toilet untuk buang air kecil.

Mau tau kelanjutan ceritanya? Selepas mendengar alur cerita versi beliau, segera saya kroscek ke pihak receptionist asal usul pria yang menginap di kamar tersebut. Terlihat dalam layar monitor ternyata si bapak mulai cek in sekitar pukul 22.00 atas nama tamu perorangan. Informasi tambahan menurut laporan security, pria tersebut masuk hotel tanpa menggunakan kendaraan pribadi alias menggunakan taxi.

Kelihatan ada sesuatu yang janggal. Kecurigaan mulai nampak, ketika bapak berperawakan tinggi besar itu berlalu menuju pintu keluar dan langsung menaiki taxi, sementara kunci kamar ia berikan kepada pihak receptionist dan berstatus cek out tidak akan balik lagi. Alih alih saat saya tanya mau kemana, ia mengaku mau mengejar si wanita tadi. Ini cerita nyata, kalaulah saya percaya ucapan sibapak misterius itu, tanpa aling aling mungkin saya langsung menyeret wanita yang dicarinya dan menyerahkan masalah ini kepada pihak berwajib. Tapi saya tidak setega itu.

Saat keadaan mulai terlihat aman, barulah saya confirmasi ulang apakah pengakuan sang tamu hotel tersebut benar adanya? Menurut si wanita, katanya sekitar 3 tahun lalu ia pernah ketemu dan di booking selama dua malam di sebuah hotel elit daerah bogor oleh si pria tadi. Dalam pengakuannya, saat berdua dikamar, sip ria tidak mau berhubungan intim, ia hanya meminta ditemenin ngobrol lalu disiang harinya minta ditemenin jalan jalan ke pusat perbelanjaan mewah dan di iming imingi akan dibelikan HP dan pakaian mahal sesuai maunya perempuan.

Ya, namanya juga PSK, mana mungkin menolak pemberian uang dengan jumlah banyak atau barang mewah sejenis HP, pakaian dan sejenisnya tanpa ia harus melakukan hubungan intim semalaman tho? Ternyata usut punya usut, setelah tiba di lokasi perbelanjaan, si lelaki itu betul betul mengajaknya ke sebuah conter HP. Disanalah niat jahat si pelaku dimulai. Mulanya ia tawari HP keluaran baru dengan harga termahal perlambang hadiah karena bersedia nemenin si pelaku jalan jalan. Kemudian pura pura layaknya seorang pembeli, dia jalankan transaksi tawar menawar dengan penjaga conter HP. Tidak berselang lama, si pria itu meminta penjaga conter memembungkus HP yang di pilih dan membawanya keluar toko dengan dalih akan mengambil uang ke ATM dan si perempuan tadi menjadi jaminannya.

Lima menit berlalu, si lelaki tidak memunculkan batang hidungnya. Hingga tigapuluh menit berselang, mulailah penjaga toko curiga dengan ulah lelaki tadi. Keadaanpun berubah menjadi tegang, si wanita di introgasi oleh pemilik toko dan diminta membayar HP yang dibawa oleh si pria karena sang pemilik toko mengira si wanita tadi adalah istrinya. Alhasil, wanita Pekerja Seks Komersil ini hampir menjadi korban amukan masa. Beruntung pihak kepolisian lebih dulu mengamankannya. Alhmadulilaah, setelah saya mendengar penjelasan, ternyata mata hati ini masih dalam keadaan jernih.

Intinya saya masih di kasih ridho untuk menyelamatkan hidup seorang PSK. Jika difikir ulang, kalau saja waktu itu saya serahkan kepada si lelaki tadi, bisa saja si pelaku dengan keji memperdayanya. Ah…. Sudahlah, hidup ini memang penuh warna, yang pasti saya yakin bahwa Tuhan itu maha penolong kepada setiap hambaNYA, sekalipun terhadap seorang PELACUR.

Akhir cerita, sebelum kami berpisah wanita itu kemudian menyampaikan ucapan terimakasih kepada saya. Ia pun menuturkan bahwa pengalaman yang paling mencekam menjalani karier sebagai PSK adalah saat saat dimana beliau dikerumuni warga dan memaksa dirinya masuk kamar prodeo karena di tipu sang klien. Waktu saya tanya ‘Saat mendekam di kantor polisi berapa lama, dan siapa yang membebaskan??” Sambil berlalu ia menjawab ‘Yang membaskan saya adalah seseorang yang beberapa kesempatan pernah membooking saya dan beliau profesinya sebagai pengacara’…

kita bukan tanda titik

Mendung, dia memanglah gelap dan terkadang dia juga kelabu. Namun apakah dia kan terus bergelayut sepanjang waktu, sedangkan hujan dalam kandunganya teramat ingin membuncah membasahi pipi bumi. Belum lagi bayu yang terus menyapu di sekitarnya, lambat laut cerah itu akan tersibak memancar.

Aku tau detak nadiku tak selamanya berdenyut, dan akupun tau raut mukaku segera mengeriput. Tak selamanya aku menjadi ganteng, begitu juga dengan tunas-tunas yang tumbuh, tak semuanya mereka menjadi sebatang pohon yang rindang.

Begitulah semua itu terjadi, mereka yang telah pergi takan mungkin kembali. Menjadi bangkai dan mengurai dengan ribuan senyawa di dalam tanah.

Aku dan kamu memanglah berbeda, dan kita sebuah tanda petik yang terkadang menjadi tanya. Sebab perjalanan menuju titik amatlah berliku, melewati banyak spasi juga jeda bernama koma.

Diam tak berarti mati, lihat dan amatilah pepohonan yang tak melangkah sedikitpun. Namun perlahan dia menjadi rindang dan kemudian menjadi lapuk.

Apakah setiap kesedihan harus terus diratapi, sedangkan ceria senantiasa mendampingimu. Buanglah neraka itu jauh-jauh dibenakmu dan siapkan langkah menuju surga di otak kananmu.

Karena kita adalah orang-orang yang berfikir.

Terima Kasih Telah Menaikkan Harga BBM sochehsatriabangsa”

Dari Kami, yang Sering Kau Sebut ‘Si Miskin’

Salam sejahtera untuk kita semua, terutama untuk Bapak Presiden yang—dilihat dari kantung matanya—nampaknya sudah begitu berpikir dan bekerja keras agar rakyatnya sejahtera dan hidup serba layak. Tak perlu serba cukup, itu terlalu tinggi bagi orang-orang seperti kami—yang sering kau sebut Si Miskin ini.

Panggil kami Si Miskin. Jangan lagi tanyakan hal retoris pada kami semacam apakah kami suka dengan sebutan ini, bahkan bagi sebagian kami ini adalah gelar persembahan presiden yang sangat membanggakan. Setiap nama kami ini disebut, semacam ada gairah baru untuk bekerja lebih gigih dan keras. Kadang kami lupa waktu, lupa makan, lupa istirahat, tapi tenang saja, ada dua hal yang tak pernah kami lupa: yang pertama keluarga dan yang kedua presiden kami sudah barang tentu. Bagaimana dengan Tuhan? Ah, kadang kami ingat bila sedang luang. Gelar—Si Miskin—ini membuat kami begitu sibuk, sejujurnya.

Jika anda bertanya kenapa sedari tadi kami menggunakan kata ‘kami’, tentu karena kami tidak sendiri. Anggota kami kurang lebih ada 28,59juta (BPS 2013), bayangkan bila seluruh anggota kami dikumpulkan dalam satu tempat. Banyak, bukan? Hal lain yang membuat kami amat bangga selain jumlah kami yang banyak ini adalah sistem seleksi yang ketat. Untuk menjadi bagian dari Klub Si Miskin—gelar kehormatan dari presiden—ini maksimal pendapatan perbulan haruslah Rp259,520, lebih dari itu jangan harap anda mendapat gelar kehormatan ini. Lihatlah, betapa spesialnya kami!

Beberapa hari yang lalu, di layar televisi warna 14 inch kreditan di rumah kami, kami melihat sebuah iklan yang menyebut-nyebut nama kami. Siapa yang tidak senang bisa muncul di TV? Ah, kami makin mencintai Pak Presiden. Dalam tayangan yang kami lihat itu disebutkan bahwa APBN negeri yang kami cintai ini sedang deficit, untuk menyelamatkannya harga BBM harus dinaikkan. Sejujurnya kami tak begitu mengerti apa itu APBN, apa itu defisit, dan bagimana hitung-hitungannya bekerja. Yang pasti, kelak bila harga BBM naik, katanya Pak Presiden akan memberi kami uang dengan cuma-cuma. Wahai Pak Presiden, terimalah sembah sujud dari kami sebagai ungkapan terima kasih.

Kini kami sangat antusias menantikan penaikan itu. Sebab jelas penaikan harga BBM akan meningkatkan produktivitas kami, Pak Presiden yang kami hormati pasti senang. Ada beberapa hal yang membuat kami senang dan harus berterima kasih entah dengan cara apa bila Pak Presiden jadi menaikkan harga BBM.

Pertama, jelas harga-harga sembako akan naik—barangkali harga rokok kesukaan kami juga, entahlah, kami tak terlalu mengerti bagaimana caranya harga-harga itu selalu merangkak naik. Hal ini jelas akan membuat kami makin produktif, bekerja makin keras, makin sering lembur dan mengerjakan apa saja untuk membeli sembako-sembako itu. Ah, itu terdengar sangat mulia dan menyenangkan! Semacam jihad barangkali.

Kedua, dengan adanya uang cuma-cuma dari Pak Presiden yang disebut BLSM itu jelas kami akan mengantre panjang dari Sabang sampai Merauke. Ini pasti sangat menyenangkan karena dalam antrian itu kami akan bertemu orang-orang baru, bersentuhan, lalu sesekali saling menginjak. Kami benar-benar tak bisa membayangkannya. Apalagi nilai estetis dari antrian BLSM, pasti indah. Oh iya, sebagian kami sudah punya rencana sebenarnya untuk uang itu, antara lain untuk membeli Handphone model baru yang bisa kami pakai untuk Twitteran, kami berharap bisa menyapa Pak Presiden di sana, karena kami dengar Pak Presiden cukup aktif di Twitter. Sebagian kami lainnya berencana menggunakan uang ini untuk membeli baju lebaran, urusan sembako bisa kami urus belakangan.

Ketiga, dengan penaikan harga BBM ini, jelas akan memperpanjang barisan kami, yang biasa disebut Si Miskin ini. Ada 29,38juta orang anggota Si Hampir Miskin (BPS 2011) yang kelak akan menjadi bagian dari kami. Siapa yang tidak bahagia bisa mendapat jutaan keluarga baru? Ini semua tentu berkat upaya keras Pak Presiden.

Ah, Pak Presiden, setiap peluh dan kerja kerasmu ini, entah bagaimana kami bisa membalasnya.

Tapi ngomong-ngomong, kami juga sering mendengar kabar-kabar tidak sedap yang kami tak mengerti maksudnya, tapi pasti itu tidak benar kan, Pak Presiden? Misal suatu kali kami pernah dengar kabar bahwa Pak Presiden tidak serius dalam mengelola energi, termasuk menyiapkan konversi BBM ke Gas. Di waktu yang lain kami juga mendapat kabar bahwa APBN kita banyak yang tidak jelas kemana muaranya, ah, pasti mereka mengada-ngada. Ada juga kabar tentang penyelundupan BBM bersubsidi untuk industri-industri, bah, mereka pikir kami akan percaya?

Oh iya, beberapa waktu lalu salah satu anak kami yang masih SMP menanyakan hal yang lugu, semoga ini tidak lancang. Dia bertanya: “BBM bersubsidi itu sebenanrnya buat siapa sih? Kalau buat orang Miskin seperti kita kenapa banyak mobil-mobil mewah juga pakai? Lalu kenapa Pak Presiden membiarkan? Kenapa tak dibuat aturan, mereka yang menggunakan BBM bersubsidi hanya mereka yang miskin seperti kami? Tentu beban subsidi menjadi lebih ringan, kan?” Ya, dia bertanya seperti itu. Memang anak-anak selalu sok tahu, ya. Kami percaya Pak Presiden selalu melakukan yang terbaik, dan bekerja sangat keras untuk menjamin kelayakan hidup kami—apapun yang terjadi.

Ucapan terima kasih ini, tentu tak sebanding dengan jasa Pak Presiden dan jajarannya. Tapi tenang saja, Pak, di Pemilu 2014 nanti kami akan memilih Partai Pak Presiden atau siapapun yang Pak Presiden dukung. Kami takkan melupakan jasa Pak Presiden yang telah memberi kami gelar kehormatan Si Miskin ini, terutama tiga jasa besarnya tadi: Membuat kami makin produktif dengan menaikkan harga Sembako, Membuat kami mengantre panjang dari Sabang sampai Merauke untuk BLSM, dan Menambah jumlah anggota kami.

Sekali lagi terima kasih Pak Presiden, terima kasih juga wahai para tokoh Indonesia, juga tak lupa para mahasiswa yang telah mendukung kebijakan mulia penaikan harga BBM ini. Suatu saat izinkan kami membalas kebaikan kalian semua.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: